BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA — Upaya meningkatkan kesejahteraan petani buah mulai menunjukkan hasil. Melalui dukungan DBS Foundation, Java Fresh berhasil membawa produk hortikultura Indonesia menembus pasar di 25 negara.
Capaian ini tidak hanya memperluas ekspor, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi petani kecil dan pekerja desa.
Indonesia sendiri merupakan salah satu produsen buah terbesar di dunia. Data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat, ekspor hortikultura mencapai US$645,48 juta pada 2020, dengan kontribusi buah sebesar US$389,9 juta atau naik 30,31% dibanding 2019.
Namun, potensi besar tersebut belum sepenuhnya dirasakan petani. Akses pasar yang terbatas, standar ekspor, hingga rantai distribusi panjang masih menjadi tantangan utama.
Java Fresh hadir menjembatani kesenjangan tersebut sejak 2014 dengan membangun rantai pasok yang lebih inklusif.
“Ketika buah Indonesia menembus pasar global, manfaatnya harus kembali ke petani,” ujar Co-Founder & CEO Java Fresh, Margareta Astaman.
Mayoritas mitra Java Fresh merupakan petani mikro dengan lahan kurang dari 0,5 hektare. Untuk itu, perusahaan tidak hanya berperan sebagai penghubung perdagangan, tetapi juga menyediakan pendampingan dari hulu hingga hilir.
Salah satu langkah strategisnya adalah membangun fasilitas packing house di dekat sentra produksi. Fasilitas ini mempercepat penanganan pascapanen sekaligus meningkatkan kualitas buah sesuai standar ekspor.
Selain itu, fasilitas tersebut membuka lapangan kerja formal bagi masyarakat desa, khususnya perempuan.
Dampak Nyata di Tingkat Komunitas
Kehadiran Java Fresh membawa perubahan nyata bagi masyarakat desa.
Ibu Edah (40), warga Puspahiang, Tasikmalaya, menjadi salah satu penerima manfaat. Sebelumnya, ia kesulitan mendapatkan pekerjaan tetap. Kini, ia bekerja di packing house dengan penghasilan stabil.
“Sekarang kalau mau belajar dan bekerja, kesempatan itu ada,” ujarnya.
Penghasilan tersebut memungkinkan ia menyekolahkan anak hingga jenjang S2.
Kisah serupa datang dari Ibu Emin (56), pekerja dengan keterbatasan fisik yang tetap produktif. Sejak bergabung pada 2017, ia mampu membeli tanah dari hasil kerjanya.
Sementara itu, Ibu Nani Suryani tetap aktif bekerja meski mendekati usia 70 tahun. Pekerjaan tersebut memberinya penghasilan mandiri setelah sebelumnya menjadi buruh harian.
Dukungan DBS Foundation
Pengembangan Java Fresh turut diperkuat melalui DBS Foundation Grant Program 2024.
Dana hibah digunakan untuk riset dan pengembangan, termasuk meningkatkan daya simpan produk dan efisiensi pascapanen di tengah tantangan perubahan iklim.
Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia, Mona Monika, mengatakan dukungan ini bertujuan memperkuat ekosistem usaha berdampak.
“Ketika petani mendapat akses pasar dan inovasi, mereka menjadi bagian penting dari rantai pasok yang berkelanjutan,” ujarnya.
Sejak 2014 hingga 2025, DBS Foundation telah menyalurkan hibah lebih dari SGD 4 juta kepada 28 penerima di Indonesia.
Ekspansi dan Inovasi
Saat ini, Java Fresh tidak hanya menjangkau 25 negara, tetapi juga memperluas operasional ke tiga wilayah baru.
Perusahaan juga memberdayakan tambahan 400 petani dan 90 pekerja perempuan di pedesaan.
Salah satu inovasi yang dilakukan adalah uji coba pengiriman manggis ke Tiongkok menggunakan teknologi Controlled Atmosphere selama 29 hari. Teknologi ini menjaga kualitas buah selama distribusi jarak jauh.
Di balik ekspor buah Indonesia, terdapat peran besar petani dan pekerja desa. Dengan akses pasar dan pendampingan yang tepat, dampak ekonomi mulai terasa hingga ke tingkat komunitas.











