BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA-Peringatan Bulan Inklusi Keuangan di provinsi DKI Jakarta dimeriahkan melalui gelaran Jakarta Financial Festival 2026 yang digelar di Blok M Square, Jakarta Selatan, pada 23–24 Oktober 2026.
Kegiatan yang menjadi gelaran perdana secara regional di DKI Jakarta ini bekerja sama dengan Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan (FKIJK) DKI Jakarta bertujuan agar generasi muda melek terkait masalah finansial.
Selain itu, kegiatan ini merupakan rangkaian seremonial atas pelaksanaan program Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) DKI Jakarta, salah satunya program Digitalisasi Pasar Inklusif.
Adapun melalui kegiatan ini sendiri bertujuan untuk membuka akses keuangan seluas-luasnya bagi warga Jakarta, lalu meningkatkan sinergi antar kementerian maupun lembaga.
Tak lupa ikut mendorong perluasan inklusi keuangan digital, serta ikut meningkatkan proteksi perlindungan konsumen secara masif.
Dalam salah satu sesi diskusi bertajuk “Sehat Finansial, Sehat Badan, Sehat Jakarta”, hadir None Jakarta 2026 Dokter Citra Poerwa, sebagai narasumber utama.
Diskusi ini juga menghadirkan Pemimpin Grup Dana Ritel & Transaksional Bank Jakarta, Yuniar T. Manik, serta Corporate Credit Analyst Bank Jakarta Dedi Akhmadi.
Dalam paparannya, Citra menjelaskan definisi sehat secara holistik yang tidak terbatas pada fisik semata, melainkan mencakup kesiapan mental dan sosial.
“Berdasarkan definisinya sendiri, sehat itu ada tiga aspek. Sehat fisik, sehat mental, dan juga sehat sosial. Jadi bukan semata-mata tubuhnya saja, tapi pikiran kita nih, mentalnya bagaimana dalam menghadapi sehari-hari dan juga sosial, interaksi dengan lingkungan sekitarnya,” kata Citra dalam sesi diskusi, Sabtu (24/10/2026).
Lebih lanjut, Citra menekankan bahwa menjaga kesehatan sejak usia muda merupakan bentuk investasi jangka panjang agar seseorang tetap terus produktif hingga usia lanjut.
Untuk itu, agar dapat menjaga kebugaran fisik di tengah kesibukan kerja yang padat, dia pun ikut menyarankan masyarakat untuk pandai memanfaatkan waktu luang dengan bergerak aktif secara konsisten.
Dia mencontohkan apabila fisik, aktivitas fisik tentunya harus dijaga. Kalau misalkan kita sekarang terlalu sibuk nih kerja, meeting sana sini, waktunya banyak habis di jalan, itu kan sebetulnya kita harus bisa yang namanya curi-curi waktu.
“Misalkan kita enggak sempat nih untuk ke tempat olahraga, untuk nge-gym, kita siasatin setiap habis makan itu kita jalan kaki lah. Jalan kaki lah 10 sampai 15 menit. Yang adem-adem aja di dalam kantor juga boleh, yang penting kita bergerak,” tutur Citra.
Selain pergerakan fisik, mengontrol pola makan yang seimbang serta menyaring beban pikiran (mindful) turut memengaruhi kestabilan hidup harian.
Citra membeberkan bahwa tekanan atau stres finansial memiliki keterkaitan erat yang dapat berpotensi menurunkan kualitas kesehatan mental dan fisik seseorang.
“Ada jurnalnya yang betul membahas kalau stres finansial itu berpengaruh terhadap kesehatan mental dan juga fisik. Jadi kita harus bisa gimana caranya manage agar kita bisa lebih gimana caranya menghadapi permasalahan itu satu per satu lah. Nanti kalau misalkan dirasa sudah butuh bantuan profesional, jangan segan-segan untuk minta bantuan profesional,” kata Citra.
Adapun ketika merespons pertanyaan mengenai tantangan yang dihadapi oleh generasi pelapis (sandwich generation) dalam membagi porsi finansial pribadi dan keluarga, Citra pun coba menyarankan agar selalu mengedepankan skala prioritas.
Menurutnya, pemenuhan akan kebutuhan dasar manusia harus diutamakan terlebih dahulu sebelum mengalokasikan dana untuk kebutuhan sekunder maupun tersier.
“Mungkin kalau dari saya, kalau saya mungkin lebih ke kebutuhan dasarnya dulu ya yang harus dipenuhi. Antara kebutuhan diri sendiri dan keluarga pasti ada kebutuhan dasarnya dulu nih, baru yang sekunder yang tersiernya,” ucap Citra.











