Scroll untuk baca artikel
Industri

HARMAN Hapus 500.000 Tautan Produk Ilegal di Asia Pasifik

6
×

HARMAN Hapus 500.000 Tautan Produk Ilegal di Asia Pasifik

Sebarkan artikel ini
Sepanjang 2025, sekitar 300.000 tautan teridentifikasi menawarkan produk palsu, sementara sisanya terkait pelanggaran hak kekayaan intelektual HARMAN

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA — HARMAN International memperketat pemberantasan barang palsu dan pelanggaran hak kekayaan intelektual (HAKI) di kawasan Asia Pasifik (APAC). Sepanjang 2025, perusahaan mengklaim telah memfasilitasi penghapusan lebih dari 500.000 tautan produk ilegal dari berbagai platform marketplace digital di kawasan tersebut.

Dari jumlah tersebut, sekitar 300.000 tautan teridentifikasi menawarkan barang palsu, sedangkan sisanya berkaitan dengan pelanggaran HAKI HARMAN.

Langkah tersebut dilakukan di tengah meningkatnya peredaran produk tiruan melalui kanal digital maupun pasar fisik. HARMAN menggandeng platform e-commerce, otoritas bea cukai, dan aparat penegak hukum untuk mengidentifikasi, menghapus, serta melakukan penyitaan terhadap produk yang menggunakan merek perusahaan secara ilegal.

General Manager and Vice President, Consumer Audio, HARMAN Asia Pacific Grace Koh mengatakan perlindungan merek menjadi semakin penting seiring dengan perjalanan JBL yang memasuki usia 80 tahun pada 2026.

“Selama 80 tahun, JBL telah meraih kepercayaan konsumen di seluruh dunia dengan berfokus pada inovasi, performa, dan kualitas. Menjaga reputasi tersebut menjadi hal yang semakin krusial,” kata Grace.

Baca Juga :   Kolaborasi ASEAN-China Melalui Forum Media, Fokus pada Visi Pembangunan dan Teknologi

Menurutnya, barang palsu bukan hanya persoalan pelanggaran HAKI, tetapi juga berpotensi memengaruhi pengalaman konsumen yang membeli produk dengan ekspektasi terhadap kualitas dan performa JBL.

Penindakan di Korea Selatan dan Thailand

Upaya pemberantasan barang palsu berlanjut pada 2026. Dalam enam bulan pertama tahun ini, HARMAN mencatat sejumlah operasi penegakan hukum di beberapa pasar utama APAC.

Di Korea Selatan, aparat menyita produk JBL Flip 6 palsu dalam salah satu operasi. Dalam operasi terpisah, produk tiruan JBL Charge 6 juga berhasil disita.

Sementara itu, di Thailand, otoritas bea cukai menghentikan peredaran produk yang dipasarkan menggunakan nama fiktif “JBL Max 33”. Operasi lainnya di negara tersebut juga menemukan dan menyita produk palsu JBL Go 4, JBL Clip, serta sejumlah produk dari seri headphone JBL Tune.

HARMAN mengatakan rangkaian penindakan tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi antara pemegang merek dan aparat penegak hukum untuk memutus rantai distribusi produk palsu sebelum mencapai konsumen.

Baca Juga :   VIDA Ajak Publik Waspada Scam di Tengah Lonjakan Kasus Penipuan Digital

Edukasi Konsumen

Selain penindakan, HARMAN memperluas pendekatan melalui edukasi konsumen. Perusahaan baru-baru ini meluncurkan kampanye anti-barang palsu melalui media sosial di tingkat regional.

Kampanye tersebut ditujukan untuk membantu konsumen mengenali produk JBL tiruan, memahami risiko barang palsu, serta memilih distributor dan kanal penjualan yang resmi.

Langkah edukasi dinilai penting karena perkembangan e-commerce membuat konsumen semakin mudah menemukan berbagai penawaran produk, termasuk dari penjual yang tidak terverifikasi.

HARMAN mengimbau konsumen memperhatikan harga yang terlalu rendah dan kredibilitas penjual ketika membeli produk JBL secara daring.

Produk palsu juga berpotensi menimbulkan persoalan di luar kerugian finansial. Menurut HARMAN, produk asli JBL melalui proses pengujian untuk memenuhi standar kualitas, performa, dan keselamatan. Sebaliknya, produk tiruan dapat menggunakan komponen dengan kualitas lebih rendah serta tidak melalui proses kendali mutu yang sama.

Baca Juga :   Burson, Visi Baru Jaga Reputasi sebagai Keunggulan Kompetitif bagi Klien

Jaga Ekosistem Produk JBL

Grace mengatakan perbedaan produk asli dan tiruan juga dapat terlihat dari integrasi perangkat dengan ekosistem JBL.

“Selain menyajikan kualitas suara, produk asli JBL dirancang untuk bekerja secara mulus dalam ekosistem JBL,” ujarnya.

Melalui aplikasi resmi JBL, pengguna dapat mengakses sejumlah fitur seperti personalisasi pengaturan EQ, stereo pairing, dan Playtime Boost. Fitur tersebut menjadi bagian dari pengalaman penggunaan produk yang ditawarkan JBL.

HARMAN menilai pemberantasan barang palsu akan tetap menjadi bagian penting dari strategi perlindungan merek, seiring dengan ekspansi pasar dan perkembangan kanal perdagangan digital.

Bagi konsumen, perusahaan menyarankan pembelian dilakukan melalui retailer resmi dan toko daring resmi JBL untuk mengurangi risiko mendapatkan produk tiruan.

Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari perlindungan terhadap nilai merek JBL yang telah dibangun selama delapan dekade, di tengah persaingan industri audio dan semakin luasnya distribusi produk melalui kanal digital.