Scroll untuk baca artikel
Headline

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Bersinar di Tengah Kelesuan Perekonomian Global

57
×

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Bersinar di Tengah Kelesuan Perekonomian Global

Sebarkan artikel ini
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Konferensi Pers tentang Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan IV Tahun 2023, Senin (5/2/2024). (Foto: Humas Ekon)

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Meskipun tahun 2023 telah dipenuhi dengan beragam tantangan ekonomi global seperti potensi perlambatan ekonomi, meningkatnya ketegangan geopolitik, risiko inflasi, dan dampak perubahan iklim, pertumbuhan ekonomi nasional pada Triwulan IV-2023 justru menorehkan prestasi gemilang dengan mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,04 persen (year on year/yoy), melampaui angka pertumbuhan pada Triwulan III-2023 yang sebesar 4,94 persen (yoy).

Secara keseluruhan sepanjang tahun, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2023 juga mencapai angka yang membanggakan sebesar 5,05 persen.

“Angka pertumbuhan ekonomi kita pada 2023 melebihi konsensus perkiraan pada saat itu, yang diproyeksikan sebesar 5,03 persen,” ungkap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Konferensi Pers tentang Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan IV Tahun 2023, Senin (5/2/2024).

Secara lebih rinci, pencapaian positif pertumbuhan ekonomi nasional pada Triwulan IV-2023 tersebut didukung oleh peningkatan kinerja beberapa sektor usaha. Sektor konstruksi, misalnya, berhasil tumbuh sebesar 7,68 persen (yoy) dan menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar kedua setelah sektor industri pengolahan yang mencatatkan pertumbuhan sebesar 4,07 (yoy).

Tidak hanya itu, pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2023 yang menunjukkan kinerja impresif juga didorong oleh konsumsi rumah tangga yang meningkat sebesar 4,82 persen (yoy), serta Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang mencapai 4,40 persen (yoy). Dari segi sektor usaha, sektor transportasi dan pergudangan mencatat pertumbuhan signifikan sebesar 13,96 persen (yoy). Sementara dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi tercatat pada konsumsi Lembaga Non-Profit Rumah Tangga (LNPRT) yang meningkat sebesar 9,83 persen (yoy).

Baca Juga :   Menghitung Cuan Hilirisasi Industri Sawit yang Berlangsung Sejak 2007

Terjaganya pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan PMTB, serta peningkatan pertumbuhan sektor konstruksi, merupakan hasil dari upaya Pemerintah dalam menstimulasi perekonomian nasional pada Triwulan IV-2023, seperti stimulus untuk sektor perumahan melalui kebijakan PPN Perumahan Ditanggung Pemerintah, subsidi biaya administrasi bagi perumahan Masyarakat Berpenghasilan Rendah, perkuatan bansos untuk mengurangi dampak El Nino dan menjaga daya beli, serta percepatan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk mendukung UMKM.

Dari segi spasial, seluruh wilayah di Indonesia juga terus mengalami perkembangan positif, dengan kontribusi terbesar terhadap PDB nasional berasal dari Pulau Jawa, mencapai 57,05 persen. Pertumbuhan ekonomi yang signifikan juga terjadi di Provinsi Maluku Utara sebesar 20,49 persen dan Sulawesi Tengah sebesar 11,91 persen, yang didorong oleh kinerja industri pengolahan logam dasar sebagai dampak dari kebijakan hilirisasi.

Dengan prestasi ekonomi yang membanggakan ini, Indonesia mampu mempertahankan posisinya sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan yang kuat dan konsisten, bahkan melebihi sejumlah negara lain. Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2023 berhasil melampaui pertumbuhan beberapa negara sejawat seperti Malaysia (3,77 persen) dan Korea Selatan (1,36 persen), serta melampaui pertumbuhan ekonomi negara-negara G-20 seperti AS (2,5 persen), Perancis (0,9 persen), dan Jerman yang mengalami kontraksi (-0,3 persen).

Baca Juga :   Aplikasi inDrive Kembali Raih Prestasi, Urutan Kedua Paling Banyak Diunduh

Dengan prospek yang optimis, pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan akan tetap optimal, sebagaimana yang ditunjukkan oleh PMI Manufacturing Indonesia yang terus berada di tingkat ekspansif pada Januari 2024 sebesar 52,9. Hal ini memberikan keyakinan bahwa perekonomian Indonesia semakin membaik, menjadi landasan untuk mencapai target-target ekonomi di masa mendatang seiring dengan perbaikan proyeksi ekonomi global.

“Dengan proyeksi ini, berbagai lembaga memprediksi pertumbuhan Indonesia hingga tahun 2025, seperti IMF yang memperkirakan sekitar 5 persen, World Bank antara 4,9-5 persen, dan OECD di sekitar 5,2 persen, angka ini jauh di atas rata-rata proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia dan pertumbuhan ekonomi pasar-pasar negara berkembang seperti Tiongkok. Oleh karena itu, kebijakan yang konsisten akan menjadi kunci untuk pertumbuhan ekonomi ke depan, meskipun kita sadar akan adanya risiko-risiko di masa mendatang,” tambah Menko Airlangga.

Untuk memastikan stabilitas dan ketahanan ekonomi ke depan, Pemerintah telah menyiapkan sejumlah kebijakan prioritas, termasuk revitalisasi sektor konvensional melalui peningkatan produktivitas dan daya saing dengan Program Kartu Prakerja, pelatihan vokasi, dan implementasi UU Cipta Kerja. Selain itu, pembangunan infrastruktur akan terus didorong melalui kelanjutan Proyek Strategis Nasional (PSN), pembangunan MRT dan kereta cepat, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), Ibu Kota Nusantara (IKN), serta Reforma Agraria. Kerja sama internasional juga akan diperluas, sementara ketahanan pangan akan diperkuat.

Baca Juga :   Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Capai 5,05 Persen Sepanjang 2023: Penilaian Kinerja dan Proyeksi Masa Depan

Selain itu, Pemerintah juga akan mendorong mesin perekonomian baru melalui digitalisasi, transisi energi berkelanjutan, industrialisasi dengan hilirisasi yang dapat meningkatkan nilai tambah ekonomi. Selanjutnya, penguatan ketahanan sosial dan pemberdayaan ekonomi masyarakat juga akan dilakukan Pemerintah melalui berbagai perlindungan sosial termasuk menjaga daya beli masyarakat rentan, pembiayaan mikro, dan padat karya tunai.

Menjawab pertanyaan awak media perihal kontribusi kontestasi politik pemilu terhadap capaian pertumbuhan ekonomi Triwulan IV-2023 tersebut, Menko Airlangga juga menerangkan bahwa kontribusi tersebut dapat terlihat dari pertumbuhan konsumsi Lembaga Non-Profit Rumah Tangga (LNPRT) yang melejit mencapai dua digit hingga sebesar 18,11 persen (yoy) yang didominasi berasal dari spending politik seiring diselenggarakannya rangkaian kegiatan pemilu tersebut.(saf/infopublik.id)