BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Modus penipuan digital di Indonesia terus berkembang dengan teknik yang semakin canggih. Mulai dari teknologi deepfake berbasis kecerdasan buatan, fake Base Transceiver Station (BTS) yang mengirim pesan palsu seolah berasal dari institusi resmi, hingga malware yang mampu menyusup dan menyadap perangkat pengguna.
Penyedia solusi digital identity dan fraud prevention, VIDA, menilai penipuan digital kini tidak lagi bersifat sporadis, tetapi semakin terorganisir dan menyerupai industri dengan jaringan yang terstruktur.
Dalam podcast Kasisolusi bertajuk “80% Penipuan OTP Naik Saat Musim THR!? Ini Modus Phishing yang Bikin Rekening Ludes!!”, VIDA mengungkap bahwa pelaku penipuan terus mengembangkan metode baru untuk mengelabui korban.
Founder dan Group CEO VIDA Niki Luhur mengatakan pelaku kejahatan digital selalu beradaptasi setiap kali sistem keamanan diperkuat.
“Penipuan selalu beradaptasi. Setiap kali sistem pertahanan diperkuat, pelaku akan menguji ulang, menyesuaikan teknik, dan kembali dengan metode yang lebih kompleks serta sistematis,” ujar Niki.
Menurutnya, pelaku memanfaatkan celah keamanan, rendahnya literasi digital masyarakat, serta momentum tertentu untuk melancarkan aksi penipuan.
Penipuan meningkat saat musim THR
Berdasarkan data internal VIDA, lonjakan kasus penipuan digital pada 2025 paling banyak terjadi menjelang dan saat pencairan Tunjangan Hari Raya (THR).
Pada periode tersebut, aktivitas transaksi dan mobilitas masyarakat meningkat sehingga membuka lebih banyak peluang bagi pelaku untuk melancarkan aksinya.
Dua modus penipuan yang paling sering terjadi
VIDA mencatat setidaknya terdapat dua modus penipuan digital yang paling banyak digunakan saat ini.
1. Phishing atau smishing
Metode ini memancing korban untuk mengklik tautan dan memasukkan data pribadi seperti username, password, hingga One-Time Password (OTP) melalui pesan SMS atau aplikasi pesan.
Pelaku sering menyamar sebagai institusi resmi, seperti perusahaan logistik atau penyedia layanan digital. Dalam beberapa kasus, mereka memanfaatkan teknologi fake BTS untuk mengirim pesan palsu secara massal yang tampak seolah berasal dari institusi terpercaya.
2. Malware melalui aplikasi berbahaya
Modus ini memancing korban untuk mengunduh aplikasi berbahaya dalam bentuk file APK. File tersebut biasanya dikemas sebagai dokumen pengiriman paket, undangan pernikahan, atau dokumen lain yang terlihat meyakinkan.
Setelah diunduh, aplikasi tersebut dapat memberikan akses jarak jauh kepada pelaku untuk memantau perangkat korban, termasuk mencuri password dan data sensitif lainnya.
Kedua metode tersebut pada dasarnya bertujuan memperoleh akses terhadap kredensial pengguna, sehingga password saja tidak lagi cukup menjadi benteng keamanan di era digital saat ini.
Pentingnya keamanan identitas digital berlapis
Niki menjelaskan bahwa sistem keamanan identitas digital umumnya terdiri dari tiga lapisan utama.
Lapisan pertama adalah what you know, yaitu informasi yang diketahui pengguna seperti password atau pertanyaan keamanan. Lapisan kedua adalah what you have, yaitu perangkat yang dimiliki pengguna seperti ponsel atau token keamanan.
Sementara lapisan ketiga adalah who you are, yaitu identitas biometrik yang melekat pada individu, seperti wajah, suara, atau sidik jari.
“Password dan OTP tidak lagi cukup menjadi satu-satunya metode verifikasi yang aman. Karena itu, perangkat yang kita miliki serta identitas biometrik perlu dilindungi dan dimanfaatkan sebagai lapisan keamanan tambahan,” kata Niki.
VIDA sendiri menerapkan pendekatan layered defense, yaitu perlindungan berlapis yang menggabungkan keamanan perangkat dengan verifikasi berbasis biometrik untuk meningkatkan perlindungan terhadap identitas digital pengguna.
Kampanye #JanganAsalKlik
Selain menghadirkan solusi teknologi, VIDA juga aktif melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya penipuan digital.
Melalui kampanye #JanganAsalKlik, VIDA mengajak masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap setiap pesan digital yang meminta mereka mengklik tautan, mengunduh aplikasi, atau membagikan informasi pribadi.
Sebagai bagian dari edukasi tersebut, VIDA bersama Kasisolusi juga menghadirkan diskusi dalam format podcast yang membahas perkembangan modus penipuan digital di Indonesia.











