Scroll untuk baca artikel
Finansial

DBS Foundation Dorong Ekonomi Sirkular Lewat Social Enterprise

2
×

DBS Foundation Dorong Ekonomi Sirkular Lewat Social Enterprise

Sebarkan artikel ini
DBS Foundation memperkuat dukungan terhadap social enterprise yang mengembangkan solusi ekonomi sirkular, khususnya yang berkaitan dengan pengelolaan limbah dan pemberdayaan masyarakat rentan.

BISNSASIA.CO.ID, BANDUNG — DBS Foundation memperkuat dukungan terhadap social enterprise yang mengembangkan solusi ekonomi sirkular, khususnya yang berkaitan dengan pengelolaan limbah dan pemberdayaan masyarakat rentan.

Dukungan tersebut antara lain diberikan melalui DBS Foundation Grant kepada Parongpong RAW Lab dan Mycotech Lab (MYCL), dua perusahaan sosial yang mengembangkan material bernilai tambah dari limbah.

Program ini menjadi bagian dari upaya DBS Foundation mendorong bisnis berbasis dampak agar tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan lingkungan.

Data Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup menunjukkan sekitar 21,85% dari total 56,63 juta ton sampah tahunan Indonesia belum terkelola secara maksimal. Pada saat yang sama, kelompok petani gurem dan nelayan skala kecil masih menghadapi kerentanan ekonomi.

Kondisi tersebut membuka ruang bagi model bisnis yang menggabungkan pengelolaan limbah dengan penciptaan sumber penghidupan baru bagi masyarakat di sepanjang rantai pasok.

Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika mengatakan dukungan kepada social enterprise diarahkan untuk memperkuat fondasi usaha, memperluas jejaring, serta meningkatkan skala dampak.

“Kami percaya bahwa bisnis dapat menjadi kekuatan untuk kebaikan. Melalui DBS Foundation Grant Program, kami ingin membantu social enterprises memperkuat fondasi bisnisnya, mengakses jejaring yang relevan, serta memperbesar dampak bagi komunitas yang membutuhkan,” ujar Mona.

Baca Juga :   Bank DBS Indonesia Luncurkan “DBS Bersiap” untuk Dukung Mahasiswa dengan Disabilitas

Parongpong Olah Jaring Ikan Bekas

Parongpong RAW Lab menjadi salah satu penerima DBS Foundation Grant 2025 melalui program Ghost Net Circular Economy & Coastal Community Empowerment Program di Cilincing, Jakarta, dan Muncar, Banyuwangi.

Program tersebut mengolah jaring ikan bekas atau ghost net menjadi material bernilai tambah, sekaligus melibatkan komunitas pesisir dalam rantai ekonomi sirkular.

Dalam periode dua tahun, program itu menargetkan pengumpulan 20 ton ghost net, melibatkan lebih dari 600 nelayan dan 1.000 anggota komunitas pesisir, serta membangun dua microfactory untuk meningkatkan kapasitas produksi lokal.

Hingga Agustus 2026, Parongpong telah menyelesaikan studi kelayakan di kedua lokasi dengan melibatkan 105 responden. Pengumpulan ghost net mencapai lebih dari 4.500 kilogram atau sekitar 46% dari target 2026, dengan keterlibatan 179 nelayan.

Program edukasi juga telah menjangkau 150 siswa di Muncar. Sementara itu, platform digital traceability SISA mulai digunakan untuk mencatat proses pengumpulan jaring.

Dari sisi produk, Parongpong mengembangkan Circulites, seri lampu meja dengan diffuser dari Prototiles® berbahan jaring bekas.

CEO dan Founder Parongpong RAW Lab Rendy Aditya Wachid mengatakan dukungan tersebut membantu perusahaan membangun sistem dari sisi pengumpulan material, edukasi masyarakat, teknologi hingga pengembangan produk.

“Dampak tidak berhenti pada pengurangan limbah, tetapi juga bagaimana komunitas pesisir dapat mengambil peran aktif dalam rantai ekonomi sirkular dan memperoleh manfaat ekonomi yang lebih baik,” kata Rendy.

Baca Juga :   Pemerintah Tetapkan Aturan Baru Pajak Kripto: Pelaku Usaha Siap Adaptasi

MYCL Kembangkan Biomaterial

Sementara itu, MYCL mengembangkan material berbasis mycelium dengan memanfaatkan limbah pertanian. Perusahaan yang menjadi penerima DBS Foundation Grant pada 2016 dan 2018 tersebut kini memiliki sejumlah portofolio, mulai dari mycelium composite, mycelium leather, hingga seaweed biopolymer.

Produk biomaterial tersebut dikembangkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk fesyen, insulasi bangunan, serta aplikasi teknologi.

Dukungan DBS Foundation turut membantu MYCL memperkuat pengembangan bisnis dan inovasi. Perusahaan tersebut telah memperoleh dua paten pada 2019 dan 2023, tiga merek dagang, serta sertifikasi B Corp.

Hingga 2026, MYCL tercatat telah melayani 968 pelanggan dari 56 negara. Perusahaan juga menjalin kerja sama dengan Vivobarefoot dan pemasok tingkat pertama Adidas.

Dari sisi lingkungan, MYCL pada 2025 memanfaatkan 61,72 ton limbah biomassa dan menghindari sekitar 148,75 ton CO2e dari biomassa yang berpotensi dibakar atau dimulsa. Perusahaan juga meng-upcycle 1,70 ton limbah substrat kembali ke rantai nilai.

MYCL menyebut penggunaan biomaterialnya dibandingkan kulit hewan menghasilkan penghematan sekitar 39.887 liter air dan penurunan emisi sekitar 27,5 ton CO2.

Co-founder Mycotech Lab Ronaldiaz Hartantyo mengatakan pengembangan biomaterial diarahkan untuk menciptakan alternatif material dengan dampak lingkungan lebih rendah sekaligus membangun rantai nilai yang melibatkan petani dan pekerja.

Baca Juga :   Bank DBS Indonesia Perkuat Ketahanan Pangan Nasional di World Food Day 2025

DBS Foundation Salurkan Hibah

Sejak 2015, DBS Foundation telah menyalurkan lebih dari SGD21,5 juta hibah kepada lebih dari 160 social enterprises di Asia.

Di Indonesia, nilai hibah yang disalurkan disebut telah mencapai lebih dari SGD4 juta kepada lebih dari 20 social enterprises dan bisnis berdampak.

Head of DBS Foundation Karen Ngui mengatakan dukungan terhadap social enterprises ditujukan agar perusahaan dapat meningkatkan skala usaha sekaligus memperluas dampak sosial dan ekonomi.

Menurutnya, Parongpong RAW Lab dan MYCL menunjukkan bahwa model bisnis berbasis solusi dapat berkontribusi terhadap ketahanan sosial dan ekonomi masyarakat.

“Keduanya menunjukkan bagaimana business-led solutions dapat berperan penting dalam membangun ketahanan sosial dan ekonomi di komunitas mereka,” ujar Karen saat mengunjungi fasilitas Parongpong RAW Lab dan Mycotech Lab di Bandung, Kamis (20/8/2026).

DBS Foundation menyatakan dukungan terhadap bisnis berdampak akan terus diarahkan pada pengembangan solusi yang berkaitan dengan kebutuhan dasar, inklusi keuangan dan digital, serta penguatan usaha yang memiliki dampak sosial dan lingkungan.

Program tersebut menjadi bagian dari agenda Impact Beyond Banking DBS Foundation, dengan fokus pada pengembangan ekosistem bisnis yang menggabungkan pertumbuhan usaha dengan dampak bagi masyarakat dan lingkungan.