BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – PT Syailendra Capital meluncurkan Reksa Dana Syariah Syailendra ETF Sharia Gold (XSGO) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Produk ini memberikan alternatif investasi emas melalui instrumen yang diperdagangkan di bursa dengan underlying emas fisik.
Peluncuran XSGO ditandai dengan seremoni opening bell di BEI pada 10 Agustus 2026, bertepatan dengan perayaan 49 tahun pasar modal Indonesia.
Chief Executive Officer Syailendra Capital Fajar R. Hidajat mengatakan ETF Sharia Gold dirancang untuk memberikan akses terhadap emas dengan mekanisme transaksi yang lebih fleksibel, transparan, dan efisien.
“Melalui Syailendra ETF Sharia Gold, kami ingin menghadirkan alternatif investasi emas yang tidak hanya menawarkan eksposur terhadap aset emas, tetapi juga memberikan kemudahan, transparansi, dan efisiensi dalam proses investasinya,” ujar Fajar.
Berdasarkan data Bloomberg yang diolah Syailendra Research, harga emas mencatat pertumbuhan rata-rata sekitar 10% dalam 15 tahun terakhir. Emas juga tercatat menjadi winning asset sebanyak lima kali sepanjang periode 2014-2025.
Secara historis, emas juga dinilai mampu bertahan dalam sejumlah periode tekanan pasar, termasuk saat Global Financial Crisis 2008 dan pandemi Covid-19.
XSGO dapat diakses investor melalui pasar primer maupun pasar sekunder. Pada pasar primer, transaksi dilakukan melalui PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia selaku dealer partisipan dengan minimum pembelian pertama setara 500 gram emas atau sekitar Rp1,5 miliar, dengan asumsi harga emas Rp3 juta per gram.
Sementara itu, melalui pasar sekunder, investor dapat membeli XSGO melalui perusahaan efek atau broker dengan minimum transaksi satu lot atau 100 unit, yang nilainya sekitar Rp100.000.
Underlying XSGO berupa emas fisik yang direpresentasikan melalui Electronic Gold Receipt (EGR) dengan standar emas 99,5% LBMA atau 99,9% SNI. Emas tersebut disediakan dan disimpan oleh PT Pegadaian selaku Gold Custody dan Gold Provider.
Pegadaian juga menyediakan kuotasi harga emas yang menjadi salah satu referensi dalam perhitungan nilai XSGO. Sementara itu, PT Bank CIMB Niaga Tbk bertindak sebagai Bank Kustodian yang menjalankan fungsi kustodian atas aset ETF sesuai ketentuan yang berlaku.
Struktur tersebut memungkinkan investor memperoleh eksposur terhadap emas tanpa perlu menyimpan emas fisik secara langsung.
Syailendra menyebut Pegadaian mengupayakan spread harga beli dan jual emas sekitar 2%-3% berdasarkan harga acuan Pegadaian. Spread tersebut diklaim relatif lebih rendah dibandingkan transaksi emas digital maupun emas fisik yang dapat mencapai sekitar 7%-9%.
Selain pengembangan produk, Syailendra Capital juga akan memperkuat edukasi mengenai investasi berbasis emas. Edukasi tersebut mencakup karakteristik ETF Sharia Gold, mekanisme investasi, market insights mengenai emas, serta peran emas dalam strategi diversifikasi portofolio.
“Edukasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tanggung jawab kami sebagai manajer investasi. Kami ingin memastikan bahwa proses literasi dan inklusi berjalan beriringan sehingga investasi ETF bisa berkembang layaknya di negara maju lainnya,” kata Fajar.
Dengan XSGO, Syailendra Capital menambah alternatif bagi investor yang ingin memperoleh eksposur terhadap emas melalui instrumen yang diperdagangkan di bursa. Produk tersebut menggabungkan karakteristik reksa dana dengan mekanisme perdagangan saham di pasar sekunder.











