BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat FEB UI mengungkapkan bahwa platform pinjaman daring (pindar) berizin AdaKami berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sebesar Rp6,95 triliun hingga Rp10,96 triliun pada 2024.
Kontribusi tersebut berasal dari efek berganda (ripple effect) penyaluran pembiayaan ke berbagai sektor ekonomi. Aktivitas pembiayaan konsumsi dinilai mendorong permintaan barang dan jasa produktif, sehingga menggerakkan perputaran ekonomi di tingkat lokal maupun nasional.
185 Sektor Terdampak, Puluhan Ribu Lapangan Kerja
Dalam periode analisis, sedikitnya 185 sektor ekonomi memperoleh nilai tambah dari aktivitas ekonomi yang dipicu pendanaan AdaKami. Tiga sektor dengan dampak terbesar adalah jasa lembaga keuangan lainnya (21,34%), jasa pendidikan pemerintah (10,03%), serta perdagangan selain mobil dan sepeda motor (9,30%).
Secara keseluruhan, kontribusi tersebut setara dengan PDB negara kepulauan Tonga yang pada 2024 tercatat sekitar Rp9,38 triliun.
Dari sisi ketenagakerjaan, riset memperkirakan 47–78 ribu peluang kerja tercipta di 17 sektor industri, terutama perdagangan besar dan eceran (19,84%), jasa pendidikan (18,63%), serta pertanian, kehutanan, dan perikanan (15,11%).
Wakil Kepala LPEM FEB UI, Mohamad Dian Revindo, menyatakan bahwa pembiayaan mendorong konsumsi rumah tangga—baik rutin maupun non-rutin—yang kemudian menggerakkan sektor ritel, transportasi, manufaktur, hingga sektor primer.
Menopang Konsumsi dan Ketahanan Rumah Tangga
Studi juga menemukan bahwa pembiayaan berperan sebagai bantalan keuangan (financial buffer) bagi rumah tangga, terutama saat menghadapi guncangan seperti PHK, sakit berat, atau musibah keluarga.
Sebanyak 24,51% responden menyatakan tanpa akses pinjaman daring, mereka harus menggunakan tabungan atau menjual aset produktif untuk memenuhi kebutuhan. Hal ini menunjukkan peran pindar dalam menjaga stabilitas konsumsi (consumption smoothing).
Rata-rata pengeluaran pengguna AdaKami tercatat Rp4,8 juta per bulan, dengan rata-rata tabungan hampir Rp700 ribu—lebih tinggi dibandingkan kelompok pembanding.
Dorong Usaha Mikro dan Omzet
Pembiayaan juga dimanfaatkan untuk pengembangan usaha mikro dan perorangan. Sebanyak 53,1% pengguna yang meminjam untuk usaha menggunakannya untuk menambah stok barang, sementara 28,1% mencatat peningkatan omzet.
Sektor usaha utama penerima pendanaan meliputi perdagangan (53,1%), penyediaan akomodasi dan makan minum (18,8%), serta pertanian (18,8%). Wawancara mendalam menunjukkan pembiayaan membantu pelaku usaha meningkatkan kapasitas produksi dan penjualan secara bertahap.
Literasi Keuangan Relatif Tinggi
Sebanyak 89,2% responden memahami bunga, biaya, dan tenor pinjaman. Pemahaman terhadap konsep inflasi, investasi, dan saham juga dinilai relatif baik dibandingkan kelompok lain.
Meski demikian, studi menyoroti perlunya penguatan edukasi untuk mengatasi potensi bias perilaku seperti overconfidence dan kecenderungan berorientasi jangka pendek dalam pengambilan keputusan keuangan.
Rekomendasi Penguatan Ekosistem
Riset merekomendasikan regulator dan pelaku industri memperkuat edukasi keuangan, transparansi informasi biaya, serta pengawasan terhadap praktik penagihan dan pinjaman ilegal. Pengembangan fitur simulasi kemampuan bayar (self-assessment) sebelum pencairan dana juga dinilai penting untuk mencegah risiko gagal bayar.
Data riset diperoleh melalui survei primer Oktober–November 2025 terhadap 615 responden di tujuh provinsi, menggunakan metode kombinasi wawancara langsung dan daring. Analisis kontribusi ekonomi dihitung dengan pendekatan Input-Output untuk mengestimasi dampak langsung, tidak langsung, dan efek pengganda terhadap sektor ekonomi nasional.











