BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA — PT Pupuk Indonesia (Persero) memperkuat distribusi pupuk bersubsidi sekaligus mendorong efisiensi untuk menekan beban biaya usaha tani. Hingga 23 September 2026, realisasi penebusan pupuk subsidi tercatat mencapai 6,77 juta ton atau sekitar 69% dari total alokasi 2026.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan memperkuat akses petani terhadap pupuk, baik dari sisi harga maupun ketersediaan. Momentum tersebut juga bertepatan dengan peringatan Hari Tani Nasional 2026 yang jatuh pada 24 September.
Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan transformasi perusahaan tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga harus memberikan manfaat yang dapat dirasakan petani.
“Memastikan pupuk tersedia, mudah ditebus, dan terjangkau merupakan bagian dari komitmen kami untuk selalu hadir bersama petani. Berbagai revitalisasi dan transformasi yang kami lakukan tidak berhenti pada peningkatan efisiensi perusahaan, tetapi harus memberikan manfaat nyata di lapangan bagi petani,” kata Rahmad.
Harga Pupuk Subsidi Turun 20%
Salah satu kebijakan yang berdampak langsung terhadap petani adalah penurunan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi hingga 20% yang berlaku sejak Oktober 2025.
Menurut Pupuk Indonesia, penurunan tersebut ditopang oleh program revitalisasi pabrik yang dilakukan secara bertahap untuk meningkatkan efisiensi produksi. Efisiensi di sisi produksi kemudian menjadi salah satu faktor yang memungkinkan harga pupuk subsidi di tingkat petani menjadi lebih rendah.
Bagi petani, penurunan harga pupuk dapat memberikan ruang untuk mengalokasikan biaya ke kebutuhan usaha tani lainnya.
Toni Afandi dari Kelompok Tani Asahan, Desa Sukatani, Kecamatan Cilamaya Wetan, Karawang, Jawa Barat, mengatakan penurunan harga tersebut membantu mengurangi biaya pemupukan.
“Selisih harga pupuk itu bisa kita gunakan untuk alokasi lain, seperti pestisida. Dengan adanya penurunan harga, petani juga lebih semangat lagi untuk meningkatkan usaha tani,” ujar Toni.
Hal serupa disampaikan Ma’ruf Arianto, Ketua Gapoktan Desa Trayu, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Menurut dia, penurunan harga pupuk subsidi membuat biaya pemupukan menjadi lebih ringan bagi petani.
Digitalisasi Penebusan Pupuk
Selain harga, akses terhadap pupuk menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran kegiatan budidaya. Pupuk Indonesia pun memperkuat sistem penebusan dan distribusi melalui pemanfaatan teknologi digital.
Salah satu sistem yang digunakan adalah i-Pubers, yang mendukung proses penebusan pupuk subsidi di tingkat kios. Perusahaan juga mengoperasikan Command Center untuk memantau penebusan dan kondisi stok secara real-time hingga tingkat kios.
Data tersebut memungkinkan pengelolaan persediaan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing wilayah, termasuk melakukan penyesuaian distribusi ketika terjadi perubahan kebutuhan.
Sejumlah petani menilai digitalisasi membuat proses penebusan menjadi lebih sederhana. Doni, petani dari Kecamatan Penawangan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, mengatakan proses penebusan menggunakan KTP membuat akses pupuk lebih praktis.
“Penebusan pupuk dengan i-Pubers sekarang lebih mudah. Cukup bawa KTP dan prosesnya lebih cepat dibandingkan dulu,” kata Doni.
Distribusi Jadi Kunci Ketersediaan Pupuk
Pupuk Indonesia juga mengandalkan jaringan logistik terintegrasi untuk menjaga pasokan pupuk di berbagai daerah. Infrastruktur tersebut mencakup pelabuhan, armada kapal, dan jaringan pergudangan.
Melalui jaringan tersebut, perusahaan dapat melakukan rekonfigurasi atau realokasi stok antarwilayah berdasarkan kebutuhan. Strategi ini penting terutama ketika kebutuhan pupuk meningkat pada periode tertentu atau terjadi gangguan distribusi di suatu wilayah.
Suhardi, petani dari Desa Senakin, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, mengatakan ketersediaan pupuk subsidi di wilayahnya mendukung proses pemupukan sesuai waktu yang dibutuhkan tanaman.
Menurut dia, pupuk dapat tersedia sekitar dua minggu setelah penanaman padi, ketika petani mulai membutuhkan pupuk untuk tahap berikutnya.
“Ketersediaan pupuk subsidi sangat tepat di desa kami. Penebusannya juga lebih mudah karena bisa menggunakan KTP. Kami bersyukur karena harganya pun terjangkau bagi ekonomi kami di desa,” ujar Suhardi.
Dorong Ekosistem Pertanian Lebih Luas
Pupuk Indonesia tidak hanya mengandalkan bisnis pupuk sebagai pendekatan untuk mendukung produktivitas petani. Perusahaan juga mengembangkan sejumlah program yang menyasar aspek budidaya, pendampingan, pembiayaan, hingga pemanfaatan teknologi.
Melalui program Agrosolution, Rembuk Tani, dan TAJUMASE, perusahaan memberikan pendampingan sekaligus membuka akses terhadap dukungan yang dibutuhkan petani.
Sementara di sisi teknologi, Pupuk Indonesia mengembangkan Precision Farming dan Mobil Uji Tanah. Teknologi tersebut digunakan untuk membantu petani memperoleh rekomendasi pemupukan berdasarkan kondisi lahan dan kebutuhan tanaman.
Pendekatan ini menempatkan efisiensi penggunaan pupuk sebagai bagian dari produktivitas usaha tani. Dengan mengetahui kondisi tanah dan kebutuhan tanaman, pemberian pupuk dapat disesuaikan sehingga penggunaan input pertanian dapat lebih terukur.
“Hari Tani Nasional menjadi momentum untuk kembali menegaskan bahwa petani adalah bagian penting dari perjalanan Pupuk Indonesia. Kami akan terus memperkuat ketersediaan, distribusi, dan kemudahan akses pupuk,” ujar Rahmad.
Bagi industri pertanian, ketersediaan pupuk menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga produktivitas tanaman. Karena itu, kombinasi antara harga yang terjangkau, distribusi yang tersedia, proses penebusan yang sederhana, serta pendampingan budidaya menjadi bagian dari upaya memperkuat rantai pasok pertanian dari hulu hingga tingkat petani.











