Scroll untuk baca artikel
Industri

Transisi Energi di Cirata Dorong Perempuan Jadi Pelaku Ekonomi

2
×

Transisi Energi di Cirata Dorong Perempuan Jadi Pelaku Ekonomi

Sebarkan artikel ini
Forum multipihak membahas penguatan peran perempuan dalam transisi energi di wilayah PLTS Terapung Cirata, Purwakarta, melalui akses terhadap pelatihan, pembiayaan, peluang ekonomi, dan pengambilan keputusan.

BISNISASIA.CO.ID, PURWAKARTA — Transisi energi di sekitar PLTS Terapung Cirata mulai diarahkan tidak hanya pada pengembangan infrastruktur energi bersih, tetapi juga penguatan peran masyarakat, khususnya perempuan, dalam aktivitas ekonomi dan pengambilan keputusan di tingkat lokal.

Pemerintah Kabupaten Purwakarta bersama Rumah Energi mendorong perempuan di empat desa Kecamatan Maniis untuk memiliki akses yang lebih besar terhadap pelatihan, pembiayaan, peluang usaha, serta ruang partisipasi dalam pembangunan energi.

Upaya tersebut dibahas dalam Forum Multipihak bertajuk “Membangun Transisi Energi yang Inklusif dan Responsif Gender di Wilayah PLTS Terapung Cirata” yang berlangsung di Aula Janaka, Sekretariat Daerah Kabupaten Purwakarta, Rabu (23/9/2026).

Forum tersebut mempertemukan pemerintah, pelaku sektor energi dan lembaga keuangan, antara lain PT PLN Nusantara Power, PT PMSE, Perum Jasa Tirta II, Bank BRI, dan Bank BJB. Pertemuan ini diarahkan untuk mempertemukan kebutuhan masyarakat dengan akses program pemerintah, pembiayaan, dan peluang ekonomi yang muncul di sekitar pengembangan energi bersih.

Perempuan dan Peluang Ekonomi

Sekretaris Daerah Kabupaten Purwakarta Sri Jaya Midan mengatakan pengembangan transisi energi membutuhkan kolaborasi lintas sektor agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat di sekitar proyek.

“Keberhasilan dari program transisi energi yang inklusif tidak dapat tercapai apabila berjalan secara parsial. Pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri. Kita memerlukan kolaborasi dan sinergi yang kuat dengan pemerintah pusat, sektor swasta, hingga lembaga perbankan untuk memastikan program ini memberikan multiplier effect bagi warga lokal,” ujarnya.

Baca Juga :   Beijing Week Resmi Dibuka di Paviliun Tiongkok Expo 2025 Osaka, Hadirkan Pesona Budaya dan Inovasi Ibu Kota Tiongkok

Menurut Sri, kawasan PLTS Terapung Cirata dan Kecamatan Maniis dapat menjadi salah satu lokasi percontohan dalam pengembangan transisi energi yang memperhatikan keterlibatan masyarakat.

Asisten Deputi Peningkatan Partisipasi Masyarakat Bidang Pengarusutamaan Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) Nani Dwi Wahyuni menilai aspek pemberdayaan ekonomi perempuan perlu ditempatkan dalam agenda transisi energi.

“Pemberdayaan ekonomi perempuan wajib menjadi bagian dari pembahasan transisi energi. Kita perlu memastikan perempuan memperoleh peluang untuk meningkatkan keterampilan, mengembangkan usaha, dan meraih kemandirian ekonomi,” katanya.

Dia mencontohkan pengembangan Kebun Pangan Perempuan sebagai salah satu pendekatan yang dapat mempertemukan isu ketahanan pangan, pelestarian lingkungan, dan penguatan kepemimpinan perempuan di tingkat lokal.

Menempatkan Perempuan sebagai Aktor

Direktur Eksekutif Rumah Energi Sumanda Tondang mengatakan transisi energi perlu memberikan ruang yang setara bagi masyarakat untuk terlibat sekaligus memperoleh manfaat ekonomi.

“Transisi energi harus membuka peluang yang setara bagi masyarakat, khususnya perempuan. Karena itu, kolaborasi lintas sektor penting untuk menghubungkan kapasitas masyarakat dengan akses program, pembiayaan, dan peluang ekonomi,” ujarnya.

Baca Juga :   Investasi Strategis di SoTex Tandai Ekspansi Global dan Komitmen Mubadala dalam Transisi Energi

Inisiatif tersebut merupakan bagian dari Program PW4JET (Pro Women for Just Energy Transition) yang dijalankan Rumah Energi dengan dukungan Ford Foundation. Program ini berfokus pada peningkatan peran perempuan dalam proses transisi energi yang berkeadilan.

PW4JET menyasar empat desa di Kecamatan Maniis, yakni Citamiang, Sinargalih, Tegal Datar, dan Pasir Jambu, dengan perhatian khusus terhadap Perempuan Kepala Keluarga (PEKA) sebagai salah satu kelompok yang menghadapi kerentanan ekonomi.

Project Manager PW4JET Gustina mengatakan transisi energi tidak cukup dilihat dari sisi teknologi karena perubahan sistem energi juga membawa konsekuensi sosial dan ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya.

“Transisi energi tidak akan tercapai jika kita hanya bicara soal teknologi, tanpa melihat aspek sosial dan ketimpangan gender yang ada di sekitarnya. Program PW4JET hadir dengan visi menempatkan perempuan sebagai aktor utama transisi energi, bukan sekadar penerima manfaat pasif,” ujarnya.

Menurut Gustina, partisipasi perempuan perlu diwujudkan melalui akses terhadap sumber daya, ruang pengambilan keputusan, serta manfaat ekonomi yang muncul dari proses pembangunan energi di wilayah mereka.

Dari Literasi Gender hingga Teknologi Tepat Guna

Sejumlah kegiatan telah dilakukan dalam rangkaian PW4JET. Program tersebut diawali dengan kick-off dan lokakarya pengarusutamaan Gender Equality, Disability and Social Inclusion (GEDSI) pada 5 Agustus 2026.

Baca Juga :   57 Persen Perempuan Indonesia Korbankan Kesehatan Demi Keluarga

Selanjutnya, masyarakat mengikuti lokakarya Gender Action Learning System (GALS) pada 26–27 Agustus 2026. Pendekatan tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan masyarakat dalam mengenali persoalan dan menyusun perubahan yang dapat dilakukan di tingkat keluarga maupun komunitas.

Tahap berikutnya mencakup penguatan kapasitas melalui pelatihan cerdas iklim. Materinya antara lain pemanfaatan eceng gondok untuk pembuatan silase dan kompos, pengenalan teknologi biogas, serta penguatan kepemimpinan perempuan.

Rangkaian program tersebut juga diarahkan untuk menghubungkan kapasitas masyarakat dengan peluang yang tersedia, mulai dari program pemerintah dan tanggung jawab sosial perusahaan hingga akses pembiayaan serta pengembangan usaha.

Dengan pendekatan tersebut, transisi energi di wilayah sekitar PLTS Terapung Cirata tidak hanya ditempatkan sebagai agenda pembangunan infrastruktur. Program ini juga diarahkan untuk membangun kapasitas masyarakat agar dapat mengambil bagian dalam perubahan ekonomi yang menyertai peralihan menuju energi yang lebih bersih.

Bagi Kecamatan Maniis, tantangannya adalah memastikan peluang yang muncul dari perkembangan sektor energi dapat diakses secara lebih luas, termasuk oleh perempuan dan kelompok masyarakat yang selama ini memiliki akses terbatas terhadap sumber daya ekonomi.