Scroll untuk baca artikel
Industri

Peluang Menjanjikan Sektor Blue Economy Berpotensi Buka 45 Juta Lapangan Kerja Baru

19
×

Peluang Menjanjikan Sektor Blue Economy Berpotensi Buka 45 Juta Lapangan Kerja Baru

Sebarkan artikel ini
Founder Ravenry Aditya Subiyakto menyampaikan paparan solusi Blue Hub di AIS Forum.

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Indonesia saat ini menuangkan target pengembangan sektor Ekonomi Biru di dalam RPJPN 2025-2045, dengan target kontribusi terhadap PDB Indonesia meningkat menjadi 15% pada 2045 dari sebelumnya 7,92% di 2022. Potensi sektor Ekonomi Biru juga dapat menyerap tenaga kerja sebesar 45 juta lapangan kerja baru.

Co-founder, Ravenry, startup Indonesia yang bergerak di bidang market research, Aditya Subiyakto mengungkapkan sektor ekonomi biru merupakan pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan untuk pertumbuhan ekonomi, peningkatan mata pencaharian, dan lapangan kerja sekaligus menjaga kesehatan ekosistem laut. Sektor ini meliputi berbagai aktivitas yang berkaitan dengan kelautan termasuk akuakultur, pariwisata, pengelolaan sampah, konstruksi, transportasi, energi terbarukan, dll. Sektor ini menghadirkan berbagai peluang menarik bagi individu dan dunia usaha untuk terjun ke bidang keberlanjutan dan berkembang melampaui sektor hijau.

“Blue economy mencakup berbagai industri dengan potensi pasar signifikan yang belum dimanfaatkan, dan masih langka yang menyediakan ruang untuk memelopori solusi inovatif yang memecahkan tantangan lingkungan yang mendesak dan memberikan dampak yang berarti terhadap lingkungan masa depan planet Bumi,” ujar Aditya.

Hasil riset yang dilakukan oleh Ravenry menunjukkan potensi menjanjikan sektor ekonomi biru sebagai berikut:

  1. Industri yang berhubungan dengan kelautan menghasilkan nilai ekonomi sebesar $2,5 triliun secara global dan mendukung hampir 3 miliar penghidupan masyarakat di bidang industri termasuk makanan laut, pelabuhan, konstruksi, dan wisata pantai.
  2. Pembangunan pembangkit listrik tenaga angin di lepas pantai, bagi pasar energi global diharapkan tumbuh pada CAGR sebesar 12,1 persen, mencapai nilai USD 89,76 miliar pada tahun 2030.
  3. Akuakultur menjadi salah satu sektor pangan dengan pertumbuhan tercepat dalam usaha meningkatkan ketahanan pangan dan gizi secara global. Industri akuakultur memiliki nilai sekitar $243 miliar dan mempekerjakan 20 juta orang di seluruh dunia.
  4. Diproyeksikan ekonomi kelautan akan tumbuh dalam dekade mendatang, minat investor meningkat di semua sektor dari ekonomi biru. Sekitar 87 persen dari investor mengambil sampel dari survei yang dilakukan oleh Uni Eropa yang berencana untuk berinvestasi rata-rata €124,5 juta dalam ekonomi biru pada tahun 2030.
Baca Juga :   Dorong Sertifikasi Usaha Mikro, Kemenkop UKM Perkuat Sinergi Lintas Sektor

“Ravenry melalui kerjasama dengan Archipelagic and Island States (AIS) Forum berupaya untuk turut meningkatkan 2x kontribusi dan investasi di sektor kelautan untuk mencapai 15% dari PDB Indonesia di tahun 2045, setara dengan 45 juta lapangan kerja baru,” ungkap Aditya.

Archipelagic and Island States (AIS) Forum 2023 merupakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Negara-Negara Pulau dan Kepulauan yang memiliki arti yang penting bagi Indonesia. Tahun ini, AIS Forum 2023 mengusung tema “Fostering Collaboration, Enabling Innovation for Our Ocean and Our Future.” Agenda pertemuan tersebut akan berfokus kepada tiga aspek penting, yaitu pembangunan ekonomi biru, tantangan perubahan iklim, dan mempererat solidaritas antara negara pulau dan kepulauan.

“Sebagai lembaga penyedia solusi riset pasar, Ravenry membantu startup dan bisnis yang bergerak di bidang Blue Economy untuk menganalisa perkembangan pasar, kebutuhan konsumen dan inovasi-inovasi dari berbagai kompetitor. Dengan riset pasar yang matang, perusahaan dapat membuat keputusan dan menciptakan inovasi yang mendorong bisnis mereka menuju kesuksesan sekaligus menciptakan dampak positif bagi lautan kita,” jelas Aditya.

Dalam AIS Forum High Level Meeting di Nusa Dua Bali pada 2023, Ravenry diberikan kesempatan untuk mempresentasikan hasil riset mereka terkait Blue Economy. Ravenry berperan sebagai partner riset AIS Forum untuk mengembangkan konsep AIS Blue Hub Framework, yang berfungsi untuk memfasilitasi bluepreneur (entrepreneur di sektor ekonomi biru) dan bisnis yang bergerak di bidang ekonomi biru dari 51 negara kepulauan yang dinaungi AIS Forum. Dalam presentasi tersebut Ravenry memaparkan formula pengembangan Entrepreneurship Ecosystem untuk Blue Economy.

“Entrepreneurship Ecosystem memiliki arti sebuah ikatan yang terdiri dari jaringan pelaku entrepreneurship, organisasi, komunitas, dan berbagai sumber lainnya yang bersinergis menciptakan lingkungan yang saling mendukung entrepreneurship untuk berkembang pesat,” jelas Aditya.

Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) menyatakan penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Archipelagic and Island States (AIS) Forum adalah salah satu indikator upaya mewujudkan Indonesia sebagai negara maritim yang kuat. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Ad Interim diwakili oleh Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi, Jodi Mahardi, menyampaikan bahwa pentingnya menindaklanjuti arahan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, pada COP-28, di Dubai, yang menegaskan pentingnya kolaborasi inklusif dan kerja sama konkrit antar negara untuk mengatasi tantangan perubahan iklim dan mencapai pembangunan berkelanjutan.

Baca Juga :   SCG Umumkan Hasil Operasi Tahun Fiskal 2023

“AISF juga dibentuk untuk memperkuat kepemimpinan Indonesia di forum Internasional. Penyelenggaraan KTT AISF 2023 menjadi komitmen Indonesia menjadi bangsa bahari yang unggul,” kata Jodi.

Dalam perkembangannya, negara-negara partisipan AIS Forum saling berkolaborasi dan bekerja sama melalui program-program yang dilakukan oleh Sekretariat AIS Forum. Pada berbagai area fokus kerja, AIS Forum terus memfasilitasi upaya untuk mempererat solidaritas antarnegara AIS. Nilai-nilai solidaritas kemudian diwujudkan dalam berbagai program, seperti pada Joint-Research dalam bidang riset dan pengembangan. Juga pada bidang ekonomi biru melalui pemberdayaan dan akselerasi UMKM serta startup di berbagai negara AIS. Kolaborasi internasional melalui rangkaian pertemuan tingkat pejabat tinggi dan menteri pun telah beberapa kali dilaksanakan sebagai manifestasi dari komitmen negara-negara AIS membangun kerja sama.

AIS Blue Hub Framework berfungsi sebagai kompas strategis, yang menawarkan wawasan tentang bagaimana mengembangkan sektor ekonomi biru dalam tingkat kematangan ekosistem yang beragam di seluruh negara anggota AIS. Kerangka ini akan memperkenalkan konsep AIS Blue Hub yang baru, menguraikan misi, program dan metrik keberhasilannya, yang pada akhirnya membekali negara-negara anggota AIS dengan panduan dalam mendorong pertumbuhan sektor ekonomi biru yang disesuaikan dengan berbagai tingkat kematangan ekosistem bluepreneur.

Kerangka ini dibuat dengan pendekatan ekosistem dan ditujukan bagi berbagai pemangku kepentingan yang diperlukan untuk memastikan sektor ekonomi biru berkembang. Hal ini mencakup pelaku kewirausahaan (startup, pengusaha, dan perusahaan dari semua ukuran), penyedia dukungan (bank, investor, pemberi dana, peneliti, akademisi, dan advokat), serta pembuat kebijakan (pemerintah negara-negara anggota AIS dan pejabat sektor publik).

“AIS Blue Hub Framework berfungsi sebagai matchmaking solution di sektor ekonomi biru, menghubungkan tantangan dengan solusi inovatif dan memberdayakan wirausahawan biru (bluepreneur) dengan memfasilitasi akses terhadap sumber daya pendukung yang penting,” ungkap Aditya.

Baca Juga :   Dongkrak Produktivitas Perikanan Budidaya, KKP Kembangkan Modeling Komoditas Unggulan

Kunci Pembangunan ekosistem startup di sektor ekonomi biru menurut Aditya adalah menghadirkan program-program pendukung yang disesuaikan dengan tahapan kematangan ekosistem bluepreneur di setiap wilayah AIS untuk mencapai visi bersama bagi ekonomi biru. Tahapan kematangan tersebut ada tiga yaitu:

Life Stage 1

Memiliki ciri sebagai berikut:

  • Rendahnya jumlah startup di wilayah ini, dengan pendanaan Seri A+ yang minimal atau bahkan tidak ada sama sekali dibandingkan dengan jumlah populasi.
  • Dukungan peraturan yang terbatas untuk bisnis baru.
  • Literasi digital dan adopsi teknologi relatif rendah.

Rekomendasi program pada tahap ini adalah Activate, yaitu fokus pada membangkitkan dan menginspirasi kewirausahaan & minat dari berbagai pemangku kepentingan.

Life Stage 2

Memiliki ciri sebagai berikut:

  • Semakin banyak startup di wilayah ini, dengan beberapa aktivitas investasi tersedia
  • Adanya inisiatif pemerintah untuk mendukung startup
  • Literasi digital dan adopsi teknologi sedang hingga tinggi

Rekomendasi program pada tahap ini adalah Integrate, yaitu fokus pada berbagi dan menyelaraskan visi antar pemangku kepentingan dalam ekosistem lokal/regional.

Life Stage 3

Memiliki ciri sebagai berikut:

  • Tingginya jumlah startup dan pendanaan Seri A+ dibandingkan dengan jumlah populasi
  • Aktivitas investasi yang besar dan lingkungan peraturan yang mendukung bagi dunia usaha
  • Literasi digital dan adopsi teknologi yang tinggi

Rekomendasi program pada tahap ini adalah Scale, yaitu fokus pada mengatur peningkatan dan perluasan pasar, yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan global.

“Melalui AIS Blue Hub, kami bertujuan tidak hanya untuk meningkatkan kesadaran tentang potensi yang belum dimanfaatkan dalam sektor biru, namun juga untuk menumbuhkan komunitas yang dinamis secara terus-menerus dan secara progresif berdedikasi untuk mengatasi tantangan dalam bidang ini. Pada akhirnya, AIS Blue Hub berupaya menjembatani solusi permasalahan sektor biru secara efektif dengan memanfaatkan ekosistem bluepreneur kami,” tutup Aditya. (saf)