BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA — Investasi pada kesehatan remaja semakin dipandang sebagai bagian penting dari strategi pembangunan jangka panjang, terutama ketika Indonesia menghadapi meningkatnya faktor risiko penyakit tidak menular (PTM) di kelompok usia muda.
AstraZeneca melalui Young Health Programme (YHP) memperpanjang kemitraannya dengan UNICEF untuk lima tahun ke depan di Indonesia. Kolaborasi tersebut didukung investasi sebesar US$1,3 juta dan diarahkan untuk memperluas pencegahan PTM, meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan yang responsif terhadap kebutuhan remaja, serta memperkuat partisipasi generasi muda dalam kebijakan kesehatan.
Secara global, AstraZeneca menyatakan investasi melalui YHP telah mencapai lebih dari US$100 juta sejak program tersebut diluncurkan pada 2010 hingga 2030. Dalam 15 tahun, program itu disebut telah menjangkau 23 juta anak muda secara langsung di lebih dari 60 negara, melatih lebih dari 1 juta orang, serta mendukung advokasi anak muda yang berkontribusi terhadap perubahan 29 undang-undang dan kebijakan.
Menurut kajian RTI International yang dikutip dalam program tersebut, setiap US$1 investasi YHP menghasilkan manfaat sosial sekitar US$4,30. Angka itu menunjukkan bahwa intervensi kesehatan pada usia muda tidak hanya berkaitan dengan pencegahan penyakit, tetapi juga memiliki nilai sosial dan ekonomi dalam jangka panjang.
Hampir 46 Juta Remaja
Urgensi investasi kesehatan remaja di Indonesia tidak lepas dari besarnya populasi kelompok usia tersebut. Data UNICEF menunjukkan Indonesia memiliki hampir 46 juta remaja berusia 10–19 tahun. Kelompok ini menghadapi tantangan kesehatan yang semakin kompleks, mulai dari PTM, penggunaan tembakau dan rokok elektronik, gangguan kesehatan jiwa hingga risiko cedera.
Risiko tersebut juga berkaitan dengan perubahan pola hidup. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik dan paparan tembakau merupakan sejumlah faktor risiko penting PTM yang dapat mulai terbentuk sejak masa kanak-kanak dan remaja.
Persoalan berat badan juga menjadi bagian dari tantangan tersebut. Data WHO menunjukkan prevalensi obesitas pada anak dan remaja usia 5–19 tahun di Indonesia mencapai 10,8% pada 2022. Secara global, lebih dari 390 juta anak dan remaja usia 5–19 tahun mengalami kelebihan berat badan pada 2022.
Sementara itu, penggunaan produk tembakau dan nikotin masih menjadi perhatian. Data Global School-Based Student Health Survey 2023 menunjukkan 23% remaja usia 13–17 tahun menggunakan produk tembakau, sedangkan penggunaan rokok elektronik mencapai sekitar 12,6%.
Kondisi tersebut membuat pendekatan pencegahan sejak sekolah dan komunitas menjadi semakin relevan. Selain edukasi, intervensi membutuhkan dukungan layanan kesehatan, skrining, konseling serta lingkungan yang membantu remaja mempertahankan perilaku hidup sehat.
Kemitraan AstraZeneca-UNICEF
Di Indonesia, kemitraan AstraZeneca dan UNICEF melalui YHP telah berjalan sejak 2020 dengan fokus pada kesehatan remaja dan pencegahan PTM.
Selama periode tersebut, program mengklaim telah menjangkau 2,5 juta anak muda, melatih lebih dari 25.000 remaja dan 350 advokat muda, serta membekali 120 pemimpin muda untuk berkontribusi dalam penyusunan pedoman kesehatan remaja nasional.
Program juga menjalankan skrining penggunaan tembakau di Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatan.
Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah menggabungkan edukasi, skrining dan konseling dengan program kesehatan sekolah serta layanan kesehatan ramah remaja di fasilitas kesehatan primer. Pendekatan serupa telah diterapkan dalam program pencegahan rokok di sejumlah wilayah.
Dalam konteks kebijakan, penguatan pengendalian tembakau juga telah menjadi bagian dari regulasi nasional. PP No. 28/2024 antara lain melarang penjualan produk tembakau dan rokok elektronik kepada orang berusia di bawah 21 tahun serta mengatur pembatasan penjualan di sekitar satuan pendidikan dan tempat bermain anak.
Kemitraan YHP dan UNICEF juga disebut berkontribusi dalam penyusunan pedoman pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah, termasuk melalui uji coba di sejumlah sekolah di Jakarta dan Banten sebelum pelaksanaan secara nasional.
Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia Esra Erkomay mengatakan investasi pada kesehatan generasi muda merupakan bagian dari pembangunan masa depan Indonesia.
“Investasi pada kesehatan generasi muda berarti investasi bagi masa depan Indonesia.”
Menurut dia, melalui kemitraan berkelanjutan dengan UNICEF, YHP diarahkan untuk memperkuat kapasitas generasi muda agar mampu mengambil keputusan yang lebih sehat, mencegah PTM dan ikut membangun lingkungan yang mendukung kehidupan sehat.
Tiga Fokus Baru
Untuk periode lima tahun mendatang, kolaborasi AstraZeneca dan UNICEF akan diarahkan pada tiga prioritas.
Pertama, mendorong perilaku hidup sehat dan memperkuat peran aktif generasi muda. Upaya ini mencakup edukasi mengenai PTM melalui sekolah, komunitas dan platform digital.
Kedua, memperkuat lingkungan dan layanan yang responsif terhadap kebutuhan remaja, termasuk peningkatan kesadaran, skrining, tindak lanjut serta kapasitas tenaga kesehatan dan guru dalam memberikan konseling dan pendampingan.
Ketiga, mendukung penguatan kebijakan, bukti dan sistem kesehatan remaja, dengan melibatkan pemangku kepentingan lintas sektor.
Perwakilan UNICEF Indonesia Thomas Davin mengatakan kemitraan lima tahun ke depan akan memperluas upaya agar lebih banyak remaja menerapkan perilaku sehat sekaligus menghadapi dampak perubahan iklim terhadap kesehatan dan kesejahteraan mereka.
“Tujuan kami adalah berkontribusi pada upaya menciptakan perubahan positif yang berkelanjutan dalam kesehatan remaja dan pencegahan penyakit tidak menular,” ujarnya.
Dengan hampir 46 juta remaja, kesehatan kelompok usia 10–19 tahun menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia menuju 2045. Tantangannya bukan hanya memastikan remaja memiliki akses terhadap layanan kesehatan, tetapi juga membangun sistem yang memungkinkan mereka memperoleh informasi, melakukan pencegahan dan berpartisipasi dalam keputusan yang memengaruhi kesehatan mereka.











