Scroll untuk baca artikel
Teknologi

Mengapa Kacamata AI Pertama Samsung Tidak Dibekali Layar?

3
×

Mengapa Kacamata AI Pertama Samsung Tidak Dibekali Layar?

Sebarkan artikel ini
Samsung Intelligent Eyewear menjadi kacamata AI pertama perusahaan yang hadir tanpa layar. Samsung memilih desain berbasis audio untuk menjaga bobot tetap ringan, meningkatkan kenyamanan penggunaan sehari-hari, dan menekan biaya di tengah pasar wearable AI yang masih berkembang

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA — Ketika Samsung memperkenalkan Intelligent Eyewear, banyak yang memperkirakan perangkat itu akan menjadi pesaing langsung kacamata augmented reality (AR) dengan layar di lensa. Namun, perusahaan justru mengambil pendekatan berbeda. Kacamata AI pertamanya sama sekali tidak memiliki layar.

Keputusan tersebut bukan karena keterbatasan teknologi. Samsung justru memilih kompromi yang dinilai paling realistis untuk generasi pertama produk wearable AI: mengutamakan bobot ringan, kenyamanan penggunaan, harga yang lebih terjangkau, serta mempertimbangkan permintaan pasar yang masih belum terbentuk sepenuhnya.

“Kacamata AI sebenarnya bisa dibuat oleh banyak perusahaan. Tantangan sesungguhnya adalah menciptakan produk yang benar-benar ingin dipakai orang setiap hari,” ujar Kepala Tim Riset dan Pengembangan Extended Reality Samsung Electronics, Choi Jae-in, saat ditemui di London, 23 Juli, sehari setelah peluncuran perangkat tersebut pada ajang Galaxy Unpacked.

Menurut Choi, keberhasilan kacamata AI tidak hanya ditentukan oleh kemampuan kecerdasan buatannya, tetapi juga seberapa nyaman perangkat tersebut dikenakan sepanjang hari.

Karena itu, tim pengembang Samsung bahkan memperdebatkan perbedaan bobot hingga sepersepuluh gram. Baterai ditempatkan di salah satu sisi gagang kacamata, sementara sensor dan speaker berada di sisi lainnya. Konfigurasi tersebut terus disempurnakan hingga distribusi berat di kedua sisi terasa seimbang saat digunakan.

Samsung mengklaim Intelligent Eyewear lebih ringan dibanding sebagian besar kacamata AI berbasis audio yang telah beredar di pasar. Namun perusahaan belum mengungkapkan bobot maupun harga resmi perangkat tersebut. Samsung hanya memastikan produk akan mulai dipasarkan pada musim gugur tahun ini dengan spesifikasi yang dapat berbeda bergantung pada model dan konfigurasinya.

Ringan karena tidak menggunakan layar

Ketiadaan layar menjadi salah satu faktor utama yang memungkinkan Samsung menekan bobot perangkat.

Baca Juga :   5 Inovasi Samsung Galaxy yang Meningkatkan Kualitas Komunikasi

Melalui kamera yang terpasang di bagian depan, model AI Gemini milik Google dapat memahami apa yang sedang dilihat pengguna. Seluruh jawaban kemudian disampaikan melalui speaker tanpa perlu menampilkan informasi secara visual.

Pendekatan ini sebenarnya bukan hal baru. Meta telah lebih dahulu membangun pasar melalui lini Ray-Ban Smart Glasses yang juga mengandalkan kamera, mikrofon, speaker, dan AI tanpa menggunakan layar.

Yang menarik, Samsung sebenarnya memiliki seluruh rantai teknologi untuk membuat kacamata AR lengkap, mulai dari bisnis semikonduktor, panel layar, smartphone hingga ekosistem perangkat pintar. Namun perusahaan memilih memulai dari desain yang lebih sederhana sebelum melangkah ke perangkat yang lebih kompleks.

Pasar saat ini masih berpihak pada model tanpa layar

Keputusan Samsung juga sejalan dengan arah perkembangan pasar.

Menurut Counterpoint Research, intelligent eyewear saat ini terbagi dalam tiga kategori, yakni headset virtual reality (VR), kacamata augmented reality (AR), dan smart glasses tanpa layar.

Pada kuartal I/2026, pengiriman smart glasses tanpa layar melonjak 210% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut menjadi pertumbuhan tercepat sekaligus volume penjualan terbesar di industri.

Sebagai perbandingan, pengiriman kacamata AR tumbuh 136%, sedangkan pasar headset VR justru menyusut 17%.

Meta masih mendominasi segmen smart glasses tanpa layar dengan pangsa pasar sekitar 84%.

Pendiri Smart Analytics Global sekaligus mantan Kepala Mobile Device Markets TechInsights, Linda Sui, menilai keputusan Samsung memulai dari kacamata AI berbasis audio merupakan langkah yang paling rasional secara bisnis.

Menurut proyeksinya, hingga 2030 perangkat AI tanpa layar diperkirakan masih akan menyumbang sekitar 81% pengiriman smart glasses global, meski kontribusi terhadap pendapatan industri hanya sekitar 67%.

Sebaliknya, perangkat yang menggunakan layar diperkirakan hanya menguasai 19% volume pengiriman, tetapi menghasilkan sekitar sepertiga pendapatan industri karena harga jualnya dua hingga tiga kali lebih mahal.

Baca Juga :   Forum Ekonomi Kreatif AS-Indonesia Dorong Kerja Sama Dagang dan Inovasi Digital

Mengapa layar belum menjadi pilihan?

Meski menawarkan pengalaman yang lebih kaya, layar membawa konsekuensi teknis yang tidak kecil.

“Banyak respons AI pada dasarnya bersifat visual,” kata Sui.

Menurut dia, hasil terjemahan, petunjuk navigasi, maupun notifikasi akan jauh lebih mudah dipahami apabila ditampilkan secara singkat di depan mata dibandingkan harus didengarkan seluruhnya melalui audio.

Namun menambahkan layar berarti perangkat membutuhkan panel mikro, sistem optik untuk memproyeksikan gambar ke mata, tingkat kecerahan tinggi agar tetap terlihat di luar ruangan, hingga baterai yang lebih besar untuk menopang konsumsi daya.

Analis Hana Securities Kwon Tae-woo mengatakan seluruh komponen tersebut secara bersamaan akan meningkatkan bobot, biaya produksi, dan konsumsi energi.

“Begitu sebuah produk menggunakan layar, konsekuensinya terhadap bobot, biaya, dan konsumsi baterai akan meningkat secara bersamaan,” ujarnya.

Karena itu, Samsung dinilai lebih memilih menjaga kenyamanan pemakaian dibanding memaksakan fitur visual pada produk generasi pertamanya.

Produk lain menunjukkan komprominya

Produk yang sudah tersedia di pasar memperlihatkan trade-off tersebut.

Meta menjual Ray-Ban Display seharga sekitar US$799 dengan layar kecil pada salah satu lensa untuk menampilkan pesan, navigasi, dan informasi singkat. Bobot perangkat itu sekitar 69 gram, lebih berat dibanding model Ray-Ban Meta tanpa layar yang berada pada kisaran 48–52 gram.

Sementara itu, Snap Specs yang segera dipasarkan menawarkan pengalaman AR penuh dengan layar berwarna pada kedua mata. Konsekuensinya, perangkat dibanderol sekitar US$2.195 dengan bobot lebih dari 130 gram.

Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa semakin lengkap kemampuan visual sebuah kacamata AI, semakin besar pula kompromi yang harus diterima pengguna dari sisi harga, ukuran, dan kenyamanan.

Baca Juga :   BRIN Kembangkan Gatotkaca untuk Riset Dinamika Atmosfer dan Hidrometeorologi di Indonesia

Industri Korea menyiapkan generasi berikutnya

Meski Samsung memilih memulai tanpa layar, pengembangan teknologi AR tetap berlangsung.

Samsung Display, misalnya, telah memperkenalkan prototipe panel RGB OLED-on-Silicon (OLEDoS) berukuran 0,62 inci pada ajang AWE USA Juni lalu. Teknologi tersebut dirancang untuk menampilkan navigasi, terjemahan, hingga informasi cuaca melalui panel OLED penuh warna berukuran sangat kecil.

Menurut Samsung Display, teknologi RGB OLEDoS memiliki prospek produksi massal yang lebih baik sekaligus menawarkan efisiensi biaya.

Di sisi lain, LG Electronics juga dilaporkan tengah mengembangkan kacamata AI berlayar dengan target bobot di bawah 49 gram serta daya tahan baterai lebih dari delapan jam melalui penggunaan lensa optik ultra-tipis.

Permintaan pasar masih menjadi tanda tanya

Terlepas dari kemajuan teknologi, tantangan terbesar industri bukan lagi soal kemampuan membuat perangkat, melainkan apakah pasar benar-benar siap menerimanya.

Seorang pejabat perusahaan panel layar besar di Korea Selatan mengatakan konsumen pada akhirnya memang menginginkan smart glasses yang mampu menampilkan informasi langsung di depan mata. Namun hingga kini, belum ada bukti bahwa permintaan tersebut cukup besar untuk mendukung investasi produksi massal.

Situasi semakin rumit setelah penjualan Vision Pro dinilai belum memenuhi ekspektasi sehingga produksi panel OLEDoS Sony ikut dikurangi. Kondisi tersebut membuat banyak produsen komponen memilih menunggu sebelum menggelontorkan investasi besar.

Dalam konteks itu, keputusan Samsung meluncurkan kacamata AI tanpa layar dapat dipandang sebagai strategi bertahap. Alih-alih mengejar teknologi paling canggih, perusahaan memilih menghadirkan produk yang lebih ringan, lebih sederhana, dan berpotensi lebih mudah diterima pasar sebelum beralih ke perangkat AR yang lebih kompleks pada generasi berikutnya. (Korea Herald)