BISNISASIA.CO.ID, BANDUNG — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) memanfaatkan energi panas bumi di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Kamojang, Kabupaten Bandung, untuk mendukung proses pengolahan kopi melalui teknologi Geothermal Dry House. Inovasi tersebut menjadi salah satu bentuk pemanfaatan langsung energi panas bumi di luar pembangkitan listrik sekaligus mendorong peningkatan nilai tambah komoditas kopi lokal.
Inovasi itu diperkenalkan dalam rangkaian peringatan 100 tahun panas bumi Indonesia melalui kunjungan PT Pertamina (Persero) bersama media ke PGE Area Kamojang pada Jumat (26/6/2026).
Kamojang merupakan salah satu sentra kopi Arabika di Jawa Barat yang berada di ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut. PGE memanfaatkan panas dari steam trap panas bumi sebagai sumber energi alternatif untuk proses pengeringan biji kopi, menggantikan metode konvensional yang bergantung pada sinar matahari.
Teknologi tersebut diklaim mampu memangkas waktu pengeringan dari sekitar 30–45 hari menjadi hanya 3–10 hari. Selain mempercepat proses produksi, metode ini menghasilkan tingkat kematangan biji kopi yang lebih seragam dan lebih higienis sehingga berpotensi meningkatkan kualitas serta nilai jual produk.
Corporate Secretary PGE Muhammad Taufik mengatakan pemanfaatan langsung energi panas bumi menjadi salah satu upaya memperluas manfaat geotermal bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi.
“Melalui inovasi seperti Geothermal Dry House, kami ingin memperlihatkan bahwa panas bumi tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga dapat dimanfaatkan secara langsung untuk meningkatkan kualitas produk lokal dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.
Saat ini PGE bermitra dengan tiga kelompok tani, yakni Ecovill, Akkar, dan Penyoeka Kopi, yang melibatkan sekitar 320 keluarga petani di kawasan Kamojang. Perusahaan menyebut kopi yang dihasilkan telah dipasarkan hingga mancanegara, termasuk ke sejumlah negara di Asia dan Eropa, dengan volume ekspor mencapai sekitar 20 ton.
Selain mendukung pengolahan kopi, PGE juga menjalankan program pemberdayaan masyarakat melalui KANYAAH (Kamojang Agri-Aquaculture Energized by Geothermal). Program tersebut mencakup pemanfaatan panas bumi untuk budidaya perikanan, pertanian, pengolahan pascapanen, hingga produksi pupuk organik.
Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan Kamojang memiliki posisi penting dalam sejarah pengembangan panas bumi nasional.
Menurutnya, kawasan tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan panas bumi tidak hanya menghasilkan energi listrik, tetapi juga dapat memberikan dampak ekonomi dan lingkungan melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat.
Secara historis, Kamojang merupakan wilayah panas bumi pertama yang dieksplorasi di Indonesia pada 1926. Saat ini WKP Kamojang dikelola PGE dengan lima unit Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) berkapasitas total 235 megawatt (MW).
PLTP Kamojang memasok kebutuhan listrik lebih dari 260.000 rumah tangga dan menjadi wilayah kerja dengan produksi listrik terbesar di antara aset panas bumi yang dikelola PGE. Perusahaan menyatakan operasional pembangkit tersebut juga berkontribusi pada pengurangan emisi karbon sekitar 1,22 juta ton CO₂ per tahun sebagai bagian dari upaya mendukung target Net Zero Emission Indonesia pada 2060.









