Scroll untuk baca artikel
Headline

Food Genomics Dorong Pola Makan Lebih Presisi dan Personal

3
×

Food Genomics Dorong Pola Makan Lebih Presisi dan Personal

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi - Makanan Sehat Seimbang

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Gaya hidup sehat kini bergerak ke arah yang semakin personal. Salah satu pendekatan yang mulai banyak dilirik adalah food genomics atau nutrigenomik, metode pengaturan nutrisi yang disesuaikan dengan profil DNA individu.

Pendekatan ini dinilai mampu menjawab keterbatasan diet konvensional yang kerap memberikan hasil berbeda pada setiap orang.

Food genomics merupakan terapi nutrisi berbasis genetika, di mana rekomendasi asupan makanan disusun berdasarkan kode genetik masing-masing individu. Perbedaan gen membuat respons tubuh terhadap makanan—mulai dari metabolisme, penyerapan nutrisi, hingga potensi intoleransi—berbeda pada setiap orang.

Nutrisi Tidak Lagi Satu untuk Semua

Dokter Spesialis Gizi Klinik Primaya Hospital Bekasi Barat, dr. Davie Muhamad, Sp.GK, menjelaskan bahwa pendekatan nutrigenomik menekankan personalisasi nutrisi.

Baca Juga :   Hasil Panen Jagung Melimpah, Antisipasi Harga Anjlok di Tingkat Petani

“Tidak ada satu pola makan yang cocok untuk semua orang. Perbedaan kode genetik memengaruhi cara tubuh merespons nutrisi, sehingga pendekatan ini bersifat sangat personal,” ujar dr. Davie.

Secara global, riset nutrigenomik terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pencegahan penyakit dan penerapan gaya hidup sehat berbasis sains. Di Indonesia, meski penelitian terkait hubungan gen dan nutrisi sudah cukup banyak, pemeriksaan food genomics masih tergolong terbatas.

Cara Kerja Tes Food Genomics

Tes food genomics dilakukan melalui sampel darah atau air liur, dengan waktu analisis sekitar 1–2 minggu. Hasil pemeriksaan kemudian diinterpretasikan oleh dokter gizi klinik untuk menyusun rekomendasi nutrisi yang lebih personal.

Baca Juga :   Aktivitas Kejahatan Dunia Maya di Telegram Melonjak 53 Persen pada Tahun 2024

Rekomendasi tersebut dapat mencakup:

  • pengaturan makronutrien (karbohidrat, protein, lemak),
  • kebutuhan vitamin tertentu seperti vitamin D,
  • asupan lemak esensial omega-3,
  • hingga rekomendasi aktivitas fisik dan olahraga yang sesuai.

“Secara teori, hasil nutrigenomik tidak berubah karena faktor genetik bersifat tetap. Namun, penerapannya tetap harus mempertimbangkan faktor epigenetik dan lingkungan seperti pola hidup, stres, dan aktivitas fisik,” tambah dr. Davie.

Deteksi Dini Intoleransi dan Alergi Makanan

Selain menyusun pola makan personal, panel nutrigenomik juga dapat memberikan gambaran potensi alergi atau intoleransi makanan. Informasi ini membantu individu menghindari asupan tertentu yang berisiko memicu gangguan kesehatan dalam jangka panjang.

Meski demikian, dr. Davie menegaskan bahwa food genomics bukan pengganti prinsip dasar hidup sehat.

Baca Juga :   Pariwisata Bangkit, OYO Siapkan 25 Hotel SUNDAY Baru di Seluruh Indonesia

“Langkah sederhana seperti makan teratur, tidak melewatkan waktu makan, serta memastikan komposisi makanan yang seimbang tetap menjadi fondasi utama,” ujarnya.

Masa Depan Nutrisi Presisi

Ke depan, food genomics diproyeksikan berkembang sebagai salah satu pendekatan pendukung gaya hidup sehat yang lebih presisi.

Teknologi ini berpotensi terintegrasi dengan kecerdasan buatan (AI), big data, dan perangkat wearable untuk memantau kondisi kesehatan secara berkelanjutan.

“Harapannya, food genomics dapat menjadi alat pendukung dalam menentukan pola makan yang lebih personal dan berkontribusi pada perbaikan tren kesehatan masyarakat Indonesia dalam sepuluh tahun ke depan,” tutup dr. Davie.