Scroll untuk baca artikel
Finansial

DBS Ungkap Strategi Perusahaan Multinasional Hadapi Ketidakpastian Global

2
×

DBS Ungkap Strategi Perusahaan Multinasional Hadapi Ketidakpastian Global

Sebarkan artikel ini
(Ki-ka) Senior Economist DBS Group Research Radhika Rao, Indonesia’s Head of Research DBS Group Research William Simadiputra, dan Head, Large & Multinational Corporates, Institutional Banking Group, Bank DBS Indonesia Natalia Ratulangi dalam acara media briefing The Indonesia Equation: Risks, Returns and the Road to 2027, Kamis (10/09). Bank DBS Indonesia menyampaikan posisi Indonesia yang sangat strategis dalam menarik investasi jumlah besar, seiring dengan perkembangan ekonomi global yang semakin multipolar sehingga turut menjadi peluang bagi perusahaan multinasional untuk memantapkan strateginya menuju 2027

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA — Bank DBS Indonesia melihat Indonesia masih memiliki peluang besar untuk menarik investasi asing di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global. Perubahan rantai pasok, agenda hilirisasi, serta perkembangan sektor teknologi dan kendaraan listrik menjadi sejumlah faktor yang dapat memperkuat daya tarik investasi Indonesia menuju 2027.

Pandangan tersebut disampaikan dalam forum The Indonesia Equation: Risks, Returns and the Road to 2027 yang digelar Bank DBS Indonesia pada Kamis (10/9/2026). Forum tersebut mempertemukan Deputi Bidang Pengembangan Iklim dan Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Riyatno, analis DBS Group Research, serta perwakilan perusahaan multinasional.

Forum itu membahas sejumlah dinamika yang berpotensi memengaruhi keputusan investasi dan strategi bisnis perusahaan multinasional, mulai dari penataan ulang perdagangan global (trade realignment), ekonomi multipolar, arah suku bunga Amerika Serikat (AS), hingga volatilitas pasar.

Asia dinilai masih menjadi salah satu magnet utama investasi asing langsung atau penanaman modal asing (PMA) global. Arus PMA ke Asia Timur tercatat sekitar US$245 miliar pada 2025, sedangkan Asia Tenggara meningkat dari sekitar US$225 miliar pada 2024 menjadi hampir US$250 miliar pada 2025.

Pertumbuhan tersebut antara lain didorong relokasi rantai pasok global, ekspansi manufaktur, serta meningkatnya minat investor terhadap pasar ASEAN.

Indonesia Berpeluang Perkuat Posisi

Senior Economist DBS Group Research Radhika Rao mengatakan perubahan menuju ekonomi global yang semakin multipolar membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat pertumbuhan baru.

Menurutnya, daya tarik Indonesia tidak lagi hanya bertumpu pada sumber daya alam dan besarnya pasar domestik. Kemampuan menarik investasi berbasis teknologi, memperkuat rantai nilai domestik, mengembangkan ekonomi digital, serta menjaga stabilitas kebijakan dan makroekonomi menjadi faktor yang semakin menentukan.

Baca Juga :   ENTREV Dorong Kesetaraan Gender untuk Ekosistem KBLBB Berkelanjutan

“Perkembangan ekonomi global yang semakin multipolar membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai pusat pertumbuhan baru, seiring dengan semakin terdiversifikasinya investasi, manufaktur, dan rantai pasok global,” ujar Radhika.

Dia menambahkan, arah suku bunga AS dan kondisi pasar global juga akan memengaruhi arus modal, nilai tukar rupiah, serta biaya pendanaan di Indonesia. Kondisi tersebut perlu diperhitungkan perusahaan multinasional dalam menyusun strategi bisnis hingga 2027.

DBS Group Research melihat setidaknya sejumlah faktor yang dapat menopang arus investasi ke Asia, termasuk Indonesia.

Pertama, tren China+1 dan Taiwan+1 yang mendorong perusahaan melakukan diversifikasi rantai pasok di luar China dan Taiwan. Kondisi ini membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai basis manufaktur, termasuk dalam ekosistem kendaraan listrik.

Kedua, agenda hilirisasi Indonesia yang berpotensi meningkatkan nilai tambah industri sekaligus menciptakan peluang investasi pada sektor energi, infrastruktur, dan manufaktur strategis.

Indonesia juga memiliki peluang untuk mengambil peran lebih besar dalam ekosistem teknologi, elektronik, semikonduktor, dan kendaraan listrik di kawasan Asia, dengan dukungan sumber daya alam, pasar domestik yang besar, serta kebijakan yang mendukung investasi.

Di tingkat ASEAN, prospek investasi juga didukung reformasi struktural, kepastian regulasi, dan meningkatnya investasi berkelanjutan.

Realisasi Investasi Masih Positif

Deputi Bidang Pengembangan Iklim dan Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Riyatno mengatakan realisasi investasi Indonesia masih menunjukkan tren positif.

Dia menyebut capaian investasi pada semester I/2026 telah mencapai hampir 50% dari target pertumbuhan sebesar 7,2% secara tahunan (year-on-year/YoY).

Baca Juga :   Bank DBS Indonesia Luncurkan “DBS Bersiap” untuk Dukung Mahasiswa dengan Disabilitas

“Di tengah dinamika global dan persaingan yang semakin intensif, potensi investasi di Indonesia masih sangat besar dengan resiliensi ekonomi yang cukup baik,” kata Riyatno.

Menurutnya, pemerintah terus berupaya menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif melalui layanan investasi dari hulu hingga hilir, termasuk penyusunan peta jalan sektor investasi, reformasi regulasi, serta penyederhanaan proses perizinan.

Pemerintah juga mengembangkan OSS Versi 2 yang disebut semakin terintegrasi dengan dukungan teknologi seperti AI dan blockchain untuk meningkatkan efisiensi proses investasi.

Expand, Deepen, atau Reassess?

Di tengah perubahan lanskap global, perusahaan multinasional menghadapi pilihan strategis dalam menentukan arah ekspansi mereka di Indonesia. Setidaknya terdapat tiga pendekatan yang dapat dipertimbangkan, yakni memperluas bisnis (expand), memperdalam eksposur (deepen), atau meninjau kembali strategi (reassess).

Pilihan tersebut tidak dapat dilepaskan dari perkembangan makroekonomi, regulasi, geopolitik, serta kemampuan perusahaan mengelola risiko dan pembiayaan.

Indonesia memiliki sejumlah keunggulan untuk menjadi tujuan investasi, mulai dari skala pasar, prospek pertumbuhan, daya saing biaya, ketersediaan tenaga kerja, hingga perkembangan ekosistem industri.

Namun, perusahaan multinasional juga semakin mempertimbangkan kepastian regulasi, kecepatan proses perizinan, efisiensi operasional, stabilitas kebijakan ekonomi, serta risiko nilai tukar.

Penguatan faktor-faktor tersebut menjadi penting bagi Indonesia untuk mempertahankan daya tariknya di tengah persaingan antarnegara ASEAN dalam memperebutkan investasi global.

DBS Siapkan Solusi Perbankan

Head of Large & Multinational Corporates, Institutional Banking Group Bank DBS Indonesia Natalia Ratulangi mengatakan kebutuhan perusahaan multinasional kini semakin kompleks.

Baca Juga :   Bank DBS Indonesia Catat Rp6,1 Triliun Pendanaan Transisi dan Ragam Pencapaian Lainnya

Menurutnya, perusahaan tidak hanya membutuhkan pembiayaan, tetapi juga solusi untuk menghadapi perubahan suku bunga, nilai tukar, regulasi, serta sentimen ekonomi lokal.

“Kebutuhan perusahaan multinasional semakin beragam, tidak hanya sekadar pembiayaan, tetapi juga kebutuhan untuk mengatasi dampak gejolak suku bunga, nilai tukar, kebijakan regulasi, dan sentimen ekonomi lokal,” ujar Natalia.

Karena itu, perusahaan membutuhkan mitra perbankan yang mampu memberikan wawasan pasar sekaligus solusi keuangan yang terintegrasi di berbagai negara.

Bank DBS Indonesia mengandalkan jaringan DBS di Asia untuk menyediakan solusi perbankan bagi perusahaan multinasional, mulai dari pendanaan modal kerja, capital expenditure (capex) financing, sustainability-linked loan, produk perdagangan dan treasury, manajemen kas, hingga strategic advisory dan solusi perbankan yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan.

Konektivitas regional tersebut juga didukung platform digital banking dan keahlian DBS di berbagai sektor industri untuk membantu perusahaan multinasional mengelola kebutuhan bisnis lintas negara.

Komitmen tersebut sejalan dengan dukungan Bank DBS Indonesia terhadap penguatan ekosistem investasi dan perluasan investasi asing di Indonesia.

Kapabilitas tersebut turut diperkuat oleh sejumlah penghargaan internasional yang diterima DBS, antara lain World’s Best Corporate Bank 2026 dan Best Bank for Sustainable Finance 2026 dari Global Finance, Best Sustainable Bank & Biggest Sustainable Impact 2026 dari FinanceAsia, serta Best Bank for Sustainable Finance 2026 dari The Asset.

Melalui kombinasi konektivitas regional, solusi pembiayaan, layanan treasury dan cash management, serta advisory, DBS Indonesia berupaya membantu perusahaan multinasional menerjemahkan strategi investasi menjadi langkah bisnis yang lebih konkret di tengah perubahan lanskap global menuju 2027.