BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA — Mendengar istilah bedah robotik masih membuat sebagian pasien membayangkan sebuah mesin yang bergerak sendiri dan mengambil keputusan selama operasi. Padahal, dalam prosedur bedah robotik, robot bukanlah pihak yang menentukan tindakan.
Dokter tetap menjadi pengendali utama. Setiap gerakan instrumen dilakukan melalui konsol yang dioperasikan langsung oleh dokter bedah.
Hal tersebut disampaikan dr. Sita Ayu Arumi, Sp.OG, M.Sc. (Humrepro), FESICOG, MIGS, dokter spesialis obstetri dan ginekologi RS Bunda Jakarta yang sejak 2013 menjadi dokter perempuan pertama yang bergabung dalam tim bedah robotik ginekologi di Indonesia.
Saat teknologi tersebut mulai diperkenalkan di RSU Bunda Jakarta pada 2012, bedah robotik masih menjadi sesuatu yang relatif baru bagi pasien maupun tenaga medis.
“Awalnya terasa sangat berbeda. Saya juga harus membangun kepercayaan terhadap teknologinya,” kata Sita.
Berbeda dari operasi konvensional, dokter dalam bedah robotik tidak berdiri langsung di sisi meja operasi untuk menggerakkan instrumen dengan tangan. Dokter duduk di depan konsol beberapa meter dari pasien dan mengendalikan instrumen robotik melalui tangan dan jari.
Namun, posisi tersebut tidak berarti dokter kehilangan kendali atas prosedur.
Robot Tidak Mengambil Keputusan
Sita mengatakan salah satu kesalahpahaman yang paling sering muncul adalah anggapan bahwa robot bekerja secara otomatis selama operasi.
“Robot ini alat bantu, bukan pengambil keputusan. Semua gerakan di dalam tubuh pasien itu dokter yang kendalikan, dari awal sampai akhir tindakan,” jelasnya.
Dengan kata lain, ketika tangan dokter berhenti, instrumen robotik juga tidak bergerak secara mandiri.
Sistem robotik memang memiliki sejumlah fitur yang dirancang untuk membantu dokter, salah satunya tremor filter yang dapat menyaring getaran kecil tangan sehingga gerakan instrumen menjadi lebih stabil.
Sebelum prosedur dilakukan, sistem juga melalui pemeriksaan keamanan untuk memastikan seluruh perangkat dan instrumen berada dalam kondisi yang sesuai.
Teknologi tersebut pada dasarnya memperluas kemampuan dokter dalam melakukan prosedur minimal invasif. Keputusan mengenai jaringan yang ditangani, tindakan yang dilakukan, hingga batas operasi tetap berada di tangan dokter berdasarkan kondisi pasien.
“Kalau tangan saya diam, instrumennya juga diam. Robot ini membantu saya bergerak lebih presisi dari tangan ‘telanjang’, tapi soal jaringan mana yang diangkat dan sejauh mana batasnya, itu murni keputusan dokter,” ujar Sita.
Bukan Berarti Semua Operasi Harus Robotik
Bedah robotik juga bukan berarti menjadi pilihan untuk seluruh pasien atau semua jenis operasi. Metode operasi tetap ditentukan berdasarkan diagnosis, kondisi pasien, kompleksitas kasus, serta pertimbangan medis dokter.
Dalam kasus yang sesuai, pendekatan minimal invasif dapat memberikan sejumlah keuntungan dibandingkan operasi terbuka, seperti sayatan yang lebih kecil dan masa pemulihan yang relatif lebih singkat.
Sita mengatakan teknologi tersebut telah digunakan untuk menangani sejumlah kasus ginekologi kompleks, termasuk mioma multipel berukuran besar, kista dengan perlengketan luas, serta endometriosis berat yang melibatkan sejumlah organ di sekitar rahim.
Salah satu pertimbangan penting dalam kasus ginekologi adalah upaya mempertahankan fungsi reproduksi pasien apabila secara medis memungkinkan.
Pada pasien tertentu dengan mioma, misalnya, pendekatan robotik dapat membantu dokter melakukan pengangkatan miom dengan tetap mempertahankan rahim.
“Pada pasien yang memenuhi indikasi, teknologi robotik dapat membantu dokter melakukan pengangkatan miom dengan tetap mempertahankan rahim. Ini penting, terutama bagi pasien usia reproduktif yang sebelumnya mungkin harus menghadapi pilihan jauh lebih berat,” jelasnya.
Meski demikian, mempertahankan rahim bukan berarti selalu menjadi pilihan atau tujuan yang dapat dicapai pada setiap kasus. Keputusan tetap bergantung pada kondisi individual pasien dan penilaian dokter.
Pengalaman Tim Tetap Menjadi Faktor Penting
Kehadiran teknologi baru juga tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan terhadap kompetensi dokter dan kesiapan tim medis.
Direktur Utama PT Bundamedik Tbk Agus Heru Darjono mengatakan dokter yang menangani bedah robotik di jaringan rumah sakit BMHS menjalani pelatihan dan sertifikasi khusus. Untuk kasus dengan tingkat kompleksitas tertentu, penanganan juga melibatkan tim multidisiplin.
“Setiap dokter yang menangani kasus bedah robotik di seluruh jaringan rumah sakit BMHS melalui pelatihan dan sertifikasi khusus. Untuk kasus kompleks, penanganannya pun melibatkan tim multidisiplin,” jelasnya.
Sita mengatakan penguasaan teknologi robotik membutuhkan proses panjang. Dokter tidak hanya perlu memahami cara mengoperasikan sistem, tetapi juga membangun pengalaman dalam menangani berbagai karakteristik kasus.
“Kompetensi menangani kasus robotik tidak instan. Butuh waktu bertahun-tahun sampai saya benar-benar nyaman menghadapi kasus kompleks, dan itu masih terus berkembang,” ujarnya.
Karena itu, bagi pasien yang mempertimbangkan bedah robotik, pertanyaan yang perlu dibahas dengan dokter bukan hanya mengenai teknologi yang digunakan. Pasien juga perlu memahami alasan metode tersebut dipilih, manfaat dan risikonya, alternatif tindakan yang tersedia, serta pengalaman tim yang akan menangani prosedur.
Bagi Sita, pemahaman bahwa robot hanyalah alat bantu merupakan langkah awal untuk menghilangkan kekhawatiran pasien.
“Teknologinya bisa saja sama, tetapi pengalaman dokter dan kesiapan tim tetap punya peran sangat penting dalam tindakan,” katanya.
Setelah lebih dari satu dekade menggunakan teknologi tersebut, ia masih kerap mendapat pertanyaan yang sama dari pasien: apakah benar mereka akan dioperasi oleh robot?
Jawabannya sederhana.
“Robotnya membantu saya. Tapi dokter yang mengoperasi,” ujar Sita.











