Scroll untuk baca artikel
Market

Ajaib Kripto: Dinamika Harga BTC Menjelang Bitcoin Halving Keempat

38
×

Ajaib Kripto: Dinamika Harga BTC Menjelang Bitcoin Halving Keempat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Bitcoin. (Foto: pixabay.com)

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Sepekan terakhir, harga Bitcoin mengalami penurunan yang dipicu oleh berbagai faktor. Mulai dari data inflasi yang mengecewakan, dengan rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) pada Rabu (10/4) untuk bulan Maret yang menunjukkan kenaikan lebih dari perkiraan. CPI bulan Maret naik sebesar 0,4% MoM, melebihi ekspektasi 0,3% MoM. Sementara itu, CPI tahunan naik sebesar 3,5% YoY, juga melampaui perkiraan 3,4% YoY dan 3,2% YoY di bulan Februari.

Tekanan tambahan datang dari peningkatan ketegangan politik di Timur Tengah. Harga Bitcoin turun tajam karena sentimen risiko-off di pasar tradisional, menciptakan kekhawatiran akan risiko geopolitik yang mungkin berdampak pada aset kripto. Harga Bitcoin jatuh lebih dari 8%, turun dari sekitar $67.000 menjadi di bawah $61.000 pada 13 April setelah terjadinya serangan Iran terhadap Israel.

Selain itu, arus keluar dari perdagangan ETF Bitcoin spot minggu lalu mencapai total $83,3 juta, kemungkinan juga berkontribusi pada penurunan harga BTC.

Baca Juga :   Pahami Pola Belanja Konsumen dan Optimalkan Bisnis Online Jelang Ramadan 2024

Arus keluar dari pasar ETF Bitcoin minggu lalu mungkin dipicu oleh aksi risk-off akibat ketegangan geopolitik dan angka inflasi di atas ekspektasi pasar. Sementara itu, aksi jual juga mungkin terjadi ketika investor mulai mengambil keuntungan jangka pendek, dan cenderung berinvestasi kembali saat terjadi penurunan.

Pekan ini, Komisi Sekuritas dan Berjangka Hong Kong (SFC) memberikan persetujuan resmi untuk exchange-traded funds (ETF) spot Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) pada Senin (15/4). Hal ini sempat mendorong harga BTC naik hingga mencapai $66.000 dan ETH melampaui $3.200.

Persetujuan ini diberikan kepada manajer aset terkemuka, termasuk China Asset Management, Bosera Capital, dan HashKey Capital Limited. Bersamaan dengan persetujuan prinsip untuk Harvest Global Investments, ETF BTC dan ETH ini akan mulai diperdagangkan pada akhir bulan April 2024.

Baca Juga :   Ajaib Kripto: Melesat ke $68.000, BTC Semakin Mendekati Harga Tertinggi!

Pakar Keuangan Kripto, Panji Yudha, menjelaskan, “Pagi ini, Selasa (16/4) pukul 08:00 WIB, Bitcoin (BTC) diperdagangkan pada $63.210, turun 2,96% dalam periode 24 jam terakhir. Saat ini, BTC berpotensi bergerak dalam kisaran $62.800 – $65.000.”

Pasar kripto minggu ini penuh dengan berbagai peristiwa penting. Investor khususnya memperhatikan tiga sentimen utama, termasuk penjualan ritel AS yang menunjukkan stabilitas ekonomi dan rencana pemotongan suku bunga oleh Fed. Selain itu, pidato Wakil Ketua Fed Philip Jefferson juga menjadi sorotan, karena kebijakan suku bunga Federal Reserve sangat mempengaruhi minat terhadap aset kripto.

Tidak kalah pentingnya, peristiwa Halving Bitcoin yang akan terjadi pada Sabtu (20/4) juga menimbulkan antisipasi besar karena dapat menciptakan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan. Hal ini berpotensi memicu lonjakan bullish Bitcoin dalam jangka panjang. Dalam sejarah halving sebelumnya, Bitcoin selalu mengalami kenaikan fantastis setahun setelah halving, sehingga ada potensi besar untuk melampaui harga tertinggi sebesar $73.250 dalam beberapa bulan setelah halving.

Baca Juga :   Kominfo Gandeng Asosiasi Blockchain Indonesia Kembangkan Ekosistem Blockchain

Bitcoin Halving keempat akan terjadi pada Block 840.000. Saat ini, blok Bitcoin telah mencapai 839.410, yang berarti hanya 590 blok lagi menuju Bitcoin Halving keempat yang dijadwalkan pada sekitar tanggal 20 April 2024. Hal ini akan mengurangi hadiah bagi para penambang Bitcoin (BTC) dari 6,25 BTC menjadi 3,125 BTC per blok.

Dalam suasana pasar yang penuh antisipasi ini, investor perlu memperhatikan setiap perkembangan pasar dengan cermat. Ada dua strategi yang dapat diambil menghadapi ketidakpastian pasar. Pertama adalah Buy The Dip, yaitu aksi membeli saat harga Bitcoin mengalami penurunan signifikan. Kedua, adalah Dollar Cost Averaging (DCA), dengan melakukan pembelian secara berkala untuk mengurangi risiko kehilangan peluang atau membuat keputusan buruk akibat fluktuasi harga yang cepat. (saf)