Apple menaikkan harga iPad dan MacBook hingga sekitar Rp20 juta akibat lonjakan harga chip memori yang dipicu tingginya permintaan industri AI. CEO Tim Cook menyebut kondisi ini sebagai krisis yang belum pernah terjadi dalam lebih dari 40 tahun. Apple memperingatkan kenaikan harga juga bisa meluas ke produk lain, termasuk iPhone.
BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Apple resmi menaikkan harga sejumlah produk iPad dan MacBook di berbagai pasar setelah biaya komponen memori melonjak tajam akibat tingginya permintaan industri kecerdasan buatan (AI). Kenaikan harga disebut mencapai hingga 100.000 rupee atau sekitar Rp19–20 juta untuk model tertentu.
CEO Apple Tim Cook menggambarkan kondisi pasar memori saat ini sebagai situasi yang belum pernah ia alami selama lebih dari empat dekade berkarier di industri teknologi. Dalam wawancara dengan The Wall Street Journal, Cook menyebut lonjakan harga tersebut sebagai “banjir yang terjadi sekali dalam seratus tahun” (a hundred-year flood), menandakan betapa ekstremnya tekanan pada rantai pasok komponen.
Menurut Apple, lonjakan harga tidak dapat dihindari karena produsen chip memori kini lebih banyak mengalokasikan kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan perusahaan AI. Pengembangan model AI generatif membutuhkan server dengan kapasitas memori DRAM dan NAND yang jauh lebih besar dibanding perangkat konsumen seperti laptop maupun smartphone.
Akibatnya, pasokan memori untuk perangkat elektronik konsumen semakin terbatas. Hukum ekonomi sederhana pun berlaku: ketika permintaan meningkat sementara pasokan menyusut, harga ikut terdongkrak naik.
Industri memori global saat ini didominasi oleh tiga perusahaan besar, yakni Samsung, SK Hynix, dan Micron. Sejumlah produsen bahkan mulai mengurangi fokus pada segmen memori konsumen demi mengejar pasar AI yang menawarkan margin keuntungan lebih tinggi. Micron, misalnya, dilaporkan menghentikan bisnis memori konsumen untuk memusatkan investasi pada produk AI.
Cook menilai kondisi tersebut tidak berkelanjutan. Ia berharap pemasok kembali meningkatkan produksi chip memori untuk perangkat konsumen agar harga dapat kembali normal.
Namun, produsen memori memiliki pandangan berbeda. Chief Business Officer Micron, Sumit Sadana, mengatakan industri sempat mengalami tekanan harga dan margin yang rendah pada 2023 sehingga banyak investasi produksi dihentikan. Menurutnya, perusahaan kini lebih berhati-hati dalam mengalokasikan kapasitas manufaktur.
Apple juga mengisyaratkan kenaikan harga belum berakhir. Selain iPad dan MacBook, produk lain termasuk iPhone disebut berpotensi mengalami penyesuaian harga apabila tekanan biaya komponen terus berlanjut.
Fenomena ini tidak hanya dialami Apple. Microsoft telah menaikkan harga konsol Xbox, sementara sejumlah produsen smartphone seperti Realme, OnePlus, dan Vivo juga melakukan penyesuaian harga. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ledakan investasi AI kini mulai berdampak langsung pada harga perangkat elektronik yang digunakan konsumen sehari-hari.











