BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA — Indonesia mulai memasuki fase perubahan demografi menuju masyarakat menua. Di tengah masih berlangsungnya bonus demografi, jumlah penduduk lanjut usia (lansia) terus meningkat dan berpotensi memperbesar tekanan sosial serta finansial antargenerasi.
Riset DBS Foundation bertajuk “Indonesia Menuju Populasi Menua: Seberapa Siapkah Kita?” mencatat proporsi lansia Indonesia telah mencapai 12% dari populasi pada 2025 dan diproyeksikan menembus 20% pada 2045. Pada saat yang sama, tingkat fertilitas diproyeksikan turun menjadi 1,97 anak per perempuan pada 2045.
Perubahan tersebut membuat persiapan menghadapi masa tua tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan individu semata. Kesiapan perlu dibangun sejak usia produktif melalui pendidikan, kesehatan, pekerjaan, perlindungan sosial, serta perencanaan keuangan dan pensiun.
Riset tersebut menunjukkan lebih dari 80% rumah tangga lansia masih bergantung pada anggota keluarga yang bekerja. Kondisi ini berlangsung ketika partisipasi dalam program pensiun masih rendah, tercermin dari kesenjangan antara pemahaman mengenai dana pensiun dan kepemilikannya.
Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika mengatakan isu masyarakat menua memiliki implikasi bagi seluruh generasi.
“Ageing society merupakan isu penting bagi kami karena memiliki implikasi bagi seluruh generasi. Di DBS Foundation, kami percaya persiapan menghadapi populasi menua perlu dipersiapkan sejak usia produktif,” ujar Mona.
Menurut dia, DBS Foundation berkomitmen mendukung kesiapan masyarakat rentan melalui peningkatan akses pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, literasi dan inklusi keuangan hingga persiapan pensiun.
Bonus Demografi Mulai Menyempit
Indonesia saat ini masih menikmati bonus demografi. Berdasarkan riset tersebut, sekitar 69% populasi berada pada usia produktif 15–65 tahun pada 2025.
Namun, jendela bonus demografi semakin menyempit seiring penurunan proporsi penduduk usia produktif. Dua faktor utama yang mendorong perubahan tersebut adalah penurunan tingkat fertilitas dan meningkatnya harapan hidup.
Total fertility rate (TFR) turun dari 3,11 pada awal 1990-an menjadi 2,13 anak per perempuan pada 2024 dan diproyeksikan kembali turun menjadi 1,97 pada 2045.
Pada saat yang sama, jumlah pernikahan turun dari 2,01 juta pada 2018 menjadi 1,48 juta pada 2025. Struktur keluarga yang semakin kecil berpotensi mengurangi jumlah anggota keluarga usia produktif yang dapat berbagi tanggung jawab finansial maupun perawatan orang tua.
Situasi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap kelompok sandwich generation, yakni generasi usia produktif yang harus memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya sekaligus membantu orang tua.
Banyak Lansia Masih Bekerja
Persoalan kesiapan masa tua juga terlihat dari tingginya proporsi lansia yang masih bekerja.
Riset DBS Foundation mencatat 55,32% lansia masih bekerja, dengan 84,75% di antaranya bekerja di sektor informal. Di tingkat nasional, sekitar 59,42% tenaga kerja juga berada di sektor informal.
Sektor informal umumnya memiliki pendapatan yang lebih rendah dan tidak menentu serta akses yang lebih terbatas terhadap tunjangan ketenagakerjaan. Kondisi tersebut dapat membatasi akses sebagian masyarakat terhadap pekerjaan berproduktivitas tinggi maupun skema pensiun formal.
Ketergantungan antargenerasi juga tercermin dari kondisi rumah tangga lansia. Sekitar 82,96% rumah tangga lansia bergantung pada penghasilan anggota keluarga yang bekerja, sementara kurang dari 1% mengandalkan tabungan dan investasi sebagai sumber kehidupan ekonomi.
Artinya, tanpa persiapan lebih dini, kebutuhan finansial saat memasuki usia tua berpotensi terus ditanggung oleh generasi produktif berikutnya.
Inklusi Keuangan Tinggi, Dana Pensiun Rendah
Tantangan lainnya adalah kesenjangan antara akses terhadap layanan keuangan dan kesiapan pensiun.
Pada kelompok usia 18–50 tahun, tingkat inklusi keuangan telah mencapai 93,5%–95,1%, sedangkan literasi keuangan berada pada kisaran 72,1%–74,1%.
Namun, kepemilikan tabungan atau dana pensiun masih rendah, yakni hanya 5,37%. Sementara itu, pemahaman mengenai pentingnya dana pensiun telah mencapai 27,79%.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tingginya akses terhadap produk keuangan belum otomatis berujung pada kesiapan menghadapi masa pensiun.
Riset menilai diperlukan skema dana pensiun yang lebih fleksibel bagi pekerja sektor informal dan wiraswasta agar cakupan program pensiun dapat diperluas.
Kesiapan masa pensiun juga tidak cukup hanya mengandalkan kebiasaan menabung. Faktor pendidikan, pekerjaan yang layak, kemampuan finansial, cakupan perlindungan sosial, kesehatan, dan keterampilan perlu dibangun sepanjang siklus kehidupan.
Pendidikan dan Kesehatan Jadi Investasi Jangka Panjang
Riset juga menyoroti hubungan antara pendidikan dan peluang ekonomi di masa depan. Rata-rata lama sekolah generasi saat ini berada di sekitar sembilan tahun atau setara jenjang SMP, sementara lansia saat ini rata-rata memiliki pengalaman pendidikan sekitar enam tahun atau setara SD.
Peningkatan partisipasi pendidikan hingga minimal 12 tahun dinilai dapat memengaruhi peluang kerja di masa depan.
Selain aspek finansial, kesehatan dan kemampuan beradaptasi juga menjadi bagian penting dari kesiapan menghadapi masa tua.
Artist, Entrepreneur and Founder of Cinta Laura Foundation Cinta Laura Kiehl mengatakan kesiapan masa depan dapat dibangun sejak usia produktif, termasuk melalui kebiasaan sehat, pengembangan diri, dan perencanaan finansial.
“Kemandirian di masa depan dibangun dari keinginan untuk terus belajar,” kata Cinta.
Dia menambahkan, akses pendidikan dan pengembangan kapasitas perlu diperluas agar generasi muda memiliki bekal untuk membangun masa depan, termasuk melalui kemampuan kepemimpinan, komunikasi, literasi keuangan, pemecahan masalah, dan kesiapan karier.
Perlu Pendekatan Lintas Generasi
Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK RI Woro Srihastuti Sulistyaningrum mengatakan persiapan menghadapi masyarakat menua perlu dilakukan sepanjang siklus kehidupan.
Menurut dia, perhatian perlu diberikan sejak masa awal kehidupan, pendidikan, usia produktif, hingga memasuki usia lanjut.
“Dengan pendekatan ini, kita tidak hanya mempersiapkan masyarakat untuk menghadapi usia lanjut, tetapi juga membangun fondasi agar mereka dapat menjalani kehidupan yang sehat, produktif, dan sejahtera sejak dini,” ujar Woro.
Dalam konteks tersebut, pemerintah memiliki peran dalam menyiapkan kebijakan lintas sektor, sementara sektor swasta dapat mengembangkan layanan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menua. Individu juga memiliki peran melalui pengembangan kapasitas, penerapan gaya hidup sehat, serta perencanaan keuangan dan pensiun.
DBS Foundation menilai perubahan demografi sekaligus menciptakan kebutuhan baru di sektor kesehatan dan perawatan, keamanan finansial, pembelajaran sepanjang hayat, hingga keterhubungan sosial. Kondisi tersebut membuka ruang bagi dunia usaha dan Businesses for Impact untuk menghadirkan solusi yang lebih inklusif.
Sejak 2015, DBS Foundation telah menyalurkan lebih dari SGD26 juta dalam bentuk hibah kepada lebih dari 180 social enterprises dan Businesses for Impact di Asia. Di Indonesia, lebih dari SGD4 juta telah dialokasikan kepada 25 penerima.
Salah satu langkah terbaru adalah menghadirkan Retirement Goal Calculator melalui Bank DBS Indonesia dan DBS Foundation. Kalkulator tersebut dirancang membantu masyarakat memperkirakan kebutuhan finansial berdasarkan target usia pensiun, pengeluaran, gaya hidup, inflasi, dan asumsi imbal hasil investasi.
Pada akhirnya, riset DBS Foundation menekankan bahwa kesiapan menghadapi masyarakat menua perlu dibangun sebelum seseorang memasuki usia pensiun. Investasi pada pendidikan, kesehatan, pekerjaan, kemampuan finansial, dan perlindungan sosial sejak usia produktif menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan antargenerasi dan membangun masyarakat yang lebih mandiri di masa depan.











