Scroll untuk baca artikel
Industri

BCA Seleksi Mahasiswa Penggerak Desa Lewat Adu Gagasan Genera-Z Berbakti

2
×

BCA Seleksi Mahasiswa Penggerak Desa Lewat Adu Gagasan Genera-Z Berbakti

Sebarkan artikel ini
UNPAD dan IPB Saling Uji Solusi Konkret di Genera-Z Berbakti 2026 – Ghifari, finalis dari Universitas Padjadjaran (kiri) dan Miki, finalis dari IPB University (kanan) saat mempresentasikan dan mempertahankan program kerja nyata masing-masing di babak Head-to-Head Genera-Z Berbakti 2026. Babak ini menantang para peserta, seperti Ghifari dan Miki, untuk mengasah pemikiran kritis dan kemampuan menyampaikan gagasan secara terstruktur.

Program Genera-Z Berbakti BCA menyeleksi mahasiswa melalui debat proposal pengabdian masyarakat. Empat tim terpilih akan mengembangkan desa wisata binaan

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Dunia usaha semakin banyak melibatkan generasi muda dalam program pemberdayaan masyarakat sebagai bagian dari pengembangan sumber daya manusia. Selain menawarkan pendanaan, sejumlah perusahaan mulai mendorong mahasiswa menguji kelayakan ide melalui kompetisi yang berorientasi pada implementasi di lapangan.

Salah satunya dilakukan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui program Genera-Z Berbakti, ajang call for proposal yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk menawarkan solusi pengembangan desa wisata binaan Bakti BCA.

Pada babak final, delapan tim dari delapan perguruan tinggi mengikuti sesi Head-to-Head, yakni adu argumen untuk mempertahankan proposal di hadapan panelis yang terdiri atas aktor Nicholas Saputra, aktris sekaligus pegiat pendidikan Cinta Laura Kiehl, dan ilmuwan sosial Tri Mumpuni.

Baca Juga :   Indonesian Paradise Property Anggarkan Total Capex Mencapai Rp1 Triliun untuk Ekspansi

Dalam sesi tersebut, setiap tim diminta menjelaskan akar persoalan, mempertahankan solusi yang diajukan, sekaligus menanggapi kritik maupun pertanyaan dari panelis dan peserta lain.

Ghifari, perwakilan tim Mega Lestari dari Universitas Padjadjaran, mengatakan format debat menjadi tantangan sekaligus kesempatan untuk menguji kualitas proposal yang telah disusun.

“Saya percaya diri dan senang bisa melakukan head-to-head untuk saling menguji kekuatan proposal dengan tim lawan,” ujarnya.

Sementara itu, Miki dari tim Sabilulungan Lestari IPB University mengaku fokus pada kualitas solusi yang ditawarkan tanpa terlalu memikirkan lawan yang dihadapi.

Peserta lain, Rifki dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung, mengaku berusaha mengendalikan rasa gugup saat mempresentasikan gagasan di hadapan panelis. Hal serupa disampaikan Uzi dari Universitas Gadjah Mada yang menilai suasana debat di kompetisi tersebut berbeda dibandingkan diskusi yang biasa dijalani di lingkungan kampus.

Baca Juga :   BCA Gelar Pelatihan Matematika GASING di Aceh Tamiang, Dorong Pemulihan Pendidikan

Salah satu panelis, Tri Mumpuni, menilai kemampuan menyampaikan gagasan secara sistematis menjadi bekal penting bagi mahasiswa, terutama ketika harus bekerja bersama masyarakat.

Menurutnya, solusi yang baik harus berangkat dari pemahaman terhadap persoalan di lapangan, kemudian diterjemahkan menjadi program yang realistis dan dapat diterapkan.

Melalui mekanisme seleksi tersebut, BCA memilih empat tim terbaik untuk mengimplementasikan proposal pengabdian masyarakat di empat desa wisata binaan, yaitu Desa Wisata Kreatif Terong di Belitung, Desa Wisata Situs Gunung Padang di Cianjur, Desa Wisata Patakbanteng di Wonosobo, dan Desa Wisata Kakaskasen Dua di Tomohon.

Baca Juga :   Sharp Hydro Heroes Sukses Ciptakan Petani Muda Berkelanjutan

Executive Vice President Corporate Communication & Corporate Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, mengatakan tingginya antusiasme peserta menunjukkan keseriusan mahasiswa dalam mengembangkan solusi bagi masyarakat.

Menurut Hera, semangat kompetitif yang ditunjukkan selama proses seleksi diharapkan dapat berlanjut ketika para finalis menjalankan program pendampingan bersama masyarakat di desa wisata.

Program Genera-Z Berbakti merupakan bagian dari inisiatif Bakti BCA yang menghubungkan dunia pendidikan dengan pengembangan ekonomi lokal melalui sektor pariwisata. Pendekatan ini diharapkan dapat menghasilkan inovasi sosial yang tidak hanya berhenti pada tahap kompetisi, tetapi juga memberi dampak nyata bagi masyarakat dan pengembangan desa wisata.