Scroll untuk baca artikel
Headline

Perekonomian Indonesia Tetap Stabil di Tengah Ketidakpastian Global

16
×

Perekonomian Indonesia Tetap Stabil di Tengah Ketidakpastian Global

Sebarkan artikel ini
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati. (Foto: kemenkeu.go.id)

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Meskipun ketidakpastian global masih menyelimuti, perekonomian Indonesia pada Triwulan I-2024 menunjukkan kestabilannya. Selama Triwulan I-2024, ekonomi Indonesia berhasil tumbuh sebesar 5,1 persen (year on year/yoy), terutama berkat permintaan domestik yang kuat dan dukungan dari APBN.

“Pertumbuhan ini memberikan dampak positif terhadap penurunan tingkat pengangguran terbuka. Meski dihadapkan pada ketidakpastian global, perekonomian Indonesia terus menunjukkan ketangguhannya, yang tercermin dari pencapaian pertumbuhan pada triwulan ini. Kualitas pertumbuhan juga meningkat signifikan, ditunjukkan oleh penciptaan lapangan kerja yang cukup tinggi, sehingga berhasil menurunkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di bawah level sebelum pandemi. Ke depan, APBN akan terus dioptimalkan untuk menjaga stabilitas ekonomi, mempercepat pertumbuhan, dan menciptakan lapangan kerja,” kata Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati, pada Senin (6/5/2024).

Menkeu juga menyampaikan bahwa di sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga dan Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) tumbuh masing-masing sebesar 4,9 persen dan 24,3 persen (yoy). Pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang masih kuat didorong oleh terkendalinya inflasi, peningkatan aktivitas ekonomi selama Ramadan, kenaikan gaji ASN, dan pemberian THR.

“Belanja Pemerintah terkait penyelenggaraan Pemilu juga secara tidak langsung mendorong konsumsi rumah tangga melalui pemberian honorarium kepada petugas Pemilu. Sementara itu, konsumsi oleh LNPRT melonjak tinggi terutama karena berbagai aktivitas terkait Pemilu 2024,” jelas Menkeu.

Menurutnya, pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PKP) tumbuh dua digit sebesar 19,9 persen (yoy). Kinerja belanja pegawai dalam APBN yang sangat kuat menjadi salah satu faktor yang mendukung pertumbuhan ini, terutama melalui kenaikan gaji ASN dan pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) dengan tunjangan kinerja 100 persen pada triwulan I 2024.

Baca Juga :   Arus Mudik 2024 Jawa-Sumatra Lancar Terkendali

Di sisi lain, belanja barang dan belanja sosial yang merupakan bagian dari PKP juga meningkat cukup signifikan. PKP menyumbang 1,1 persen terhadap pertumbuhan ekonomi triwulan I 2024, menjadi yang terbesar ketiga setelah konsumsi masyarakat dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB).

Pertumbuhan PMTB atau investasi tercatat sebesar 3,8 persen (yoy). Aktivitas belanja modal pemerintah terkait infrastruktur turut mendorong aktivitas investasi bangunan. Hilirisasi SDA yang semakin meningkat, kinerja ekonomi makro yang sangat baik, serta stabilitas sosial politik menjaga daya tarik Indonesia sebagai destinasi investasi.

Kinerja investasi sektor swasta juga tergambar dari realisasi Penanaman Modal Asing dan Penanaman Modal Dalam Negeri triwulan I yang tumbuh tinggi 22,1 persen (yoy) dengan sebaran investasi antara Jawa dan Luar Jawa yang seimbang.

Menkeu menyatakan bahwa tren perlambatan ekonomi global mempengaruhi pertumbuhan ekspor dan impor Indonesia. Pada triwulan I 2024, ekspor riil masih tumbuh sebesar 0,5 persen (yoy) didorong oleh peningkatan ekspor jasa seiring kuatnya arus kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia.

Di sisi lain, volume ekspor produk utama seperti besi baja dan bahan bakar mineral tetap kuat, masing-masing tumbuh sebesar 35,8 persen dan 5,4 persen (yoy) pada triwulan I 2024. Sementara, impor riil juga tumbuh 1,8 persen (yoy) pada triwulan I 2024. Secara keseluruhan, kontribusi net ekspor (ekspor – impor) terhadap pertumbuhan mengalami kontraksi sebesar 0,2 persen.

Dari sisi produksi, sektor-sektor unggulan tetap tumbuh positif. Sektor manufaktur pada triwulan I 2024 tumbuh sebesar 4,1 persen (yoy), didorong masih kuatnya permintaan domestik dan kebijakan hilirisasi. Keberhasilan kebijakan hilirisasi tercermin dari subsektor industri logam dasar yang tetap tumbuh dua digit, yaitu sebesar 16,6 persen (yoy) pada triwulan I 2024. Permintaan domestik terutama didorong oleh peningkatan industri pengolahan makanan dan minuman yang tumbuh sebesar 5,9 persen (yoy). Sejalan dengan pertumbuhan positif sektor manufaktur, sektor perdagangan juga tumbuh sebesar 4,6 persen (yoy), terutama didorong oleh peningkatan permintaan selama Ramadan.

Baca Juga :   Kementerian Perindustrian Dorong Revolusi Hijau di Sektor Industri

Sementara itu, sektor pertanian mencatatkan kontraksi sebesar 3,5 persen (yoy), dipengaruhi oleh pergeseran musim panen akibat kekeringan panjang akibat El Nino yang menyebabkan tertundanya musim tanam.

Peningkatan mobilitas masyarakat telah mendorong pertumbuhan sektor-sektor penunjang pariwisata. Sektor transportasi dan akomodasi masing-masing tumbuh sebesar 8,7 persen (yoy) dan 9,4 persen (yoy). Arus wisatawan baik dari domestik maupun asing semakin menguat terlihat dari jumlah perjalanan wisatawan nusantara Indonesia yang meningkat sebesar 15,7 persen (yoy) dan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara yang tumbuh 25,4 persen (yoy). Selain itu, aktivitas kegiatan Pemilu, liburan tahun baru, dan aktivitas selama bulan Ramadan mendorong pertumbuhan kedua sektor tersebut.

Secara spasial, tren pertumbuhan positif juga terjadi di semua wilayah. Pulau Jawa sebagai kontributor utama perekonomian, tumbuh relatif kuat di level 4,8 persen (yoy). Aktivitas sektor manufaktur dan jasa yang terus meningkat menopang pertumbuhan ekonomi pada wilayah ini. Sementara itu, keberlanjutan pengembangan industri hilirisasi SDA menjadi faktor utama bagi pertumbuhan kawasan Sulawesi dan Maluku-Papua yang masing-masing tumbuh 6,4 persen dan 12,2 persen (yoy). Pembangunan ekonomi di Kalimantan, termasuk aktivitas pembangunan IKN, turut mendorong pertumbuhan di wilayah tersebut yang tercatat sebesar 6,2 persen (yoy).

Pertumbuhan ekonomi yang solid telah mendorong penciptaan lapangan kerja nasional. Pada Februari 2024, jumlah orang yang bekerja tercatat sebesar 142,18 juta orang, meningkat 3,55 juta dibandingkan Februari 2023 yang sebesar 138,63 juta orang. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Februari 2024 menurun signifikan menjadi 4,82 persen, dari sebelumnya 5,32 persen pada Februari 2023, dan sudah berada di bawah TPT periode sebelum pandemi Covid-19 (Februari 2019: 5,01 persen).

Baca Juga :   BTC Cetak Rekor Harga Tertinggi Sepanjang Masa di 72.800 Dolar AS

Lapangan usaha yang mengalami peningkatan penyerapan tenaga kerja terbesar selama Februari 2023-Februari 2024 adalah Akomodasi & Makan Minum, Perdagangan, serta Administrasi Pemerintahan yang masing-masing meningkat sebesar 0,96 juta orang, 0,85 juta orang, dan 0,76 juta orang. Proporsi pekerja informal menurun dari 60,12 persen pada Februari 2023 menjadi 59,17 persen pada Februari 2024. Penurunan proporsi pekerja informal ini memberikan indikasi yang positif terhadap peningkatan kualitas tenaga kerja secara nasional, karena lebih banyak orang mendapatkan akses ke pekerjaan formal atau memiliki stabilitas pekerjaan yang lebih baik.

Menkeu menyampaikan bahwa ke depan, masih ada beberapa risiko global yang harus dihadapi, seperti arah kebijakan FED yang masih tidak pasti, eskalasi tensi geopolitik di berbagai kawasan, serta disrupsi rantai pasok global yang belum sepenuhnya pulih.

“Sebagai langkah antisipatif atas berbagai dinamika global tersebut, sinergi dan koordinasi dengan otoritas lain, khususnya otoritas moneter dan sektor keuangan, akan terus diperkuat untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Pemerintah akan terus melakukan monitoring dan asesmen terhadap potensi dampak dari dinamika global terhadap perekonomian domestik serta kondisi fiskal. APBN akan terus dioptimalkan sebagai penyangga untuk menjaga daya beli masyarakat dan momentum pertumbuhan ekonomi,” tutup Menkeu. (saf/infopublik.id)