BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Bagi pengguna yang menantikan kelanjutan lini ponsel super tipis Samsung, kabar terbarunya mungkin kurang menggembirakan.
Raksasa teknologi asal Korea Selatan itu memastikan belum memiliki rencana dalam waktu dekat untuk menghadirkan penerus Samsung Galaxy S25 Edge maupun generasi lanjutan dari Samsung Galaxy Z TriFold.
Salah satu faktor utama penundaan adalah performa penjualan.
Galaxy S25 Edge yang mengusung desain ultra-tipis ternyata tidak mampu menyaingi model arus utama seperti seri reguler dan varian Ultra.
Strategi desain yang sangat tipis memang menarik secara visual dan teknis, tetapi konsumen tampaknya masih lebih memprioritaskan daya tahan baterai, performa kamera, dan harga kompetitif ketimbang bodi yang super ramping.
Fenomena ini juga terjadi di luar Samsung.
Konsep ponsel tipis yang diusung Apple lewat lini iPhone Air dikabarkan menghadapi tantangan serupa.
Penjualan yang tidak terlalu kuat membuat masa depan generasi berikutnya menjadi tanda tanya.
Dengan kata lain, pasar belum sepenuhnya siap menjadikan ponsel ultra-tipis sebagai arus utama.
Galaxy Z TriFold: Ajang Unjuk Teknologi
Berbeda dengan Galaxy S25 Edge yang dipasarkan secara komersial, Galaxy Z TriFold lebih banyak dipandang sebagai demonstrasi kemampuan riset dan pengembangan Samsung.
Perangkat lipat-tiga ini menunjukkan sejauh mana teknologi layar fleksibel Samsung berkembang.
Namun, harga yang sangat tinggi serta ketersediaan terbatas membuatnya lebih cocok sebagai produk showcase ketimbang perangkat mass market.
Bagi Samsung, TriFold menjadi bukti kepemimpinan teknologi, bukan semata-mata mesin penjualan.
Fokus Beralih ke Fold Layar Lebar
Alih-alih mengembangkan TriFold 2, Samsung dikabarkan mengalihkan perhatian ke generasi terbaru Samsung Galaxy Z Fold dengan layar yang lebih lebar dan lipatan yang semakin minim terlihat.
Langkah ini diduga sebagai antisipasi terhadap rumor kehadiran ponsel lipat dari Apple, yang kerap disebut sebagai iPhone Fold.
Jika Apple benar-benar masuk ke pasar foldable, persaingan akan meningkat signifikan, dan Samsung ingin tetap berada di posisi terdepan.
Fokus pada penyempurnaan Fold—bukan eksperimen ekstrem seperti TriFold—menunjukkan pendekatan yang lebih realistis dan berbasis permintaan pasar.
Keputusan Samsung menahan diri bukan berarti stagnan.
Justru sebaliknya, ini mencerminkan pendekatan strategis yang lebih berhati-hati.
Perusahaan memilih memprioritaskan model yang sudah terbukti diminati, sembari terus mengembangkan inovasi di balik layar.
Bagi konsumen, ini berarti lini Edge super tipis dan TriFold belum benar-benar tamat.
Namun untuk saat ini, Samsung tampaknya lebih memilih bermain aman dan memperkuat fondasi di segmen flagship dan foldable utama.
Persaingan 2026 pun dipastikan akan lebih menarik, terutama jika Apple benar-benar meramaikan pasar ponsel lipat.











