Studi global Zurich menemukan 88% pekerja dengan tingkat resilience tertinggi melaporkan kinerja baik atau sangat baik, dibandingkan 44% pada kelompok terendah. Zurich mendorong perusahaan menjadikan wellbeing sebagai strategi bisnis. Sementara itu, konsultasi gangguan kecemasan di Halodoc meningkat 47,2% pada semester I/2026.
BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Ketahanan individu atau resilience semakin menjadi faktor penting dalam menjaga produktivitas tenaga kerja di tengah ketidakpastian ekonomi, percepatan transformasi digital, dan meningkatnya tantangan kesehatan.
Studi global Zurich bertajuk The Resilient Workforce menemukan bahwa 88% pekerja dengan tingkat resilience tertinggi melaporkan kinerja kerja baik atau sangat baik. Angka tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan dengan pekerja yang memiliki tingkat ketahanan terendah, yakni 44%.
Temuan ini memperlihatkan bahwa produktivitas tidak semata-mata ditentukan oleh keterampilan, pengalaman, maupun tingkat pendapatan. Kemampuan individu menjaga kesehatan fisik dan mental, mengelola tekanan, serta beradaptasi terhadap perubahan turut memengaruhi performa kerja.
Country Manager Zurich Indonesia sekaligus Direktur Utama PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk. Edhi Tjahja Negara mengatakan, perusahaan perlu memperluas pendekatan pengelolaan sumber daya manusia dengan menempatkan kesehatan dan kesejahteraan karyawan sebagai bagian dari strategi bisnis jangka panjang.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam rangkaian perayaan 35 tahun kehadiran Zurich di Indonesia. Dalam kesempatan yang sama, Zurich mempertemukan sejumlah pakar penelitian, layanan kesehatan, dan teknologi kesehatan untuk membahas masa depan kesehatan serta ketahanan tenaga kerja.
“Selama 35 tahun hadir di Indonesia, kami melihat bahwa kebutuhan perlindungan terus berkembang. Saat ini, perusahaan tidak hanya menghadapi risiko bisnis yang semakin kompleks, tetapi juga tantangan untuk menjaga kesehatan, keterlibatan, dan produktivitas tenaga kerja. Karena itu, membangun workforce resilience bukan lagi sekadar inisiatif sumber daya manusia, melainkan bagian dari strategi bisnis jangka panjang,” ujar Edhi.
Dalam agenda tersebut, Zurich Indonesia juga memperkenalkan Corporate Wellbeing Awards 2026. Program ini ditujukan untuk mengapresiasi perusahaan yang menerapkan praktik kerja guna mendukung kesehatan fisik, mental, sosial, dan finansial karyawan, sekaligus menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan berkelanjutan.
Konsep resilience dalam dunia kerja tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghadapi tekanan, tetapi juga kapasitas individu untuk beradaptasi dan pulih ketika menghadapi perubahan. Riset Zurich bersama kalangan akademisi menunjukkan bahwa ketahanan tenaga kerja dipengaruhi sejumlah faktor yang saling berkaitan, mulai dari kesehatan fisik dan mental, hubungan sosial, keamanan finansial, hingga kemampuan beradaptasi dengan teknologi digital.
Professor of Economics and Behavioural Science di Saïd Business School, University of Oxford sekaligus Director of the Wellbeing Research Centre, Prof. Jan-Emmanuel De Neve, yang mengembangkan riset tersebut bersama Zurich, mengatakan kesejahteraan individu memiliki hubungan erat dengan produktivitas.
Menurutnya, pekerja yang memiliki dukungan memadai untuk menjaga berbagai aspek kesejahteraan cenderung lebih siap menghadapi perubahan dan memberikan kontribusi lebih baik kepada organisasi.
“Selama ini produktivitas sering dipandang sebagai hasil dari keterampilan, pengalaman, atau insentif. Namun, data kami menunjukkan bahwa pekerja yang lebih resilien cenderung memiliki kinerja yang lebih baik. Ketika individu memiliki dukungan yang memadai untuk menjaga kesehatan fisik, psikologis, sosial, finansial, dan digital mereka, mereka cenderung lebih siap menghadapi perubahan dan mampu memberikan kontribusi yang lebih baik bagi organisasi,” ujarnya.
Selain kesejahteraan sehari-hari, kondisi kesehatan jangka panjang juga menjadi tantangan bagi produktivitas tenaga kerja. Peningkatan angka harapan hidup diikuti dengan kebutuhan pengelolaan penyakit kronis, seperti diabetes dan penyakit kardiovaskular, yang dapat memengaruhi kualitas hidup serta meningkatkan beban biaya kesehatan individu maupun perusahaan.
Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas YARSI sekaligus Profesor Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P (K), MARS, DTM&H, DTCE, FISR, mengatakan ketahanan individu perlu dibangun melalui kebiasaan menjaga kesehatan sejak seseorang masih dalam kondisi sehat.
Dia mendorong penerapan perilaku CERDIK, yakni cek kesehatan secara berkala, enyahkan asap rokok, rajin beraktivitas fisik, diet sehat dengan kalori seimbang, istirahat cukup, dan kelola stres.
“Ketahanan diri (resilience) perlu dibangun melalui kesadaran untuk menjaga kesehatan, bukan hanya ketika sakit, tetapi juga saat kondisi tubuh masih sehat. Hal ini dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti menerapkan perilaku CERDIK. Namun, upaya ini perlu didukung literasi kesehatan yang baik, lingkungan yang kondusif, serta akses layanan kesehatan yang bermutu agar masyarakat mampu menjaga kesehatan dan tetap produktif dalam jangka panjang,” jelasnya.
Tantangan lainnya datang dari aspek kesehatan mental. Tekanan psikologis yang tidak dikelola dapat memengaruhi kondisi fisik, kesejahteraan, hingga kemampuan seseorang menjalankan pekerjaan.
CEO dan Co-Founder Halodoc Jonathan Sudharta mengungkapkan, konsultasi terkait gangguan kecemasan (anxiety) di platform Halodoc pada semester I/2026 meningkat 47,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurutnya, peningkatan tersebut memperlihatkan pentingnya kesadaran masyarakat terhadap keterkaitan kesehatan mental dan fisik, termasuk keberanian untuk mencari bantuan profesional ketika diperlukan.
“Kesehatan mental memiliki kaitan erat dengan kondisi fisik, bahkan tekanan psikologis yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan dampak nyata bagi tubuh. Hal ini semakin relevan mengingat konsultasi terkait gangguan kecemasan (anxiety) di Halodoc pada semester I 2026 meningkat 47,2% dibandingkan dengan semester I 2025. Kepedulian terhadap kesehatan ini pun perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, mulai dari mengenali kondisi diri hingga mencari bantuan profesional ketika dibutuhkan,” ujarnya.
Zurich menilai pembangunan tenaga kerja yang tangguh membutuhkan kolaborasi antara perusahaan, penyedia layanan kesehatan, pembuat kebijakan, dan masyarakat. Dengan demikian, program kesejahteraan karyawan tidak lagi dipandang sebagai fasilitas tambahan, melainkan investasi untuk menjaga produktivitas dan keberlanjutan bisnis.
“Ke depan, perusahaan yang mampu berkembang adalah perusahaan yang mampu memberdayakan manusia di balik bisnisnya. Ketika karyawan merasa sehat, terlindungi, dan siap menghadapi perubahan, mereka tidak hanya menjadi lebih produktif, tetapi juga lebih resilien. Itulah fondasi bagi pertumbuhan yang berkelanjutan,” tutur Edhi.
Zurich Indonesia terdiri atas PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk., PT Zurich General Takaful Indonesia, dan PT Zurich Topas Life yang seluruhnya berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).











