Scroll untuk baca artikel
Industri

Perusahaan Menengah Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi Digital Indonesia

4
×

Perusahaan Menengah Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi Digital Indonesia

Sebarkan artikel ini
Transformasi digital mendorong perusahaan menengah di Indonesia memperkuat infrastruktur teknologi informasi melalui otomatisasi, integrasi sistem dan pengelolaan TI terpadu untuk menopang ekspansi bisnis

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA — Ekonomi digital Indonesia mulai memasuki fase yang tidak lagi semata-mata ditentukan oleh kecepatan adopsi teknologi. Setelah periode ekspansi platform dan layanan digital yang agresif, perhatian bisnis kini semakin bergeser ke efisiensi, profitabilitas, keamanan, serta ketahanan infrastruktur teknologi informasi (TI).

Perubahan tersebut membuka ruang lebih besar bagi perusahaan skala menengah atau mid-sized enterprises untuk menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi digital nasional.

Secara makro, nilai ekonomi digital Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian memproyeksikan nilai ekonomi digital Indonesia mendekati US$100 miliar pada 2025 dan melampaui US$130 miliar pada 2026. Pemerintah juga menempatkan digitalisasi sebagai salah satu instrumen untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing ekonomi.

Di tengah proyeksi tersebut, penguatan ekosistem digital tidak hanya membutuhkan perusahaan teknologi berskala besar. Perusahaan menengah yang bergerak di berbagai sektor ekonomi juga membutuhkan infrastruktur digital yang mampu menopang ekspansi, mengendalikan biaya dan menjaga kesinambungan operasional.

Belanja Teknologi Perusahaan Menengah Meningkat

Perusahaan menengah memiliki posisi yang cukup unik dalam proses transformasi digital. Dibandingkan korporasi besar dengan struktur organisasi dan sistem legacy yang kompleks, perusahaan menengah cenderung memiliki struktur pengambilan keputusan yang lebih sederhana.

Di sisi lain, skala bisnisnya membuat kebutuhan teknologi sudah jauh lebih kompleks dibandingkan usaha mikro dan kecil. Perusahaan dapat memiliki ratusan perangkat karyawan, beberapa kantor atau cabang, aplikasi bisnis yang beragam, hingga kebutuhan keamanan dan kepatuhan yang semakin tinggi.

Baca Juga :   Diversifikasi Bisnis Berbuah Manis, MTDL Catat Kenaikan Pendapatan 12,4% di Kuartal II – 2024

Ruang investasi teknologi pada segmen ini pun terus berkembang. Riset Mordor Intelligence memperkirakan pasar layanan TI Indonesia meningkat dari sekitar US$4,76 miliar pada 2025 menjadi US$5,41 miliar pada 2026.

Pada pasar TIK Indonesia secara keseluruhan, belanja teknologi pada segmen usaha kecil dan menengah diproyeksikan mencatatkan pertumbuhan tahunan majemuk atau compound annual growth rate (CAGR) 15,67% pada periode 2026–2031.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital mulai bergeser dari sekadar kebutuhan adopsi aplikasi menuju kebutuhan membangun infrastruktur yang mampu mengikuti perkembangan bisnis.

Namun, pertumbuhan cepat juga dapat menciptakan persoalan baru. Sebagian perusahaan membangun infrastruktur TI secara bertahap berdasarkan kebutuhan jangka pendek. Akibatnya, sistem dapat berkembang secara parsial dan terdiri atas banyak aplikasi yang tidak selalu terintegrasi.

Kondisi yang dikenal sebagai tool sprawl tersebut dapat meningkatkan kompleksitas pengelolaan, memperbesar biaya, sekaligus menciptakan celah dalam pengawasan keamanan dan operasional.

Hybrid Cloud Tambah Kompleksitas

Persoalan tersebut semakin kompleks ketika perusahaan mulai mengadopsi arsitektur hybrid, yang menggabungkan sistem legacy dengan layanan cloud.

Data Mordor Intelligence menunjukkan adopsi arsitektur hybrid menjadi salah satu area dengan pertumbuhan tercepat dalam pasar TIK Indonesia, dengan CAGR sekitar 15,44%.

Model hybrid memberikan fleksibilitas bagi perusahaan untuk menempatkan sistem dan data sesuai kebutuhan bisnis. Sebagian aplikasi dapat berjalan di cloud, sementara sistem tertentu tetap dipertahankan pada infrastruktur lokal karena pertimbangan keamanan, performa maupun kepatuhan.

Namun, semakin banyak lingkungan yang harus dikelola, semakin besar pula beban operasional tim TI.

Baca Juga :   Sandbrook Capital dan PSP Investments Jual Havfram ke DEME Senilai €900 Juta

Bagi perusahaan menengah, tantangannya adalah mengelola kompleksitas yang semakin mendekati kebutuhan perusahaan besar dengan jumlah tenaga teknis yang relatif terbatas.

Tim TI harus menangani berbagai pekerjaan sekaligus, mulai dari pengamanan perangkat karyawan, pemantauan jaringan antarcabang, pembaruan perangkat lunak, inventaris aset, dukungan pengguna hingga pemenuhan kebutuhan tata kelola dan kepatuhan.

Dalam kondisi tersebut, penambahan tenaga kerja bukan satu-satunya pilihan. Otomatisasi mulai menjadi instrumen untuk meningkatkan kapasitas tim yang sudah ada.

Otomatisasi Tekan Beban Operasional

Sejumlah pekerjaan rutin dapat dialihkan ke sistem otomatis, seperti distribusi patch keamanan, pencatatan inventaris aset, pemantauan log jaringan hingga pengelolaan tiket help desk.

Dengan otomatisasi, pekerjaan yang sebelumnya dilakukan secara manual dan berulang dapat diproses berdasarkan aturan yang telah ditentukan. Tim TI kemudian dapat mengalokasikan lebih banyak waktu untuk pekerjaan yang membutuhkan analisis, perencanaan dan pengambilan keputusan.

Pendekatan tersebut juga berkaitan dengan pengendalian operating expenditure (OpEx). Ketika jumlah perangkat, aplikasi dan lokasi operasional bertambah, perusahaan membutuhkan cara untuk meningkatkan kapasitas layanan tanpa membuat biaya pengelolaan tumbuh secara proporsional.

Di titik ini, konsolidasi teknologi menjadi salah satu pilihan yang mulai dipertimbangkan perusahaan menengah.

Dari Banyak Aplikasi ke Unified IT Management

Alih-alih terus menambahkan perangkat lunak dari berbagai vendor, perusahaan dapat mengintegrasikan sejumlah fungsi pengelolaan TI melalui pendekatan unified IT management.

Model tersebut memungkinkan fungsi seperti IT service management (ITSM), keamanan endpoint dan pemantauan jaringan dikelola dalam ekosistem yang lebih terintegrasi.

Baca Juga :   Gelar "KENAROK", Kemenparekraf Pertemukan Pelaku Ekraf dengan Industri Pariwisata di Jawa Timur

Manfaat utamanya bukan hanya mengurangi jumlah aplikasi yang digunakan. Integrasi juga dapat memberikan visibilitas yang lebih luas terhadap kondisi infrastruktur TI sehingga tim dapat mengidentifikasi persoalan dan mengambil tindakan dari lingkungan pengelolaan yang lebih terpusat.

Technical Manager ManageEngine Indonesia Hanief Bastian mengatakan perusahaan menengah saat ini menghadapi kebutuhan untuk bergerak cepat di tengah semakin kompleksnya infrastruktur digital.

“Kunci untuk memenangkan pasar saat ini bukan sekadar membeli dan menambahkan aplikasi perangkat lunak baru tanpa arah, melainkan menyatukan stabilitas dan kendali atas ekosistem TI dalam satu platform yang terotomatisasi.”

Menurut dia, penyederhanaan infrastruktur menjadi semakin relevan ketika perusahaan harus mengelola lingkungan hybrid dengan sumber daya TI yang terbatas.

Infrastruktur Digital Jadi Fondasi Ekspansi

Transformasi digital perusahaan menengah pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai penggunaan teknologi baru. Tantangan berikutnya adalah memastikan teknologi tersebut dapat dikelola secara efisien ketika skala bisnis bertambah.

Hal ini membuat tiga aspek menjadi semakin penting, yakni integrasi, otomatisasi dan tata kelola.

Integrasi membantu mengurangi fragmentasi sistem, otomatisasi dapat mengurangi pekerjaan manual, sementara tata kelola memastikan pertumbuhan infrastruktur tetap berada dalam koridor keamanan dan kepatuhan.

Dengan pendekatan tersebut, investasi TI tidak berhenti pada pembelian aplikasi atau perangkat baru, tetapi diarahkan untuk membangun fondasi operasional yang dapat menopang ekspansi.

Seiring nilai ekonomi digital Indonesia yang terus meningkat, perusahaan menengah berpotensi mengambil peran lebih besar dalam fase pertumbuhan berikutnya.