BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mencatat kinerja keuangan yang solid pada kuartal IV-2025 sekaligus menutup tahun dengan capaian operasional tertinggi sepanjang sejarah.
Perusahaan panas bumi dengan kode saham IDX: PGEO ini membukukan pendapatan sebesar US$432,73 juta sepanjang 2025, meningkat 6,29 persen secara year-on-year (YoY) dibandingkan pendapatan 2024 sebesar US$407,12 juta.
Kinerja tersebut ditopang oleh peningkatan produksi panas bumi yang mencapai all-time high, dengan kenaikan produksi sekitar 5,6 persen sepanjang 2025. Capaian ini menunjukkan konsistensi perusahaan dalam memperluas pemanfaatan energi panas bumi di Indonesia sebagai bagian dari upaya mendukung transisi energi nasional.
Direktur Keuangan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk, Yurizki Rio, mengatakan pertumbuhan pendapatan mencerminkan fundamental keuangan perusahaan yang tetap kuat di tengah dinamika industri energi global.
Menurutnya, peningkatan produksi dan kinerja operasional yang stabil menjadi faktor utama yang menjaga kesehatan bisnis perusahaan.
Kinerja keuangan 2025
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasi per 31 Desember 2025, perusahaan mencatatkan kinerja sebagai berikut:
- Pendapatan: US$432,73 juta
- Laba bersih: US$137,67 juta
- Total aset: US$3,03 miliar
- Kas dan setara kas: US$718,50 juta
Capaian tersebut menunjukkan posisi keuangan yang solid sekaligus memberikan ruang bagi perusahaan untuk melanjutkan ekspansi bisnis panas bumi.
Strategi menuju produsen panas bumi kelas dunia
Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk, Ahmad Yani, menyampaikan bahwa perusahaan menargetkan pertumbuhan berkelanjutan dengan memaksimalkan potensi panas bumi nasional.
Ia menjelaskan bahwa perusahaan memiliki visi menjadi produsen panas bumi terkemuka di dunia sekaligus geothermal center of excellence di tingkat global.
Untuk mencapai target tersebut, perusahaan menjalankan tiga strategi utama, yaitu menjaga keandalan operasional pembangkit listrik tenaga panas bumi yang telah beroperasi, mendorong ekspansi dan pertumbuhan bisnis, serta mengembangkan sumber pendapatan baru di masa depan.
Saat ini, perusahaan mengelola pembangkit listrik tenaga panas bumi dengan kapasitas terpasang 727 megawatt (MW) yang dioperasikan secara mandiri.
Perluas proyek panas bumi
Dalam jangka panjang, perusahaan menargetkan kapasitas terpasang hingga 3 gigawatt (GW) yang berasal dari 15 Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) yang telah teridentifikasi.
Beberapa proyek pengembangan yang tengah dijalankan antara lain: Lumut Balai Unit 3 dan 4 (2 × 55 MW), Hululais Unit 1 dan 2 (110 MW), Lahendong Unit 7 dan 8 (2 × 20 MW) dan Binary Unit (10 MW)
Selain itu, perusahaan juga mengembangkan sejumlah proyek co-generation dengan total kapasitas sekitar 230 MW.
Perkuat sinergi BUMN
Perusahaan juga memperkuat kolaborasi dengan badan usaha milik negara lain untuk mempercepat pengembangan energi panas bumi. Salah satunya melalui kerja sama dengan PT PLN Indonesia Power yang mencakup pengembangan 19 proyek panas bumi eksisting dengan total kapasitas 530 MW.
Melalui kolaborasi tersebut, potensi tambahan kapasitas diperkirakan dapat mencapai 1.130 MW dari wilayah kerja yang telah berproduksi maupun area prospektif baru.
Langkah ini sekaligus mendukung target peningkatan porsi pembangkit berbasis energi baru terbarukan hingga 76 persen pada periode 2025–2034 sebagaimana tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).
Dengan ekspansi proyek dan penguatan kolaborasi, perusahaan berupaya memastikan pemanfaatan energi panas bumi dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat sekaligus mempercepat transisi menuju energi bersih di Indonesia.











