Scroll untuk baca artikel
Teknologi

VIDA Perkenalkan Teknologi Anti-Fraud Berbasis Biometrik

2
×

VIDA Perkenalkan Teknologi Anti-Fraud Berbasis Biometrik

Sebarkan artikel ini
Founder dan Group CEO VIDA, Niki Luhur, saat menyampaikan paparan dalam peluncuran ID FraudShield di acara VIDA Beyond Liveness, di Jakarta, (06/05). Niki menegaskan bahwa liveness detection kini perlu diperkuat dengan proteksi berlapis, seiring berkembangnya modus fraud berbasis AI yang tidak lagi hanya menyerang wajah, tetapi juga perangkat, jaringan, perilaku pengguna, hingga transaksi.

VIDA meluncurkan ID FraudShield, solusi teknologi deteksi penipuan identitas yang menggabungkan verifikasi biometrik, analisis perangkat, dan pemantauan perilaku pengguna secara real-time. Teknologi ini ditujukan untuk membantu industri jasa keuangan menghadapi meningkatnya ancaman fraud digital yang semakin kompleks.

 

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA — VIDA resmi meluncurkan ID FraudShield, solusi teknologi deteksi penipuan identitas berbasis multilayer yang dirancang untuk memperkuat keamanan digital sektor jasa keuangan.

Peluncuran teknologi tersebut turut mendapat dukungan dari Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia.

Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi RI, Edwin Hidayat Abdullah, mengatakan ancaman penipuan digital di Indonesia semakin meningkat dan membutuhkan pendekatan kolaboratif lintas sektor.

Menurut Edwin, sekitar 65 persen masyarakat Indonesia menerima upaya penipuan digital setidaknya sekali dalam seminggu melalui berbagai saluran, seperti email, SMS, WhatsApp, telepon, hingga media sosial.

Baca Juga :   CyberArk Meluncurkan Secure Browser yang Aman dan Berpusat pada Identity - Pertama di Industri Keamanan Informasi

“Angka sebesar ini tidak mungkin ditangani oleh satu pihak saja. Dibutuhkan pendekatan yang terintegrasi dan kolaboratif, mencakup kebijakan yang kuat, peran aktif berbagai institusi, serta dukungan teknologi yang mumpuni,” ujar Edwin dalam peluncuran produk di Jakarta, Jumat (8/5/2026).

VIDA menjelaskan, pengembangan ID FraudShield dilatarbelakangi meningkatnya metode penipuan digital yang kini tidak hanya mengandalkan manipulasi wajah atau deepfake, tetapi juga menyerang melalui perangkat, jaringan, perilaku pengguna, hingga transaksi.

Pelaku kejahatan siber disebut mulai memanfaatkan teknik seperti injection attack, emulator farm, hingga GPS spoofing untuk memalsukan identitas dan lokasi pengguna.

Founder dan Group CEO VIDA, Niki Luhur, mengatakan pendekatan verifikasi satu lapis tidak lagi memadai menghadapi pola serangan fraud yang semakin kompleks.

Baca Juga :   Kingston Hadirkan Pilihan Warna Merah ke Lini Produk SSD Eksternal

“Untuk menangani metode penipuan ini, satu lapisan verifikasi saja tidak lagi cukup. Ada tiga faktor yang harus diverifikasi secara bersamaan yakni orangnya, identitasnya, dan perangkat yang digunakan,” kata Niki.

ID FraudShield bekerja melalui dua engine utama yang berjalan secara simultan. Engine pertama adalah biometric liveness detection untuk memastikan keberadaan manusia asli dan mencegah penggunaan foto, video, deepfake, maupun screen replay.

Sementara engine kedua melakukan analisis perangkat dan perilaku pengguna secara real-time untuk mendeteksi indikasi fraud yang tidak teridentifikasi oleh pemeriksaan biometrik konvensional.

VIDA menyebut sistem tersebut memiliki enam lapisan pertahanan, yakni biometric liveness, device intelligence, behavioral analytics, network and location, rule engine, serta ID graph atau network intelligence.

Baca Juga :   BCA Digital Gandeng Monit Hadirkan bluCorporate Card untuk Bisnis

Melalui kombinasi teknologi tersebut, sistem diklaim mampu mendeteksi emulator, perangkat hasil modifikasi, penggunaan VPN atau proxy, GPS palsu, hingga aktivitas sindikat penipuan berbasis synthetic identity dan mule account.

Solusi ini ditujukan bagi sektor jasa keuangan seperti perbankan, multifinance, pinjaman digital, asuransi, hingga platform pembayaran digital agar dapat mendeteksi risiko fraud lebih cepat tanpa mengganggu pengalaman pengguna maupun kepatuhan regulasi.

“Kami membangun solusi ini karena melihat sendiri bagaimana penipuan bisa lolos dari liveness tanpa terdeteksi. Lewat teknologi ini, kami ingin membantu industri mendeteksi fraud yang sebelumnya tidak terlihat,” ujar Niki.