Scroll untuk baca artikel
Lifestyle

ALZI: Aktivitas Fisik Jadi Investasi Kesehatan Otak Sejak Dini

3
×

ALZI: Aktivitas Fisik Jadi Investasi Kesehatan Otak Sejak Dini

Sebarkan artikel ini
Aktivitas fisik tidak hanya berkaitan dengan kebugaran tubuh. Bagi kesehatan otak, kebiasaan bergerak sejak dini juga menjadi salah satu investasi jangka panjang yang dapat membantu mempertahankan fungsi kognitif, kemandirian, suasana hati, dan kualitas hidup, termasuk bagi orang yang telah didiagnosis mengalami demensia.

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Aktivitas fisik tidak hanya berkaitan dengan kebugaran tubuh. Bagi kesehatan otak, kebiasaan bergerak sejak dini juga menjadi salah satu investasi jangka panjang yang dapat membantu mempertahankan fungsi kognitif, kemandirian, suasana hati, dan kualitas hidup, termasuk bagi orang yang telah didiagnosis mengalami demensia.

Pesan tersebut menjadi sorotan Alzheimer Indonesia (ALZI) saat menutup rangkaian Bulan Alzheimer Sedunia 2026 melalui acara “Bergerak Melawan Demensia: Investasi Otak Sehat dari Sekarang!” di Gedung Yustinus, Unika Atma Jaya, Semanggi, Jakarta, Rabu (30/9/2026).

Kegiatan tersebut mempertemukan Orang Dengan Demensia (ODD), keluarga pendamping, tenaga kesehatan, akademisi, media, serta berbagai mitra. Selain mendorong kesadaran mengenai pentingnya aktivitas fisik, ALZI juga menekankan bahwa upaya menjaga kesehatan otak tidak berhenti ketika seseorang menerima diagnosis demensia.

Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia Dante Saksono Harbuwono yang hadir dalam acara tersebut menegaskan bahwa demensia bukan merupakan bagian normal dari proses penuaan. Karena itu, penanganan demensia membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk pemerintah, tenaga kesehatan, keluarga, komunitas, dan masyarakat.

Menurut Dante, pentingnya deteksi dini salah satunya diwujudkan pemerintah melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG), termasuk skrining bagi kelompok lanjut usia berusia di atas 60 tahun.

Program tersebut disebut telah menjangkau lebih dari 70 juta penduduk, dengan sekitar 12 juta di antaranya merupakan lansia. Hasil skrining pada kelompok lansia menunjukkan sekitar 30%-36% memiliki indikasi gangguan kognitif.

Temuan tersebut menjadi perhatian karena gangguan kognitif pada lansia juga berkaitan dengan berbagai faktor risiko dan penyakit penyerta, seperti hipertensi, diabetes, obesitas, serta masalah kesehatan gigi.

Selain itu, hasil skrining CKG menunjukkan 96,7% lansia di Indonesia masih kurang melakukan aktivitas fisik dalam kehidupan sehari-hari.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas fisik menjadi salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian lebih besar dalam upaya menjaga kesehatan masyarakat lanjut usia dan mengurangi faktor risiko yang berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif.

Aktivitas Fisik sebagai Investasi Melawan Demensia

Sejumlah penelitian menunjukkan hingga 45% kasus demensia berpotensi ditunda atau dicegah melalui penanganan berbagai faktor risiko yang dapat dimodifikasi, termasuk kurangnya aktivitas fisik.

Manfaat aktivitas fisik juga dinilai penting ketika seseorang mulai memasuki tahap gangguan kognitif ringan. Pada tahap tersebut, intervensi yang tepat diharapkan dapat membantu mempertahankan kemampuan fungsional seseorang lebih lama.

“Aktivitas fisik bukan sekadar anjuran umum, tetapi bagian dari rencana perawatan yang bisa diresepkan dan diukur. Yang sering luput adalah bahwa manfaatnya tidak berhenti setelah diagnosis. Pada Orang Dengan Demensia, aktivitas fisik yang dirancang sesuai kemampuan akan menjaga kemandirian, suasana hati, dan kualitas hidup, baik bagi orang dengan demensia maupun pendampingnya,” ujar dr. Antonius Andi Kurniawan, Sp.KO., Subsp. ALK(K), spesialis kedokteran olahraga sekaligus Founder dan CEO Klinik Utama Eminence dan ResepGerak.ID.

Baca Juga :   Docquity dan AstraZeneca Edukasi Puluhan Ribu Pasien Kanker dan RSV di Thailand

Dalam kegiatan tersebut, peserta juga mendapatkan akses terhadap sejumlah layanan pemeriksaan dan aktivitas pendukung. Sebelum acara utama, peserta dapat mengikuti sesi Resep Gerak Assessment dari tim Eminence, deteksi dini dari Prodia, serta mengunjungi pameran yang melibatkan sejumlah mitra, antara lain Hovicare, BCA, dan HokBen.

Sekitar 30 Orang Dengan Demensia turut hadir dan difasilitasi oleh tim ALZI dengan dukungan Rukun Senior Living untuk mengikuti berbagai aktivitas bermakna.

Secara keseluruhan, sekitar 350 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Sekitar 10%-20% peserta menjalani asesmen kebugaran dan skrining deteksi dini fungsi kognitif. Dari proses tersebut, sebagian peserta kemudian dianjurkan menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Menempuh 40 Kilometer dengan Demensia

Pesan bahwa diagnosis demensia tidak serta-merta mengakhiri aktivitas seseorang juga tercermin dari pengalaman Prof. Melani Budianta yang mengalami mild cognitive impairment atau gangguan kognitif ringan.

Bersama Eka Budianta dan didampingi dr. Theresia Citraningtyas, Melani menempuh perjalanan ziarah Camino de Santiago de Compostela di Spanyol sejauh sekitar 40 kilometer pada Juni-Juli 2026.

Perjalanan tersebut mendapat dukungan dari Global Brain Health Initiative, Walk the Talk Dementia Institute, Alzheimer’s Disease International (ADI), serta sejumlah pihak lainnya. Perjalanan ditempuh selama empat hari bersama lebih dari 80 orang dengan demensia, tenaga kesehatan, peneliti, praktisi, dan pemerhati demensia dari berbagai negara.

Perjalanan itu tentu tidak bebas dari tantangan. Kelelahan, dehidrasi, disorientasi, dan berbagai kondisi lain menjadi bagian dari perjalanan yang harus dihadapi.

Namun, perjalanan tersebut dapat dilakukan melalui persiapan bertahap, pendampingan yang sesuai, serta pembagian rute ke dalam jarak harian yang realistis.

Melani mengatakan pengalaman tersebut memberikan perspektif baru bagi dirinya dan keluarga. Setelah menyelesaikan perjalanan sejauh 40 kilometer, ia bersama suami dan anaknya juga berkesempatan berbagi pengalaman dalam sebuah simposium di Spanyol.

Menurut dia, salah satu hal paling berkesan dari perjalanan tersebut adalah bertemu dengan orang dengan demensia dari berbagai negara yang telah hidup dengan diagnosis selama lebih dari delapan tahun, tetapi tetap aktif dan sehat serta bahkan terlibat dalam advokasi mengenai demensia.

Baca Juga :   Generali Indonesia Lindungi 4.000 Pelari di bank bjb Bandoeng 10K 2026

Pengalaman itu menjadi sumber inspirasi bagi Melani dan keluarganya bahwa demensia tidak secara otomatis menghentikan seseorang untuk tetap menjalani aktivitas, berkarya, maupun berkontribusi.

Dengan dukungan yang tepat dan ruang yang inklusif, ODD tetap dapat menjalani aktivitas sesuai kemampuannya sekaligus membagikan pengalaman kepada masyarakat, termasuk generasi yang lebih muda.

Menjaga Otak dalam Jangka Panjang

Neurolog dan Rektor Unika Atma Jaya Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K), MD, PhD mengatakan kemampuan otak untuk beradaptasi atau cognitive reserve dibangun melalui proses jangka panjang.

Menurutnya, aktivitas fisik, keterlibatan sosial, serta pengendalian faktor risiko vaskular seperti hipertensi dan diabetes merupakan bagian dari investasi kesehatan otak yang perlu dilakukan secara konsisten.

“Kemampuan otak untuk beradaptasi, yang kita kenal sebagai cognitive reserve, tidak dibangun dalam semalam. Aktivitas fisik, keterlibatan sosial, dan pengendalian faktor risiko vaskular seperti hipertensi dan diabetes adalah investasi jangka panjang. Karena itu, ketika keluhan mulai muncul, kita sebaiknya tidak menunggu sampai seseorang kehilangan kemandiriannya untuk memeriksakan diri,” ujar Yuda.

Senada, Plt. Direktur Eksekutif Alzheimer Indonesia Imelda Theresia mengatakan dukungan terhadap ODD tidak hanya berkaitan dengan obat-obatan dan pemeriksaan medis.

Lingkungan keluarga, komunitas, tempat kerja, hingga ruang publik turut menentukan sejauh mana seseorang dengan demensia tetap dapat bergerak dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial.

“Acara hari ini memperlihatkan bahwa dukungan bagi ODD tidak berhenti pada obat dan pemeriksaan. Keluarga, komunitas, tempat kerja, dan ruang publik ikut menentukan apakah seseorang dengan demensia tetap bisa bergerak dan terlibat. ALZI hadir agar ODD dan keluarga tidak menjalani perjalanan ini sendirian,” kata Imelda.

Jangan Maklum dengan Pikun

ALZI juga kembali mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap penurunan daya ingat sebagai konsekuensi yang otomatis terjadi karena usia.

ALZI menyebut empat dari lima orang dan dua pertiga tenaga kesehatan masih keliru menganggap demensia sebagai bagian wajar dari proses penuaan. Persepsi tersebut berpotensi membuat seseorang terlambat mendapatkan diagnosis, pengobatan, maupun dukungan yang dibutuhkan.

Karena itu, masyarakat perlu mengenali sejumlah tanda yang dapat mengarah pada demensia, antara lain kehilangan ingatan, kesulitan melakukan aktivitas yang sebelumnya sudah terbiasa dilakukan, serta gangguan dalam berkomunikasi.

Kemunculan gejala tersebut dapat menjadi alasan untuk berkonsultasi dengan dokter atau mencari informasi lebih lanjut melalui layanan ALZI.

Imelda juga menyampaikan apresiasi kepada tim, relawan, serta Koordinator Wilayah (Korwil) ALZI yang tersebar di lebih dari 20 kota di Indonesia dan delapan wilayah di luar negeri.

Baca Juga :   Schneider Electric–PTPI Dorong Transformasi Smart Hospital di Indonesia

Sepanjang Bulan Alzheimer Sedunia 2026, ALZI bersama jejaringnya menggelar lebih dari 60 kegiatan di Indonesia dan luar negeri untuk meningkatkan kepedulian serta pemahaman masyarakat mengenai demensia Alzheimer dan pentingnya deteksi dini.

Bagi masyarakat yang memiliki kekhawatiran terhadap daya ingat diri sendiri maupun orang terdekat, ALZI menyediakan layanan Careline ALZICare di 0811 822 594.

Informasi mengenai gejala demensia, program pendampingan, dan kegiatan ALZI juga tersedia melalui situs resmi organisasi serta kanal media sosial ALZI.

Bulan Alzheimer Sedunia 2026 mengusung tema global #EarlyDiagnosisMatters: The earlier you know, the more you can do, yang diadaptasi dalam kampanye Indonesia menjadi #PentingnyaDeteksiDiniDemensia: Kenali Lebih Awal, Siapkan Lebih Baik.

Tema tersebut menegaskan bahwa semakin dini perubahan fungsi kognitif dikenali, semakin besar pula ruang yang tersedia bagi individu, keluarga, dan tenaga kesehatan untuk menyusun langkah perawatan, dukungan, serta perencanaan kehidupan ke depan.

Tentang Alzheimer Indonesia

Alzheimer Indonesia (ALZI) merupakan organisasi nirlaba yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup Orang Dengan Demensia (ODD) dan caregiver atau pendampingnya di Indonesia.

ALZI didukung relawan dari berbagai usia dan tenaga kesehatan profesional multidisiplin, mulai dari dokter spesialis saraf, geriatri, psikiatri, perawat, psikolog, hingga fisioterapis.

Program ALZI mencakup kegiatan luring dan daring, seperti NARAZI (Navigasi Perawatan ALZI), Home Visit, Caregivers Meeting atau Support Group, SERAZI (Sehat Bersama ALZI), Pelatihan Demensia Alzheimer (PDA), serta ALZI Academy dan Healthy Aging Centre bersama Unika Atma Jaya.

Informasi lebih lanjut tersedia melalui ALZICare dan situs resmi ALZI. Careline ALZI: 0811 822 594.

Tentang Alzheimer’s Disease International

Alzheimer’s Disease International (ADI) merupakan federasi yang menaungi lebih dari 100 asosiasi demensia Alzheimer di dunia dan berkantor pusat di London, Inggris. Organisasi ini memiliki kemitraan resmi dengan World Health Organization (WHO).

ADI memiliki visi mengenai pencegahan, pendampingan, dan inklusi saat ini serta pengobatan di masa depan. Organisasi tersebut mendorong kombinasi solusi global dengan kearifan lokal melalui pemberdayaan organisasi Alzheimer di berbagai negara.

Bersama organisasi anggota, termasuk Alzheimer Indonesia, ADI mendorong peningkatan dukungan bagi ODD dan pendampingnya sekaligus mengadvokasi pentingnya membangun masyarakat yang inklusif terhadap demensia (dementia-inclusive society) di tingkat global, regional, dan nasional.