BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA — Dokter spesialis jantung asal Indonesia mengembangkan perangkat berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang berpotensi membantu mendeteksi dini pasien gagal jantung dengan risiko tinggi mengalami perburukan setelah keluar dari rumah sakit. Inovasi tersebut diharapkan dapat mendukung pengambilan keputusan klinis sekaligus menekan angka rawat ulang pasien.
Inovasi bernama Novel Auscultation Device of Artificial Intelligence for Heart Failure (NAVI-HF) dikembangkan oleh dr. Rony M. Santoso, SpJP, SubSp.K.I(K), FIHA, dokter spesialis jantung yang berpraktik di Primaya Hospital Tangerang. Pengembangan perangkat tersebut merupakan bagian dari penelitian disertasi doktoralnya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Berdasarkan data Asian-HF Registry, Indonesia menempati peringkat kedua dengan jumlah kasus gagal jantung terbanyak di Asia setelah Tiongkok. Tingkat kematian pasien dalam satu tahun mencapai 34,1%, sedangkan sekitar 30% pasien kembali dirawat di rumah sakit akibat kondisi yang memburuk setelah dipulangkan.
Salah satu penyebab tingginya angka rawat ulang adalah masih adanya penumpukan cairan di paru-paru (residual pulmonary congestion) yang tidak selalu dapat terdeteksi melalui pemeriksaan menggunakan stetoskop konvensional. Sementara itu, metode pemeriksaan lain seperti lung ultrasound atau tes darah NT-proBNP memerlukan peralatan khusus dan biaya yang lebih tinggi.
NAVI-HF dikembangkan untuk membantu dokter mengidentifikasi kondisi tersebut melalui analisis suara paru menggunakan teknologi AI. Perangkat merekam suara dada dari lima titik pemeriksaan selama sekitar satu menit, kemudian menganalisis hasilnya menggunakan algoritma kecerdasan buatan untuk mendeteksi tanda-tanda kongesti paru.
Dalam penelitian yang melibatkan 246 pasien gagal jantung akut, NAVI-HF menunjukkan akurasi sebesar 86%, sensitivitas 91%, dan spesifisitas 82% dibandingkan lung ultrasound sebagai standar acuan.
Penelitian lanjutan selama enam bulan juga menunjukkan pasien dengan hasil pemeriksaan NAVI-HF positif memiliki risiko sekitar 1,6 kali lebih tinggi mengalami rawat ulang akibat gagal jantung dibandingkan pasien dengan hasil negatif.
Rony mengatakan perangkat tersebut dirancang sebagai alat bantu klinis, bukan untuk menggantikan peran dokter dalam menetapkan diagnosis maupun terapi.
“Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan gagal jantung adalah memastikan kondisi pasien benar-benar stabil sebelum pulang dari rumah sakit. NAVI-HF kami kembangkan untuk membantu dokter mengidentifikasi pasien yang masih berisiko mengalami perburukan melalui alat yang sederhana, portabel, dan didukung teknologi AI,” ujarnya.
Ke depan, perangkat tersebut juga berpotensi dimanfaatkan untuk pemantauan pasien dari rumah (home-based monitoring) maupun layanan telemedisin. Menurut Rony, penggunaan AI diharapkan dapat mendukung deteksi lebih dini, membantu pengambilan keputusan klinis, serta mengurangi risiko rawat ulang pasien gagal jantung.
Pengembangan NAVI-HF menjadi salah satu contoh penerapan kecerdasan buatan di bidang kesehatan yang diarahkan untuk meningkatkan akurasi diagnosis dan kualitas layanan medis, sekaligus membantu menekan beban pelayanan kesehatan akibat tingginya kasus gagal jantung di Indonesia.











