BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA — Ancaman keamanan siber di kawasan Asia Pasifik menunjukkan tren peningkatan signifikan, terutama pada lapisan aplikasi dan Application Programming Interface (API).
Berdasarkan data Akamai Technologies, sepanjang 2025 tercatat sebanyak 65 miliar serangan siber yang menargetkan aplikasi dan API di wilayah Asia Pasifik.
Lonjakan serangan tersebut menegaskan bahwa API kini menjadi salah satu titik paling krusial sekaligus rentan dalam ekosistem digital modern.
Di tengah meningkatnya penggunaan layanan berbasis cloud, aplikasi mobile, dan integrasi lintas platform, API memiliki peran penting dalam menghubungkan berbagai layanan digital. Namun, kompleksitas tersebut juga membuka peluang baru bagi pelaku kejahatan siber.
Serangan terhadap API dinilai tidak hanya berdampak pada gangguan teknis, tetapi juga berpotensi memicu kebocoran data sensitif, menurunkan kepercayaan pelanggan, hingga menimbulkan kerugian finansial bagi perusahaan.
Direktur PT Nusa Network Prakarsa, Edward, mengatakan perubahan pola serangan siber harus direspons dengan pendekatan keamanan yang lebih strategis.
“Serangan terhadap API bukan lagi sekadar isu teknis, tetapi sudah menjadi risiko bisnis yang nyata. Dengan meningkatnya jumlah serangan yang begitu masif, perusahaan perlu menjadikan keamanan siber sebagai prioritas utama,” ujar Edward dalam keterangan resmi.
Menurut dia, pendekatan keamanan yang bersifat reaktif tidak lagi memadai untuk menghadapi lanskap ancaman digital saat ini.
Perusahaan dinilai perlu mengadopsi strategi yang lebih proaktif, termasuk penggunaan teknologi yang mampu mendeteksi dan merespons ancaman secara cepat dan akurat.
Dalam kondisi tersebut, peran mitra teknologi menjadi semakin penting untuk membantu perusahaan mengelola kompleksitas sistem sekaligus memperkuat pertahanan digital.
PT Nusa Network Prakarsa menyebut pendekatan keamanan terintegrasi, mulai dari identifikasi kerentanan hingga pemantauan sistem secara berkelanjutan, menjadi faktor penting dalam menghadapi ancaman siber yang terus berkembang.
Sebagai perusahaan system integrator, Nusa Network juga mendorong penguatan keamanan jaringan, perlindungan aplikasi, serta optimalisasi sistem yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing industri.
Menurut perusahaan, setiap sektor memiliki tantangan dan tingkat risiko berbeda dalam mengelola keamanan digital sehingga membutuhkan pendekatan perlindungan yang lebih adaptif.
Di tengah percepatan transformasi digital, keamanan siber dinilai menjadi fondasi penting untuk menjaga stabilitas bisnis dan keberlanjutan operasional perusahaan.











