BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – IBM mengumumkan kolaborasi strategis dengan Arm Holdings untuk mengembangkan perangkat keras dual-arsitektur yang ditujukan mendukung kebutuhan komputasi enterprise berbasis kecerdasan buatan (AI) dan data intensif.
Kolaborasi ini bertujuan menghadirkan infrastruktur yang lebih fleksibel tanpa mengorbankan keandalan dan keamanan sistem mission-critical yang menjadi tulang punggung operasional perusahaan.
Sebagai pemain lama dalam desain sistem end-to-end, IBM terus memperkuat investasi pada platform perangkat keras, termasuk prosesor Telum II dan Spyre Accelerator. Teknologi tersebut dirancang untuk mendorong pemanfaatan AI dari tahap eksperimen menuju implementasi nyata dalam operasional bisnis sehari-hari.
Melalui kerja sama ini, kedua perusahaan menggabungkan keunggulan masing-masing. IBM menghadirkan kapabilitas dalam membangun sistem yang aman dan scalable, sementara Arm Holdings dikenal dengan arsitektur hemat energi serta ekosistem perangkat lunak yang luas.
Executive Vice President Cloud AI Business Unit ARM, Mohamed Awad, menyatakan bahwa ekosistem ARM memungkinkan berbagai workload dijalankan di beragam platform, sehingga memberikan fleksibilitas lebih bagi perusahaan dalam mengembangkan aplikasi berbasis AI.
Sementara itu, Chief Product Officer IBM Z dan LinuxONE, Tina Tarquinio, menilai kolaborasi ini sebagai langkah strategis untuk memperluas pilihan perangkat lunak sekaligus meningkatkan performa sistem tanpa mengurangi standar keamanan.
Analis industri dari Moor Insights & Strategy, Patrick Moorhead, menilai langkah ini mencerminkan perubahan arah infrastruktur enterprise yang kini menuntut fleksibilitas dan kemampuan memindahkan workload secara efisien di tengah meningkatnya penggunaan AI.
Fokus Tiga Area Pengembangan
Kolaborasi IBM dan ARM difokuskan pada tiga area utama. Pertama, pengembangan teknologi virtualisasi untuk memungkinkan lingkungan perangkat lunak berbasis ARM berjalan pada platform komputasi enterprise milik IBM. Langkah ini diharapkan dapat memperluas kompatibilitas perangkat lunak serta mempermudah adopsi aplikasi.
Kedua, kedua perusahaan mengeksplorasi pendekatan baru dalam membangun sistem dengan ketersediaan tinggi, keamanan, serta dukungan terhadap kedaulatan data. Infrastruktur ini dirancang agar mampu menangani workload modern seperti AI dan aplikasi berbasis data besar secara efisien.
Ketiga, penguatan ekosistem jangka panjang melalui integrasi lintas platform. Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat mengakses lebih banyak pilihan perangkat lunak sekaligus mengadopsi arsitektur baru tanpa harus meninggalkan investasi yang sudah ada.
Chief Technology Officer dan IBM Fellow, Christian Jacobi, menyebut kolaborasi ini sebagai bagian dari evolusi panjang IBM dalam membangun infrastruktur enterprise yang mampu menangani workload kompleks dan sensitif.
Langkah ini juga menjadi fondasi bagi pengembangan generasi berikutnya dari sistem IBM Z dan LinuxONE, yang ditujukan untuk menjawab kebutuhan komputasi enterprise di era AI dan transformasi digital.











