Scroll untuk baca artikel
Lifestyle

FFH Support Film Horor Tanah Air Angkat Budaya Lokal, Rarangken Suguhkan Misteri Sunda

3
×

FFH Support Film Horor Tanah Air Angkat Budaya Lokal, Rarangken Suguhkan Misteri Sunda

Sebarkan artikel ini

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA-Keanekaragaman genre film horor tanah air saat ini dibarengi dengan semakin keberanian mengeksplorasi kekayaan budaya lokal sebagai sumber cerita.

Tak melulu mengandalkan penampakan hantu dan adegan mengejutkan, mitos hingga kepercayaan leluhur yang begitu beragam kini menjadi daya tarik tersendiri di layar lebar.

Salah satunya contohnya film horor produksi PAS Production berjudul RARANGKEN, yang coba menghadirkan film horor yang menyuguhkan keragaman budaya tanah air budaya Sunda dengan misteri dan teror supranatural.
Hal menarik dari film Rarangken  pengangkatan kepercayaan leluhur masyarakat Pasundan terhadap benda-benda yang diyakini memiliki kekuatan magis. Film ini mengajak penonton menyelami rahasia masa lalu yang terus menghantui generasi berikutnya.

Produser film Rarangken, Wan Emily Sjahrir, mengatakan sebuah film termasuk genre horor harus memiliki sesuatu yang membedakannya dari karya lain.
Dia pun tak ingin film horor sekadar mengulang formula yang sudah sering disajikan kepada penonton. Menurutnya, keberanian mengeksplorasi budaya lokal bisa menjadi jalan untuk menghadirkan tontonan berbeda.
Baca Juga :   KYUHYUN Tampil Memukau di Kaohsiung Korsel

“Film itu harus ada pembedanya. Kalau sama, sebaiknya tak perlu buat, tetapi nonton saja. Kalau ingin membuat film, harus out of the box, keluar dari kebiasaan, terutama dari unsur budayanya,” kata Wan Emily.

Ambu Rd Sonia Soema menjelaskan, Rarangken dalam cerita film ini merujuk pada perhiasan atau benda tertentu yang dipercaya menyimpan kekuatan supranatural.

Benda itu berkaitan erat dengan ritual adat, termasuk sejumlah pantangan yang tidak boleh dilanggar. Menurut Ambu Sonia, benda yang menjadi inspirasi cerita tersebut disebut berasal dari wilayah Majalengka, Jawa Barat.

Dalam kepercayaan yang diangkat ke layar lebar itu, siapa pun yang melanggar aturan ketika membuka atau menyentuh benda tersebut diyakini dapat mendatangkan malapetaka. Unsur inilah yang kemudian dikembangkan menjadi kisah horor dengan latar tradisi Sunda.

Sementara itu, Tsania Prilla pun mengakui bahwa keterlibatannya dalam film Rarangken memberikan pengalaman baru, terutama dalam mengenal budaya leluhurnya sendiri.

Meski memiliki latar keluarga Sunda, ia mengaku sebelumnya belum memahami secara mendalam makna Rarangken dan berbagai kepercayaan yang melingkupinya.

Baca Juga :   Perfect Corp Luncurkan AI Clothes Try-On untuk Permudah Konsumen Temukan Gaya Fashion Ideal

Melalui film tersebut, ia mendapat kesempatan menggali lebih jauh kekayaan tradisi masyarakat Pasundan. Film Rarangken sendiri memadukan misteri keluarga, legenda Sunda, dan kutukan yang diwariskan lintas generasi.
Diproduseri Wan Emily Sjahrir, dengan Tsani Prilia sebagai executive producer dan R.G.H. sebagai sutradara, film ini mengikuti perjalanan Ranti yang diperankan Vanny Meisella.
Kisah bermula ketika Ranti kembali ke rumah tua peninggalan keluarganya bersama empat sahabat. Namun, kedatangan mereka justru menjadi awal dari serangkaian kejadian mengerikan.

Teror muncul setelah sebuah benda misterius bernama Rarangken dipindahkan dari tempatnya. Tindakan tersebut tanpa disadari membangkitkan sosok Nyi Larang, yang menyimpan hubungan dengan tragedi kelam pada masa lalu.

Selain Vanny Meisella, film ini turut dibintangi Tsani Prilia sebagai Mira, Yama Carlos sebagai Arman, Ika Kartika sebagai Dian, Ambu Rd Sonia Soema sebagai tetua adat, Achmad Bayhaqi A sebagai Dimas, Taufiq Hidayat sebagai Raka, serta Fardan Tamaela sebagai Jati.Ada pula Zara sebagai Rara, Tiara Khorunisa sebagai Ami, Felicia sebagai Ranti kecil, dan Bhadra sebagai Jati kecil.

Baca Juga :   CEO Kerry Group : Konsumen Menaruh Kepercayaan pada Sistem Pangan

Melalui Rarangken, PAS Productions berupaya menghadirkan film horor yang tak hanya menawarkan ketegangan, tetapi juga memperkenalkan kembali mitos dan warisan budaya Sunda kepada generasi muda.

Sementara itu, dalam diskusi Festival Film Horor (FFH) edisi ke-11 ingin menegaskan bahwa kekayaan budaya Nusantara masih menyimpan banyak potensi untuk dikembangkan menjadi cerita film.

Sebab, ketakutan dalam film horor tak selalu datang dari sosok menyeramkan. Terkadang, justru lahir dari rahasia leluhur dan pantangan yang diwariskan turun-temurun.
Dalam diskusi ini imenghadirkan budayawan sekaligus sastrawan Fanny G Poyk, produser Wan Emily Sjahrir, anggota Dewan Penasihat MASDA Ambu Rd Sonia Soema, serta Tsania Prilla. Acara dipandu Alyne Malarif dan Cank Mail, dengan Mesya Siregar sebagai pembawa acara.
Diskusi kali ini menghadirkan budayawan sekaligus sastrawan Fanny G Poyk, produser Wan Emily Sjahrir, anggota Dewan Penasihat MASDA Ambu Rd Sonia Soema, serta Tsania Prilla. Acara dipandu Alyne Malarif dan Cank Mail, dengan Mesya Siregar sebagai pembawa acara.