Scroll untuk baca artikel
Industri

Kapal Listrik Bikin Nelayan Kelan Lebih Hemat dan Buka Peluang Ecotrip

3
×

Kapal Listrik Bikin Nelayan Kelan Lebih Hemat dan Buka Peluang Ecotrip

Sebarkan artikel ini
Kapal listrik yang digunakan nelayan Desa Kelan, Bali, untuk mendukung aktivitas melaut dan wisata susur mangrove dengan sumber energi yang lebih bersih.

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA — Bagi nelayan Desa Kelan, Bali, laut bukan sekadar bentang alam. Kawasan pesisir menjadi sumber penghidupan yang menopang ekonomi keluarga sekaligus ruang hidup yang perlu dijaga keberlanjutannya.

Perubahan mulai dirasakan ketika aktivitas melaut perlahan memanfaatkan sumber energi yang lebih bersih. Melalui Program Desa Energi Berdikari (DEB) Keluarga Nelayan Lestari (KENALI), masyarakat Desa Kelan mendapatkan akses terhadap infrastruktur energi surya dan kapal listrik yang tidak hanya menekan biaya operasional, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru.

Program yang didukung PT Pertamina International Shipping (PIS) tersebut diwujudkan melalui pembangunan ruang serbaguna untuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) Tanjung Sari. Fasilitas itu dilengkapi panel surya berkapasitas 8,72 kWp yang digunakan sebagai solar charging station untuk mengoperasikan 10 baterai dan lima mesin kapal listrik.

Pemanfaatan energi surya dan kapal listrik tersebut mengubah sebagian pola operasional nelayan. Selain mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar, kapal dengan motor listrik juga menghasilkan suara yang lebih rendah sehingga aktivitas di perairan pesisir dapat berlangsung lebih senyap.

Baca Juga :   Vanda RE Tunjuk Black & Veatch sebagai Konsultan Teknik Utama Proyek Energi Surya dan Baterai di Indonesia

Biaya Operasional Nelayan Lebih Rendah

Bagi nelayan, manfaat transisi energi tidak hanya berkaitan dengan aspek lingkungan, tetapi juga biaya operasional.

I Wayan Wirtha, anggota KUB Tanjung Sari, mengatakan penggunaan kapal listrik membuat pengeluaran untuk bahan bakar menjadi lebih rendah.

“Selain mendapat tambahan penghasilan dari ecotrip, biaya operasional kami juga jauh lebih hemat. Dulu pengeluaran untuk bahan bakar bisa mencapai Rp600.000 per bulan, sekarang sekitar Rp200.000 saja sebagai cadangan,” ujar Wirtha.

Efisiensi tersebut sekaligus membuka ruang bagi nelayan untuk mengembangkan sumber pendapatan tambahan. Salah satunya melalui wisata susur mangrove atau mangrove ecotrip.

Kawasan mangrove Desa Kelan merupakan habitat berbagai jenis burung. Sebelumnya, penggunaan kapal dengan mesin konvensional menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan aktivitas wisata di kawasan tersebut karena suara mesin berpotensi mengganggu habitat satwa.

Kehadiran kapal listrik yang beroperasi lebih senyap memungkinkan nelayan membawa wisatawan menyusuri kawasan mangrove dengan gangguan suara yang lebih rendah. Dari aktivitas tersebut, nelayan dapat memperoleh tambahan pendapatan hingga Rp350.000 per perjalanan.

Baca Juga :   Nonstop Dukung Ketahanan Energi, PIS Angkut 170 Miliar Liter BBM dan LPG Sepanjang 2025

Dengan demikian, energi bersih tidak hanya ditempatkan sebagai alternatif sumber tenaga, tetapi mulai terhubung dengan model ekonomi lokal berbasis konservasi.

Pengelolaan Sampah hingga Pemberdayaan Keluarga

Upaya menjaga ekosistem pesisir dalam Program KENALI juga mencakup pengelolaan sampah. Bersama TPS3R Desa Kelan, masyarakat mengelola 183 kilogram sampah rumah tangga yang sebelumnya berpotensi masuk dan mencemari kawasan laut.

Pengelolaan sampah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas lingkungan pesisir yang menjadi ruang ekonomi sekaligus tempat tinggal masyarakat.

Pemberdayaan juga diperluas ke keluarga nelayan. Istri dan anak-anak nelayan dilibatkan melalui pelatihan literasi keuangan serta pendampingan usaha. Tujuannya bukan hanya meningkatkan kemampuan mengelola pendapatan keluarga, tetapi juga mendorong pengembangan produk bernilai tambah dari hasil laut.

Salah satu penerima manfaat, Luh, mengatakan pendampingan tersebut membantunya memahami aspek pengemasan dan identitas produk dalam mengembangkan usaha olahan ikan.

“Sekarang saya lebih memahami cara membuat kemasan yang menarik dan memperkuat identitas produk, sehingga usaha yang saya jalankan memiliki nilai jual yang lebih baik,” tuturnya.

Energi Bersih dan Ekonomi Pesisir

Pjs. Corporate Secretary PIS Vega Pita mengatakan keberlanjutan bisnis dan lingkungan perlu berjalan beriringan, terutama bagi masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada sumber daya laut.

Baca Juga :   PIS Tekan Emisi Karbon Sebesar 51 Kiloton di 2024, Langkah Nyata Menuju Dekarbonisasi dan Net Zero Emission

“PIS meyakini bahwa masa depan masyarakat pesisir dan kesehatan ekosistem laut saling berkaitan. Melalui akses energi yang lebih bersih dan pemberdayaan yang berkelanjutan, kami ingin mendukung masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan tanpa mengorbankan lingkungan yang menjadi sumber penghidupan mereka,” ujar Vega.

Program KENALI menunjukkan bahwa penerapan energi bersih di tingkat komunitas dapat memiliki dampak yang lebih luas dari sekadar penggantian sumber energi. Di Desa Kelan, teknologi tersebut mulai terhubung dengan efisiensi biaya nelayan, pengembangan wisata berbasis mangrove, pengelolaan sampah, hingga penguatan ekonomi keluarga.

Bagi masyarakat pesisir, keberlanjutan pada akhirnya bukan hanya persoalan menjaga lingkungan, tetapi juga memastikan laut tetap mampu memberikan penghidupan bagi generasi berikutnya. Karena itu, peralihan menuju aktivitas ekonomi yang lebih rendah dampak lingkungannya menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian ekosistem pesisir.