BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA — Ketegangan geopolitik global kembali meningkat seiring memanasnya hubungan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memicu kekhawatiran terhadap stabilitas Timur Tengah serta jalur perdagangan energi dunia. Di saat bersamaan, kebijakan tarif impor global Amerika Serikat yang mencapai sekitar 15% turut menambah tekanan pada perdagangan internasional.
Kondisi tersebut mendorong arus perdagangan dan investasi global mencari kawasan yang lebih stabil dan prospektif. Asia pun kian menonjol sebagai pusat pertumbuhan baru, dengan Indonesia berada pada posisi strategis berkat stabilitas ekonomi domestik dan prospek pertumbuhan yang tetap kuat.
Direktur Institutional Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Anthonius Sehonamin, menilai kemitraan Indonesia dan Tiongkok menjadi salah satu pilar penting dalam integrasi ekonomi kawasan.
“Momentum Indonesia–Tiongkok bukan hanya peluang perdagangan, tetapi juga mencerminkan transformasi lanskap bisnis regional yang semakin terintegrasi,” ujarnya.
Dalam menghadapi dinamika global tersebut, DBS merumuskan lima strategi utama bagi korporasi agar tetap tangguh sekaligus mampu menangkap peluang lintas negara.
1. Diversifikasi Pasar dan Rantai Pasok
Eskalasi konflik global meningkatkan risiko gangguan logistik dan lonjakan biaya distribusi. Dalam situasi ini, korporasi perlu melakukan diversifikasi pasar dan memperkuat keterlibatan dalam rantai pasok regional, khususnya yang terintegrasi dengan Tiongkok sebagai pusat manufaktur dunia.
DBS Group Research memproyeksikan ekonomi Tiongkok tetap tumbuh sekitar 4,5% pada 2026, memberikan peluang bagi perusahaan Indonesia untuk menyeimbangkan risiko global melalui ekspansi pasar regional.
2. Kelola Risiko Nilai Tukar
Fluktuasi nilai tukar menjadi tantangan utama dalam bisnis lintas negara. DBS memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di kisaran Rp16.350 pada akhir 2026.
Korporasi disarankan menerapkan strategi lindung nilai (hedging), natural hedge, serta penyesuaian struktur pembiayaan berbasis mata uang untuk menjaga stabilitas arus kas dan margin keuntungan.
3. Perkuat Struktur Keuangan
Dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5,3% dan inflasi 2,8%, perusahaan memiliki ruang untuk ekspansi. Namun, ketidakpastian global tetap menuntut pengelolaan keuangan yang disiplin.
Korporasi perlu menjaga struktur neraca yang sehat, mengontrol leverage, serta mendiversifikasi sumber pendanaan agar tetap fleksibel dalam mengambil peluang investasi.
4. Manfaatkan Pergeseran Rantai Pasok
Perubahan geopolitik dan kebijakan perdagangan global mendorong restrukturisasi rantai pasok internasional. Indonesia menjadi salah satu tujuan utama ekspansi industri Tiongkok.
Sepanjang 2019 hingga September 2024, investasi Tiongkok di Indonesia mencapai sekitar US$34,19 miliar atau 18% dari total investasi asing. Sektor utama meliputi industri logam, transportasi, logistik, kimia, energi, dan kawasan industri.
Hal ini membuka peluang bagi korporasi domestik untuk masuk ke rantai nilai industri yang lebih luas, termasuk melalui kemitraan strategis dan joint venture.
5. Perkuat Kolaborasi dan Daya Saing Global
Kebijakan tarif AS menciptakan peluang sekaligus tantangan baru. Meski daya saing produk Indonesia meningkat, sifat tarif yang sementara menuntut strategi ekspor yang adaptif.
Kolaborasi dengan Tiongkok melalui inisiatif seperti Two Parks Twin Countries (TCTP) membuka peluang pengembangan manufaktur, teknologi, dan peningkatan nilai tambah industri.
DBS Global Financial Markets turut menawarkan solusi keuangan terintegrasi untuk membantu korporasi menghadapi volatilitas pasar, termasuk pengelolaan risiko nilai tukar dan akses ke instrumen keuangan global.
Melalui forum diskusi dan market outlook, seperti webinar “2026 – Steering through Political and Economic Uncertainties”, DBS mendukung korporasi dalam merumuskan strategi adaptif di tengah perubahan global.
“Perusahaan yang siap secara finansial dan strategis akan memiliki posisi lebih kuat dalam rantai nilai global,” kata Anthonius.











