Scroll untuk baca artikel
Headline

DBS: Saham Asia dan Emas Jadi Pilihan Investasi Semester II 2026

1
×

DBS: Saham Asia dan Emas Jadi Pilihan Investasi Semester II 2026

Sebarkan artikel ini
(Ki-ka) Head of Sales & Distribution PT Bank DBS Indonesia, Festia Pisa Valensia, Consumer Banking Director PT Bank DBS Indonesia Melfrida Gultom, dan Head of Investment & Insurance Product PT Bank DBS Indonesia Djoko Soelistyo dalam acara media briefing sebagai rangkaian DBS Insights Forum 2026: A New Lens on a Multipolar World di Jakarta, Rabu (15/07/2026). Melalui forum ini, Bank DBS Indonesia menghadirkan sejumlah perspektif strategis mengenai prospek ekonomi, dinamika geopolitik, serta peluang investasi dari para ahli terkini untuk membantu nasabah dan investor mengambil keputusan yang lebih terukur di tengah ketidakpastian global.

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Bank DBS Indonesia menilai peluang investasi pada semester II 2026 tetap terbuka meski ketidakpastian ekonomi global masih membayangi pasar keuangan. Investor disarankan menjaga diversifikasi portofolio, dengan saham Asia di luar Jepang, emas, dan obligasi korporasi negara maju menjadi sejumlah aset yang dinilai prospektif.

Pandangan tersebut disampaikan dalam DBS Insights Forum 2026: A New Lens on a Multipolar World, forum yang membahas prospek ekonomi Indonesia, dinamika geopolitik, serta strategi investasi bagi pelaku usaha dan investor. Acara ini menghadirkan pakar geopolitik, politik, dan investasi, termasuk Dino Patti Djalal dan Yunarto Wijaya.

Presiden Direktur PT Bank DBS Indonesia, Lim Chu Chong, mengatakan forum tersebut dirancang untuk membantu nasabah private dan priority banking memahami dampak perubahan geopolitik dan ekonomi terhadap pengelolaan kekayaan.

“Forum ini diharapkan memberikan panduan dan praktik terbaik dalam mengembangkan kekayaan dan usaha, hingga perencanaan suksesi keluarga yang berkelanjutan,” ujar Lim dalam keterangan resmi.

Berdasarkan rekomendasi DBS Chief Investment Office (CIO) untuk kuartal III 2026, investor disarankan meningkatkan alokasi investasi pada saham Asia di luar Jepang, obligasi korporasi negara maju, emas, aset swasta, serta dana lindung nilai (hedge funds). Sementara itu, posisi investasi pada saham global, Amerika Serikat, Jepang, dan obligasi pemerintah negara maju direkomendasikan netral, sedangkan eksposur terhadap saham Eropa, obligasi pasar berkembang, dan kas disarankan dikurangi.

Baca Juga :   Ilmuwan Sebut Pendarat NASA Mungkin Tidak Sengaja Membunuh Kehidupan di Mars

DBS menilai emas masih menarik sebagai instrumen diversifikasi dan lindung nilai di tengah risiko geopolitik, tekanan inflasi, serta tren dedolarisasi global.

Di sisi bisnis wealth management, DBS Treasures Private Client mencatat pertumbuhan positif pada semester I 2026. Total Assets Under Management (AUM) meningkat 13% secara tahunan, sementara rata-rata AUM per nasabah naik 15%. Selain itu, Total Income tumbuh 34%, didorong kenaikan Investment Fee Income sebesar 65%, sedangkan laba bersih setelah pajak (NPAT) meningkat 24%.

Baca Juga :   Tekanan Tarif dan Tantangan Makro Jadi Ujian Baru bagi Ekonomi Indonesia 2025

Consumer Banking Director PT Bank DBS Indonesia, Melfrida Gultom, mengatakan kebutuhan pengelolaan kekayaan kini semakin kompleks sehingga memerlukan layanan yang lebih personal, mulai dari solusi investasi hingga perencanaan suksesi keluarga.

Untuk memperkuat kualitas layanan, Bank DBS Indonesia juga membentuk Wealth Management Institute yang bertujuan meningkatkan kompetensi relationship manager dalam menghadapi kebutuhan nasabah yang terus berkembang.

Atas kinerjanya di sektor wealth management, Bank DBS Indonesia baru-baru ini meraih penghargaan Best Private Bank Indonesia 2026 dari FinanceAsia serta Best Priority Banking Experience 2026 dari Asian Banking & Finance.