Scroll untuk baca artikel
Nasional

Dorong Tenun dan Batik Maluku Jadi Produk Unggulan Berdaya Saing: Dinas Perindag Maluku Gelar Bimtek dan Pendampingan

40
×

Dorong Tenun dan Batik Maluku Jadi Produk Unggulan Berdaya Saing: Dinas Perindag Maluku Gelar Bimtek dan Pendampingan

Sebarkan artikel ini
Dinas Perindag Maluku melakukan bimtek dan pendampingan pengembangan Batik dan Tenun Maluku.

BISNISASIA.CO.ID, AMBON – Provinsi Maluku dikenal sebagai daerah yang kaya akan produk kain tenun ikat dan batik. Produk budaya ini dihasilkan oleh perempuan-perempuan di tujuh kabupaten/kota di provinsi berbasis kepulauan ini. Kain tenun ikat dan batik menjadi komoditi unggulan Maluku yang sering dipromosikan di berbagai acara nasional dan internasional.

Keunikan kain tenun ikat dan batik terletak pada proses produksinya yang dilakukan dengan tangan menggunakan alat tenun tradisional dari kayu dan bambu serta pewarna alami dari tumbuhan. Batik menggunakan metode canting (tulis) dan cap (stempel).

Setiap daerah di Maluku memiliki motif tenun ikat dan batik yang khas, menggambarkan keunikan dan kekayaan daerah seperti bunga, kehidupan laut, burung, dan tumbuhan. Pemerintah Provinsi Maluku mencatat banyak motif tenun ikat dan batik yang masing-masing mengandung filosofi berbeda. Produk ini bukan hanya hasil karya perempuan Maluku, tapi juga karya intelektual yang diakui dunia.

Untuk melestarikan, menumbuhkan, dan mengembangkan produk tenun dan batik Maluku, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Maluku mengadakan Bimbingan Teknis dan Pendampingan Pengembangan Proses Produksi Tenun dan Batik Daerah Maluku di Kota Ambon tahun 2024.

Baca Juga :   PNM Gelar Program CICI ROSA untuk Nasabah

Keunggulan komparatif dari kabupaten penghasil tenun dan batik membuat Pemerintah Maluku terus mendorong dan mengembangkan produk ini menjadi produk unggulan yang berdaya saing dan bernilai ekonomis. Pemerintah berperan sebagai fasilitator untuk mengatasi tantangan yang dihadapi masyarakat Maluku.

Kepala Dinas Perindag Maluku, Yahya Kotta, menyatakan bahwa pelaku industri fashion di Maluku telah mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor dengan kualitas kompetitif. Jumlah IKM tersebar di seluruh wilayah dengan berbagai jenis usaha dan produk. “Pemerintah Provinsi Maluku melalui Dinas Perindag bertekad untuk terus memperkuat dan menonjolkan keunggulan produk ini, baik dari bahan baku, ciri khas, tradisi, kearifan lokal, maupun reputasinya,” ungkapnya. Visi dan misi Gubernur Maluku untuk menghasilkan Produk-Produk Industri Lokal yang berkualitas dan berdaya saing tercermin dalam program One Village One Product (Ovop), salah satu prioritas Dinas Perindag Maluku tahun 2024.

Penguatan kapasitas SDM industri dilakukan melalui Bimbingan Teknis oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Maluku, seperti di Jemaat GPM Eden Klasis Pulau Ambon. Sebanyak 25 peserta dilatih dan didampingi selama 4 hari, dibagi dalam empat kelompok fokus pada pengembangan produk Ovop tenun dan batik. Metode pengajaran meliputi kelas, tugas mandiri, dan monitoring langsung oleh instruktur.

Baca Juga :   50 Tahun Perjalanan, ChildFund International Dorong Keterlibatan dan Dukungan Lebih Banyak Pihak

Ketua Majelis Jemaat GPM Eden Kudamati, Pdt. Lana Horhoruw, menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Maluku, khususnya Pj. Gubernur dan Ketua Dekranasda Maluku, atas dukungan mereka dalam mengembangkan tenun dan batik Maluku. “Program ini adalah anugerah bagi kami, menjadi tanggung jawab kami untuk menyukseskan dan mengembangkannya sebagai tanda kehadiran pemerintah dalam gereja,” ungkapnya.

Pada Bimtek ini, peserta diberikan materi terkait pengurusan perijinan usaha seperti NIB dan SIINAS untuk meningkatkan usaha mereka. Instruktur dari Nena Collection Yogyakarta mengajarkan cara memanfaatkan potensi lokal tenun dan batik untuk menghasilkan produk bernilai ekonomis yang dapat menembus pasar lokal, nasional, dan internasional.

Peserta Bimtek antusias mengikuti setiap materi dan praktek menjahit yang dipandu oleh instruktur Erna. Noor Timisela, salah satu peserta, mengapresiasi fasilitas yang diberikan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Maluku, termasuk pengurusan NIB.

Baca Juga :   Menparekraf Sandiaga Resmikan "Djakarta Ramadan Fair 2024" dengan Beragam Kuliner Khas Ramadan

Kegiatan selama 4 hari ini ditutup oleh Kepala Bidang Industri, Marchelino Paliama, yang memberikan bantuan peralatan kepada peserta untuk meningkatkan produktivitas mereka. Produk-produk peserta akan dipromosikan dan dijual di galeri Dekranasda Maluku di Bandara Pattimura dan GIIA Hotel Jakarta. “Pasar yang disediakan Pemerintah Maluku harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para perajin, sehingga karya anak Maluku dapat bersaing dengan daerah lain,” katanya.

Kegiatan ini menghasilkan 60 jenis produk olahan dari tenun dan batik, dengan lima kelompok berhasil menampilkan 12 produk yang dikurasi oleh instruktur. Marchelino Paliama menegaskan agar ilmu dan teknologi yang diperoleh dapat dibagikan kepada masyarakat lainnya untuk mewujudkan kemandirian ekonomi dalam bentuk produk Ovop tenun dan batik di Kota Ambon.

Pembinaan Ovop ini memiliki tiga prinsip dasar: local yet global, self-reliance and creativity, dan human resource development. “Ini adalah kerja bersama antara Pemerintah, Gereja, dan masyarakat sebagai modal sosial-ekonomi bagi Maluku yang maju menuju Indonesia Emas,” tutupnya. (hdi)