Scroll untuk baca artikel
Industri

Talenta Vokasi Dituntut Makin Siap Hadapi Perubahan Kebutuhan Industri

1
×

Talenta Vokasi Dituntut Makin Siap Hadapi Perubahan Kebutuhan Industri

Sebarkan artikel ini
Hands On produk GDM 600-15 dan GFM 1000-15

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA — Perubahan teknologi dan pola kerja industri membuat kebutuhan terhadap tenaga kerja vokasi ikut bergeser. Penguasaan teori dan keterampilan teknis dasar kini perlu dilengkapi pengalaman menggunakan perangkat kerja, memahami prosedur operasional, serta menerapkan standar keselamatan sejak sebelum lulusan masuk ke dunia industri.

Kondisi tersebut mendorong perguruan tinggi vokasi memperkuat pembelajaran berbasis praktik. Mahasiswa tidak hanya dituntut memahami cara kerja suatu sistem, tetapi juga mampu memilih peralatan yang sesuai, membaca hasil pengukuran, mengenali risiko, dan bekerja berdasarkan prosedur keselamatan.

Kebutuhan itu menjadi salah satu konteks kolaborasi Bosch Power Tools dengan Politeknik Negeri Jakarta (PNJ). Bosch memperkenalkan tiga alat ukur kelistrikan, yakni GDM 600-15 Professional Digital Multimeter, GMC 600-15 Professional Clamp Meter, dan GFM 1000-15 Professional Fork Meter.

Ketiga perangkat tersebut selanjutnya digunakan sebagai sarana praktik mahasiswa PNJ. Melalui penggunaan peralatan yang juga diperkenalkan untuk kebutuhan industri, mahasiswa mendapat pengalaman yang lebih dekat dengan kondisi pekerjaan teknis di lapangan.

Kesenjangan Kompetensi Jadi Tantangan

Perubahan kebutuhan keterampilan berlangsung seiring transformasi teknologi di industri. World Economic Forum memperkirakan 39% keterampilan utama pekerja akan berubah atau tidak lagi relevan pada 2030.

Artinya, kesiapan lulusan tidak hanya ditentukan oleh keterampilan yang diperoleh selama masa pendidikan, tetapi juga kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi ketika teknologi dan tuntutan pekerjaan berubah.

Vice President Sales Bosch Power Tools ASEAN Christoph Schmidt mengatakan transformasi industri perlu diikuti kesiapan tenaga kerja dengan fondasi teknis yang kuat.

Baca Juga :   Lazada Perkuat Komitmen Lawan Barang Palsu Dengan Dukungan Teknologi dan Kolaborasi Strategis

“Industri 4.0 mengubah cara perusahaan berproduksi, bekerja, dan menyelesaikan persoalan. Namun, teknologi saja tidak cukup. Dibutuhkan tenaga kerja dengan fondasi teknis yang kuat, mampu memahami teknologi, memecahkan masalah, serta terus belajar dan beradaptasi dengan kebutuhan industri,” ujarnya.

Dari sisi pendidikan vokasi, tantangannya adalah memastikan pembelajaran tidak berhenti pada penguasaan teori. Mahasiswa perlu mendapatkan pengalaman menggunakan teknologi dan peralatan yang relevan dengan kebutuhan pekerjaan.

Direktur Politeknik Negeri Jakarta Dr. Syamsurizal mengatakan kesiapan memasuki dunia kerja juga ditentukan oleh kemampuan nonteknis.

“Keberhasilan di dunia kerja tidak hanya ditentukan oleh hard skill, seperti pengetahuan teknis dan penguasaan alat, tetapi juga soft skill yang kuat. Kemampuan beradaptasi, memahami budaya kerja perusahaan, dan disiplin menjalankan SOP menjadi bekal yang sama pentingnya,” katanya.

Di Jurusan Teknik Elektro PNJ, tingkat serapan lulusan pada 2026 tercatat sekitar 70%. Secara keseluruhan, 41% lulusan PNJ pada wisuda September 2026 telah bekerja atau berwirausaha sebelum menerima ijazah.

Di sisi lain, kebutuhan industri terhadap tenaga kerja masih besar. Kementerian Ketenagakerjaan memperkirakan 17 sektor industri membutuhkan tambahan rata-rata sekitar 750.000 pekerja per tahun hingga 2029, mencakup tenaga profesional dan manajer hingga teknisi serta operator.

Kondisi tersebut membuat hubungan antara pendidikan vokasi dan industri semakin penting. Perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat memperoleh kompetensi, tetapi juga ruang untuk membiasakan mahasiswa dengan perangkat, prosedur, dan budaya kerja yang akan mereka temui setelah lulus.

Alat Kerja Jadi Bagian dari Kompetensi

Dalam pekerjaan kelistrikan, pemilihan alat ukur bukan sekadar persoalan perangkat pendukung. Kondisi instalasi, ruang kerja, jenis pengukuran, hingga risiko yang dihadapi teknisi menentukan peralatan yang digunakan.

Baca Juga :   Volume Penjualan TV Hisense Mencapai Peringkat No. 2 Dunia pada Q1-2024

Bosch memperkenalkan tiga perangkat dengan fungsi berbeda. GMC 600-15 Professional Clamp Meter ditujukan untuk pengukuran arus, sedangkan GFM 1000-15 Professional Fork Meter menggunakan desain garpu terbuka yang memungkinkan pengukuran pada panel dengan susunan kabel padat tanpa perlu memutus sirkuit.

Sementara itu, GDM 600-15 Professional Digital Multimeter digunakan untuk kebutuhan pengujian yang lebih beragam. Perangkat tersebut memiliki perlindungan IP65 dan telah melalui uji jatuh dari ketinggian dua meter.

Ketiga perangkat dilengkapi layar yang dirancang untuk membantu pembacaan hasil pengukuran dalam berbagai kondisi pencahayaan.

Country Business Director Bosch Power Tools Indonesia Edwin Irawan mengatakan pemilihan peralatan yang sesuai merupakan bagian dari kebutuhan pekerjaan teknisi.

“Teknisi listrik di lapangan sering kali menghadapi instalasi beragam dan tenggat waktu yang ketat. Mengandalkan peralatan yang aman dan sesuai standar keselamatan menjadi cara untuk menjaga efisiensi sekaligus meminimalkan risiko kecelakaan,” ujarnya.

Dengan demikian, pengenalan peralatan industri kepada mahasiswa tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengoperasikan produk tertentu. Lebih jauh, praktik tersebut dapat menjadi sarana untuk membangun kebiasaan kerja yang mencakup ketelitian, pemilihan perangkat, efisiensi, dan kepatuhan terhadap prosedur.

Keselamatan Menjadi Bagian dari Kesiapan Kerja

Pada pekerjaan kelistrikan, kompetensi teknis tidak dapat dipisahkan dari aspek keselamatan. International Labour Organization mencatat sekitar tiga juta orang meninggal setiap tahun akibat kecelakaan dan penyakit terkait pekerjaan.

Baca Juga :   Konsul Jenderal RI untuk Victoria dan Tasmania Saksikan MoU TransTRACK dengan Perusahaan Australia

Di Indonesia, Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan juga menempatkan keamanan dan keselamatan sebagai bagian penting dalam penyelenggaraan ketenagalistrikan.

Karena itu, kemampuan menggunakan alat ukur harus berjalan bersama pemahaman terhadap prosedur K3. Teknisi perlu memastikan perangkat dalam kondisi layak, memahami batas penggunaan, memilih alat sesuai kebutuhan pengukuran, serta menggunakan perlengkapan pelindung yang tepat.

Pakar K3 bidang listrik sekaligus dosen kelistrikan Politeknik Negeri Jakarta A. Damar Aji mengatakan kompetensi tenaga kelistrikan tidak hanya mencakup keterampilan teknis, tetapi juga sikap kerja dan kemampuan menerapkan pengetahuan pada situasi berbeda.

“Dari sisi pengguna, alat yang aman juga harus tangguh dan nyaman digunakan. Ketahanan terhadap debu, air, dan benturan serta desain yang ergonomis membantu mengurangi risiko kerja tanpa mengorbankan kualitas dan produktivitas,” katanya.

Aspek tersebut menjadi semakin penting ketika teknisi berhadapan dengan sistem bertegangan atau instalasi yang tidak dapat dimatikan. Dalam kondisi demikian, ketepatan pengukuran harus berjalan beriringan dengan prosedur K3 dan pemilihan peralatan yang sesuai.

Pada akhirnya, tantangan pendidikan vokasi bukan hanya menghasilkan lulusan yang mampu mengerjakan pekerjaan teknis, tetapi juga tenaga kerja yang memahami bagaimana pekerjaan dilakukan secara tepat, efisien, dan aman.

Kolaborasi antara institusi pendidikan dan industri menjadi salah satu cara untuk memperkecil jarak tersebut. Semakin dekat pengalaman belajar mahasiswa dengan praktik di lapangan, semakin besar ruang bagi mereka untuk memahami bahwa kompetensi kerja tidak berhenti pada kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga mencakup ketelitian, adaptasi, disiplin prosedur, dan keselamatan.