Scroll untuk baca artikel
Otomotif

Populix: Pertumbuhan Kendaraan Listrik di Indonesia Tergantung pada Infrastruktur Pengisian Baterai

22
×

Populix: Pertumbuhan Kendaraan Listrik di Indonesia Tergantung pada Infrastruktur Pengisian Baterai

Sebarkan artikel ini
Panel diskusi bertema “Electric Vehicle Dynamics: Unveiling Consumer Perspectives and Market Insights”.

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Indonesia, dengan populasi besar dan kebutuhan transportasi yang tinggi, telah menunjukkan peningkatan signifikan dalam adopsi kendaraan listrik (EV) dalam beberapa tahun terakhir. Namun, masalah baterai dan infrastruktur pengisian daya menjadi hambatan utama bagi pertumbuhan industri kendaraan listrik di negara ini.

Riset terbaru dari Populix berjudul “Electric Vehicle Dynamics: Unveiling Consumer Perspectives and Market Insights” menunjukkan bahwa kekhawatiran mengenai sisa baterai selama perjalanan (65%), kapasitas jarak tempuh yang terbatas (61%), dan kurangnya bengkel yang menerima perbaikan untuk kerusakan non-listrik (49%) adalah beberapa tantangan utama. Selain itu, keterbatasan infrastruktur atau fasilitas pengisian daya (43%) dan lokasi stasiun pengisian yang masih sedikit dan sering jauh (42%) juga menjadi masalah bagi konsumen kendaraan listrik.

“Seiring dengan perkembangan pasar kendaraan listrik (EV) di Indonesia, kolaborasi antara regulator dan produsen EV menjadi semakin penting untuk mengatasi tantangan mendasar seperti aksesibilitas, jarak tempuh, biaya, hingga ketersediaan infrastruktur pengisian daya yang menghambat integrasi kendaraan listrik dalam mobilitas sehari-hari. Dengan memahami tantangan dan preferensi konsumen, sinergi ini menjadi kunci untuk mendorong adopsi EV yang lebih luas serta meningkatkan pertumbuhan industri kendaraan listrik di Indonesia,” ujar Dr. Timothy Astandu, CEO & Co-Founder Populix.

Baca Juga :   Dorong Pertumbuhan Industri Kendaraan Listrik, Pemerintah Beri Insentif Pajak bagi Investor EV Global

Dinamika Penggunaan Kendaraan Listrik

Pengisian daya kendaraan listrik paling nyaman dilakukan di rumah (59%), sementara stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) hanya digunakan oleh 15% responden. Lokasi penukaran baterai kendaraan listrik yang paling populer adalah lokasi brand resmi (78%) diikuti oleh stasiun penukaran baterai kendaraan listrik umum (SPBKLU) (42%).

Frekuensi penggunaan SPKLU atau SPBKLU bervariasi dimana 55% melakukan pengisian daya di tempat tersebut setidaknya satu kali seminggu dan bahkan sebagian kecil menggunakannya setiap hari.

  • Sepeda Listrik: Dalam kategori sepeda listrik, tujuan utama penggunaan termasuk belanja kebutuhan sehari-hari (79%), antar-jemput teman atau keluarga (62%), mengunjungi teman atau keluarga (58%), mengirim barang (23%), dan bekerja (13%). Konsumen memiliki ekspektasi harga sepeda listrik rata-rata sebesar Rp 4.700.000 dengan jarak tempuh 12,32 KM untuk memenuhi kebutuhan mobilitas mereka. Sepeda listrik yang paling banyak digunakan di Indonesia adalah Uwinfly (32%), Exotic (22%), dan Polygon (12%).
  • Motor Listrik: Responden menggunakan motor listrik dengan tujuan utama untuk belanja kebutuhan sehari-hari (72%), mengunjungi teman atau keluarga (57%), antar-jemput teman atau keluarga (57%), bekerja (47%), dan perjalanan dalam kota (46%). Untuk memenuhi tujuan tersebut, konsumen merasa bahwa jarak tempuh motor listrik yang ideal adalah 74,93 KM. Sementara itu, ekspektasi konsumen terhadap harga motor listrik rata-rata sebesar Rp 18.000.000 dengan tiga merek motor listrik yang paling banyak digunakan adalah Volta (15%), Honda (15%), dan Polytron (13%).
  • Mobil Listrik: Sementara untuk mobil listrik, tujuan utama penggunaan meliputi mengunjungi teman atau keluarga (71%), perjalanan dalam kota (69%), bekerja (67%), antar-jemput teman atau keluarga (63%), dan belanja kebutuhan sehari-hari (60%). Rata-rata konsumen menilai harga mobil listrik yang ideal adalah sebesar Rp 250.000.000 dan memiliki jarak tempuh 261,18 KM. Adapun mobil listrik yang saat ini paling banyak digunakan adalah Wuling (57%), Hyundai (24%), dan Toyota (9%).
Baca Juga :   Tata Motors Diskon Harga Mobil Listriknya di India,

VP of Research Populix Indah Tanip menjelaskan bahwa saat ini pembelian kendaraan listrik masih didorong kuat oleh program-program promosi. Adapun bentuk promosi yang paling disukai oleh konsumen mencakup diskon khusus dari produsen seperti potongan harga atau cashback (65%), garansi baterai atau unit (65%), subsidi pemerintah dalam bentuk diskon atau insentif langsung (57%), serta penawaran paket spesial selama periode tertentu (43%).

Sumber Informasi Tentang Kendaraan Listrik di Indonesia

Mayoritas responden mencari informasi seputar kendaraan listrik dari media sosial dan channel online (89%) serta aset-aset BTL (80%). Adapun lima sumber media sosial dan channel online yang paling banyak digunakan meliputi iklan YouTube (39%), media sosial resmi brand (38%), website resmi brand (35%), iklan Instagram (22%), dan review di forum online (20%).

Baca Juga :   Populix Ungkap 63 Persen Generasi Muda Merupakan Pengguna Aplikasi Kencan Online

Sementara itu, untuk kategori BTL (Below the Line), 53% responden menyebut rekomendasi teman dan keluarga sebagai sumber informasi terpercaya, diikuti oleh pameran otomotif di mall (41%) dan event otomotif seperti GIIAS atau IIMS (27%).

Di sisi lain, selain media sosial dan channel online, aset-aset BTL, responden juga mencari informasi seputar kendaraan listrik dari aset-aset ATL (Above the Line), khususnya publikasi atau website otomotif sebagaimana dipercaya oleh 20% responden, dan poster di jalanan atau iklan billboard yang menjadi sumber informasi 17% responden.

Laporan “Electric Vehicle Dynamics: Unveiling Consumer Perspectives and Market Insights” merupakan salah satu laporan premium Populix yang dirancang secara khusus untuk membantu bisnis mendapatkan wawasan mendalam tentang tren industri dan preferensi konsumen. Laporan-laporan ini diharapkan dapat menjadi acuan bisnis dalam mengambil keputusan yang tepat untuk mendorong pertumbuhan bisnis. (saf)