Scroll untuk baca artikel
Teknologi

TROOPS Siapkan 12 Juta Dolar AS Garap Bisnis Infrastruktur AI di Asia Tenggara

8
×

TROOPS Siapkan 12 Juta Dolar AS Garap Bisnis Infrastruktur AI di Asia Tenggara

Sebarkan artikel ini
Perusahaan jasa keuangan dan properti asal Hong Kong, TROOPS, Inc. (Nasdaq: TROO), menyiapkan investasi hingga US$12 juta untuk membangun unit bisnis baru yang berfokus pada infrastruktur kecerdasan buatan (AI) di Asia Tenggara.

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA — Perusahaan jasa keuangan dan properti asal Hong Kong, TROOPS, Inc. (Nasdaq: TROO), menyiapkan investasi hingga US$12 juta untuk membangun unit bisnis baru yang berfokus pada infrastruktur kecerdasan buatan (AI) di Asia Tenggara.

Ekspansi tersebut menyasar pasar infrastruktur komputasi yang berkembang seiring meningkatnya kebutuhan perusahaan terhadap kapasitas cloud, GPU, dan layanan AI. TROOPS menyebut Asia Tenggara telah menarik investasi lebih dari US$55 miliar dalam setahun terakhir.

Melalui unit baru tersebut, TROOPS berencana mengeksplorasi layanan GPU-as-a-Service, inferensi AI, komputasi tepi (edge computing), komputasi terdesentralisasi, orkestrasi cloud, hingga layanan pengembang AI.

Untuk mengembangkan bisnis tersebut, TROOPS telah menjajaki kemitraan dengan Bfarms365 LLC, perusahaan berbasis di Texas, Amerika Serikat.

Perusahaan menyatakan tengah mengevaluasi lokasi, aset, dan peluang kemitraan di Hong Kong, Malaysia, dan Indonesia. Alokasi investasi tahap awal diperkirakan mencapai US$6 juta pada akhir 2026, dari total komitmen hingga US$12 juta.

Indonesia Jadi Pasar Infrastruktur Data

Indonesia menjadi salah satu pasar yang mendapat perhatian dalam ekspansi tersebut seiring pertumbuhan kebutuhan pusat data yang didorong oleh adopsi AI dan layanan cloud.

Menurut laporan Research and Markets yang diterbitkan Januari 2026, pasar pusat data Indonesia bernilai sekitar US$2,81 miliar pada 2025 dan diproyeksikan mencapai US$6,08 miliar pada 2031, dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) 13,73%.

Baca Juga :   Samsung AI Home Bawa Transformasi Bagi Peralatan Rumah Tangga

Laporan tersebut juga mencatat terdapat 88 fasilitas pusat data yang telah beroperasi dan 25 fasilitas yang akan dibangun di 17 kota.

Jakarta masih menjadi lokasi utama dengan 38 pusat data beroperasi dan 13 fasilitas dalam tahap pengembangan, berdasarkan data yang dikutip dalam materi perusahaan.

Masuknya modal ke sektor ini juga melibatkan investor institusional. Indonesia Investment Authority (INA) disebut telah mengalokasikan sekitar 30% dari total modal yang disalurkan sebesar Rp74,5 triliun atau sekitar US$4,2 miliar ke infrastruktur digital.

Salah satu investasinya adalah kepemilikan saham di DayOne Data Centres, yang mengembangkan fasilitas berkapasitas 72 megawatt dan telah mengamankan komitmen okupansi penuh.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap kapasitas komputasi mulai membentuk ekosistem investasi baru di kawasan, dengan perusahaan telekomunikasi, investor institusional, dan operator pusat data berlomba memperbesar kapasitas.

Baca Juga :   Mouser Eksplorasi Sinergi AI dan Keahlian Manusia dalam Teknik lewat Episode Terbaru EIT

Telekomunikasi Ikut Perkuat Infrastruktur AI

Persaingan pembangunan infrastruktur AI juga mulai melibatkan perusahaan telekomunikasi besar di Asia.

Singtel, misalnya, memperluas platform pusat data Nxera di Asia Tenggara. Sementara itu, SK Telecom menghimpun US$2,2 miliar dari KKR dan konsorsium IMM-Stonebridge pada Agustus 2026 untuk mengembangkan bisnis pusat data AI baru bernama SK Horizon.

Di India, Reliance Jio juga tengah mengembangkan kampus pusat datanya sendiri.

Presiden dan CEO TROOPS Damian Thurnheer mengatakan perkembangan tersebut menunjukkan perubahan dalam sumber dan pola investasi infrastruktur komputasi di Asia.

“Asia Tenggara, khususnya Indonesia, telah menjadi tempat di mana kapasitas komputasi Asia benar-benar dibangun, dan modal yang masuk tidak lagi hanya berasal dari Amerika,” ujar Thurnheer.

Menurut dia, masuk ke bisnis infrastruktur AI menjadi perluasan dari bisnis TROOPS yang selama ini mencakup teknologi finansial atau fintech.

Infrastruktur AI Pelengkap Bisnis Fintech

Portofolio TROOPS saat ini bertumpu pada bisnis pembiayaan properti dan usaha kecil di Hong Kong melalui dua pemberi pinjaman berlisensi, kepemilikan properti komersial, serta bisnis konsultan asuransi dan platform teknologi finansial.

Baca Juga :   Studi LD FEB UI: Kredit Digital Kredivo Dorong Akses dan Aktivitas Produktif

Platform tersebut menyalurkan produk kredit dan asuransi melalui antarmuka pemrograman aplikasi (API).

TROOPS mencatat pendapatan US$17,1 juta pada tahun yang berakhir 31 Desember 2025, meningkat 70% dibandingkan periode sebelumnya. Perusahaan juga memiliki 19,9% saham di HK Golden, Inc., operator salah satu forum daring terbesar di Hong Kong.

Chief Technology Officer TROOPS Tommy Wing Ling Lui mengatakan kebutuhan infrastruktur AI juga berkaitan dengan penggunaan teknologi tersebut di bisnis inti perusahaan.

“Kami sudah menjalankan pembelajaran mesin (machine learning) dalam proses underwriting dan servicing, di atas infrastruktur yang kami sewa,” ujarnya.

Menurut Lui, memiliki eksposur langsung terhadap infrastruktur pusat data di Indonesia dapat memberikan ruang bagi perusahaan untuk mengembangkan kemampuan komputasi sekaligus memperluas penerapan teknologi dalam bisnis.

Dengan rencana investasi tersebut, TROOPS tidak hanya membidik pasar layanan AI, tetapi juga lapisan infrastruktur yang menopang pertumbuhan teknologi tersebut. Perusahaan menyatakan akan menyampaikan perkembangan lebih lanjut setelah ketentuan definitif tercapai dan melakukan pelaporan kepada Securities and Exchange Commission (SEC) apabila diwajibkan.