BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Kelainan saluran kemih dan ginjal bawaan pada anak dapat dideteksi sejak masa kehamilan melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG) rutin. Deteksi dini dinilai penting untuk mencegah kerusakan ginjal permanen yang berpotensi memengaruhi kualitas hidup anak hingga dewasa.
Dokter Spesialis Bedah Anak Konsultan Urologi Anak di Primaya Evasari Hospital dan Primaya Hospital PGI Cikini, Ronald Sorongku, mengatakan perkembangan teknologi pencitraan memungkinkan berbagai kelainan urologi kongenital dikenali bahkan sebelum bayi dilahirkan.
Menurutnya, pemeriksaan USG fetomaternal dapat membantu dokter mendeteksi sejumlah gangguan pada saluran kemih dan ginjal sejak masa janin, sehingga peluang mempertahankan fungsi ginjal dalam jangka panjang menjadi lebih besar.
“Saat ini banyak kelainan saluran kemih dan ginjal pada anak sudah dapat diketahui sejak masa kehamilan. Semakin cepat terdeteksi, semakin besar peluang untuk mencegah kerusakan ginjal permanen,” ujarnya.
Salah satu kelainan yang paling sering ditemukan adalah Hidronefrosis kongenital, yakni kondisi pelebaran ginjal akibat gangguan aliran urine. Kelainan ini umumnya pertama kali teridentifikasi melalui pemeriksaan USG selama kehamilan.
Meski demikian, Ronald menegaskan bahwa tidak semua kasus hidronefrosis memerlukan tindakan operasi. Penanganan akan disesuaikan dengan tingkat keparahan kondisi serta hasil evaluasi fungsi ginjal setelah bayi lahir.
Untuk memastikan kondisi ginjal dan saluran kemih, dokter biasanya melakukan pemeriksaan lanjutan berupa USG traktus urinarius, renogram atau skintigrafi ginjal, serta pemeriksaan radiologi lainnya. Evaluasi tersebut bertujuan menilai fungsi ginjal, potensi kerusakan, dan kebutuhan intervensi medis lebih lanjut.
Menurut Ronald, penanganan kelainan urologi anak memerlukan pendekatan multidisiplin yang melibatkan berbagai tenaga medis, mulai dari dokter fetomaternal, spesialis obstetri dan ginekologi, neonatologi, radiologi, urologi anak, bedah anak, hingga rehabilitasi medik.
Pendekatan tersebut memungkinkan perencanaan terapi dilakukan sejak masa kehamilan, proses persalinan, hingga pemantauan tumbuh kembang anak setelah lahir. Dengan demikian, orang tua memiliki waktu yang cukup untuk memahami kondisi anak serta mempersiapkan penanganan yang diperlukan.
Selain membantu menentukan lokasi dan metode persalinan yang sesuai, deteksi prenatal juga memungkinkan dokter memantau perkembangan ginjal, kandung kemih, serta kondisi cairan ketuban yang menjadi salah satu indikator penting kesehatan janin.
Ronald mengingatkan bahwa pemeriksaan kehamilan rutin tidak hanya bertujuan memantau pertumbuhan janin, tetapi juga berperan penting dalam mendeteksi berbagai kelainan bawaan yang dapat memengaruhi kesehatan anak di masa mendatang.
Menurutnya, tujuan utama penanganan bukan semata-mata melakukan tindakan operasi, melainkan menjaga fungsi ginjal anak agar tetap optimal sepanjang hidup. Dengan diagnosis dini, pemantauan yang tepat, dan kolaborasi lintas disiplin, risiko komplikasi serius dapat ditekan sehingga anak memiliki peluang tumbuh dan berkembang secara optimal.











