BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA– PT Merdeka Gold Resources Tbk (IDX: EMAS) (MGR/Perseroan) membuat gebrakan demi memperkuat struktur manajemen baru dengan menunjuk 3 calon direktur baru sebagai bagian dari strategi ekspansi dan pertumbuhan produksi emas yang makin berkelanjutan.
Langkah ini menyusul pengunduran diri tiga anggota direksi pada 18 Maret 2026, yaitu Albert Saputro, David Thomas Fowler, dan Adi Adriansyah Sjoekri.
Manajemen EMAS menyatakan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan standar tata kelola global, transparansi, akuntabilitas perusahaan. Tujuan, memperkuat posisi perseroan di pasar modal yang semakin kompetitif.
Langkah ini juga dilakukan di tengah momentum penting perseroan yang telah memasuki fase baru, yakni produksi emas komersial, ditandai dengan realisasi penjualan emas pertama kepada PT Aneka Tambang Tbk pada Maret 2026.
“Penunjukan ini tak hanya sekadar pergantian struktural, melainkan bagian dari upaya kami memperkuat kapabilitas operasional dan tata kelola perusahaan menghadapi fase pertumbuhan berikutnya,” katanya dalam pernyataan resmi EMAS, Rabu (25/3/2026).
EMAS menunjuk tiga nama yang memiliki pengalaman langsung di sektor pertambangan dan keuangan internal perusahaan.
Pertama, Nicholas John Green. Bergabung sejak Mei 2022 dan saat ini menjabat sebagai General Manager di EMAS. Perannya berfokus pada pengembangan proyek baru serta ekspansi fasilitas operasi yang telah berjalan.
Ekspansi fasilitas dan pengembangan proyek menjadi penentu utama pertumbuhan produksi jangka panjang, terutama di tengah meningkatnya permintaan emas global.
Kedua, Barend Johannes Nicolaas Knoetze. Membawa pengalaman operasional yang kuat. Sejak November 2025, dia menjabat sebagai General Manager Tambang Emas Pani, salah satu proyek strategis EMAS.
Barend bertanggung jawab atas berbagai bentuk operasional harian tambang, mulai dari perencanaan, penganggaran, hingga implementasi strategi jangka panjang.
Sebelumnya, dia juga memiliki pengalaman sebagai General Manager di Tambang Tembaga Wetar milik Merdeka Copper Gold. Adanya pengalaman lintas komoditas ini menjadi nilai tambah, terutama dalam mengelola kompleksitas operasi tambang berskala besar.
Ketiga, Suryadinata Tanu. Mengisi posisi penting di sisi keuangan. Dia sebelumnya menjabat sebagai General Manager Finance, Accounting, and Tax di MDKA sejak November 2017.
Peran ini menjadi begitu krusial dalam menjaga stabilitas finansial perusahaan, terutama saat EMAS memasuki fase produksi yang tentunya membutuhkan pengelolaan biaya, investasi, dan arus kas yang lebih kompleks.
Selain direksi, EMAS juga memperkuat jajaran Dewan Komisaris menunjuk Xinyu Wang dan Winato Kartono sebagai Komisaris, serta Yu Gao, John Mackay McCulloch Williamson, dan Jona Widhagdo Putri sebagai Komisaris Independen.
Apabila sederet nama-nama mentereng ini terpilih menjadi komisaris independent PT Merdeka Gold Resources, dewan komisaris perusahaan akan terdiri dari 4 komisaris independen, dari total 7 anggota dewan komisaris, lebih dari setengah dari dewan komisaris terdiri dari komisaris independen.
Hal tersebut mencerminkan fokus perusahaan pada tata kelola yang lebih kuat dan transparan, sejalan dengan standar industri pertambangan global.
Penunjukan manajemen baru ini terjadi pada saat yang tepat. EMAS kini tidak lagi berada pada fase eksplorasi, tetapi telah masuk ke tahap produksi komersial.
Penjualan emas pertama kepada PT Aneka Tambang Tbk pada Maret 2026 menjadi bukti bahwa proyek-proyek yang dikembangkan mulai memberikan hasil nyata.
Melalui berbagai kombinasi pengalaman teknis, operasional, dan finansial dari calon direksi baru, EMAS berada pada posisi lebih siap untuk menjalankan strategi ekspansi secara efektif.
Perseroan menilai bahwa rekam jejak Dewan Direksi dan Komisaris, khususnya dalam pengembangan proyek tambang seperti Pani, akan jadi fondasi penting dalam memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan.
Langkah ini juga menunjukkan bahwa EMAS tidak hanya fokus pada strategi ekspansi, tetapi juga pada penguatan organisasi.
Dengan struktur baru ini, EMAS tampak siap memasuki fase pertumbuhan yang lebih agresif, sekaligus dalam menjaga keseimbangan antara ekspansi dan tata kelola yang solid.











