Scroll untuk baca artikel
Lifestyle

Takkan Kubiarkan Kau Menangis Kisahkan Hubungan Pasang Surut Orangtua dan Anak

3
×

Takkan Kubiarkan Kau Menangis Kisahkan Hubungan Pasang Surut Orangtua dan Anak

Sebarkan artikel ini

 

BISNISASIA.CO.ID,JAKARTA-Film karya perdana Ferly Halim berjudul Takkan Kubiarkan Kau Menangis sukses menyuguhkan kisah haru dan emosional tentang pasang surut hubungan ibu dan anak yang penuh dinamika.

Diproduksi Langit Pictures Indonesia, film ini tak hanya sekadar menyajikan drama keluarga problematika orangtua dan anak, tetapi juga menjadikan musik sebagai medium healing dan bahasa universal menyampaikan perasaan yang sulit diungkapkan.
Debut peran ganda sebagai sutradara sekaligus produser ini, Ferly Halim mencoba memadukan unsur family drama, coming-of-age,dan balutan musik pada cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia.
Mengambil latar Kota Semarang, film ini mengikuti perjalanan Dika, seorang remaja yang merasa dirinya tidak pernah cukup di mata ibunya, Dini.

Dini merupakan seorang ibu tunggal yang masih berusaha berdamai dengan trauma masa lalu. Perbedaan cara pandang dan komunikasi membuat hubungan keduanya semakin renggang.

Akan tetapi, Dika menemukan ruang untuk menjadi dirinya sendiri melalui musik bersama teman-temannya. Sebuah lagu kemudian menjadi jalan untuk mempertemukan kembali hati ibu dan anak.

Ferly Halim mengatakan, film ini berangkat dari realitas yang sering terjadi dalam hubungan keluarga. Menurutnya, konflik antara orang tua dan anak tidak selalu muncul karena hilangnya kasih sayang, melainkan akibat perbedaan cara berkomunikasi.

Baca Juga :   National Comprehensive Cancer Network dan Vietnam National Cancer Hospital Tingkatkan Pengobatan Kanker

“Menurut saya, hubungan ibu dan anak sering kali dipenuhi kesalahpahaman bukan karena mereka tidak saling mencintai, tetapi karena cara berkomunikasi yang berbeda. Terkadang hal sederhana seperti intonasi atau cara penyampaian bisa membuat ibu merasa anaknya tidak patuh, sementara anak merasa ibunya tidak menyayangi dirinya,” ujar Ferly Halim.

Melalui Takkan Kubiarkan Kau Menangis, Ferly ingin mengingatkan bahwa komunikasi menjadi kunci penting dalam membangun keluarga yang hangat. Ia juga menghadirkan musik sebagai bahasa yang mampu menyampaikan emosi yang terkadang sulit diutarakan secara langsung.

Ferly mengungkapkan sebagai anak, kita pun sering kali menganggap kasih sayang kepada ibu sebagai sesuatu yang sudah dipahami tanpa perlu diungkapkan. Padahal, ibu juga perlu merasakan dan mendengar bentuk kasih sayang itu secara langsung.

“Melalui film ini, saya ingin mengajak semua orang untuk lebih berani menunjukkan cinta kepada ibu selagi masih memiliki kesempatan,” kata Ferly Halim.

Tak hanya membawa pesan tentang keluarga, film ini juga menghadirkan tantangan tersendiri bagi para pemainnya. Didi Riyadi mengaku mengalami pengalaman berbeda saat harus mendalami karakter dengan logat Jawa yang cukup kental.

Baca Juga :   Patung Lilin Baru Aktor Hyung Bin Hadir di Madame Tussauds Hongkong

“Mungkin ini pertama kali saya dengan logat dan aksen Jawa, medok gitu. Saya kan kalau bicara sehari-hari logat seperti yang kalian sekarang dengar. Nah, di sini orang Jawa, tapi agak campur,” ujar Didi Riyadi.

Sementara itu, Ari Irham mengaku memiliki tantangan tersendiri ketika harus membawakan lagu milik Sheila On 7 yang sangat dikenal masyarakat. Menurutnya, menyanyikan lagu dari band legendaris ini memberikan tekanan tersendiri karena ia bukan seorang vokalis profesional.

“Pressure-nya itu bukan bawain OST atau soundtrack filmnya. Masalahnya ini bawain lagu Sheila On 7. Kita bawain lagu Sheila On 7 yang orang sudah tahu. Yang saya nyanyikan adalah lagu Sheila On 7, jadi itu lumayan cukup beban buat saya karena saya juga bukan vokalis, saya juga bukan Duta,” ungkap Ari Irham.

Keterlibatan dalam proyek film ini membuat Ari Irham pun ingin berbagi pandangan mengenai keresahan yang sering dialami oleh generasi Gen Z. Menurutnya, banyak anak muda saat ini merasa sulit untuk menyelaraskan keinginan pribadi dengan harapan orang tua, yang akhirnya berujung pada miskomunikasi.

“Harapan saya setelah teman-teman Gen Z menonton film Takkan Kubiarkan Kau Menangis kalian semua bisa lebih terbuka untuk berkomunikasi dengan orang tua,” ujar Ari Irham

Baca Juga :   Teknologi Hadirkan Berbagai Pengalaman Baru di Sebuah Kota Tua

Ari menekankan bahwa kunci dari hubungan yang harmonis adalah keberanian untuk berbicara secara jujur mengenai masa depan. Karakter Dika yang ia mainkan diharapkan bisa menjadi cermin sekaligus pemantik semangat bagi penonton muda.

Secara overall,Takkan Kubiarkan Kau Menangis adalah drama keluarga yang begitu hangat dan emosional tentang cinta seorang ibu, pencarian jati diri seorang anak, persahabatan, dan keberanian untuk mengungkapkan perasaan sebelum semuanya terlambat.

Kekuatan musik menjadi salah satu elemen penting dalam film ini. Takkan Kubiarkan Kau Menangis menghadirkan lagu-lagu legendaris Sheila On 7 seperti “Dan”, “Kita”, dan “Hujan Turun” yang membawa nuansa nostalgia bagi penonton.

Selain itu, film ini juga memiliki dua lagu orisinal berjudul “Takkan Kubiarkan Kau Menangis” dan “Sahabat” yang dibawakan Keisha Alvaro bersama Sand Band untuk memperkuat perjalanan emosional para karakter.

Film Takkan Kubiarkan Kau Menangis dibintangi oleh Ari Irham, Shanty, Ariyo Wahab, Agoye Mahendra, Emiliano Cortizo, Teuku Rizky, Annisa Kayla, Askara Halim, Sandy Andarusman, dan Didi Riyadi. Film produksi Langit Pictures Indonesia ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 16 Juli 2026.