Sere mengatakan tema yang diangkat dalam resital tersebut terinspirasi dari pengalaman pribadi yang kemudian dituangkan ke dalam karya musik ciptaannya.
“Setiap orang pasti pernah mencintai sesuatu, kehilangan sesuatu, belajar dari pengalaman itu. Pengalaman-pengalaman itulah yang saya terjemahkan ke dalam musik dan karya yang saya tulis sendiri,” ujar Sere disela-sela jelang pertunjukan di Balai Resital Kertanegara, Jumat (12/6) sore.
Bagi Sere,resital itu bukan sekadar pertunjukan musik, melainkan ruang refleksi atas berbagai pengalaman yang membentuk diri, perjalanan emosional tentang cinta, kehilangan, hingga proses menemukan makna dan pertumbuhan dari setiap pengalaman hidup.
“Bagi saya, musik jadi cara untuk memahami dan membagikan pengalaman hidup kepada orang lain. Selama kuliah, saya mendapat banyak kesempatan untuk mengembangkan karya tersebut sekaligus belajar menulis, bereksperimen, dan menemukan identitas artistik saya,” ujar Sere.
Penyanyi sekaligus penulis lagu muda ini pun mengaku sebagian besar karyanya lahir dari pengalaman sehari-hari. Mulai dari kisah cinta, persahabatan, keluarga, hingga pengalaman pribadi menjadi sumber inspirasi yang kemudian diterjemahkan menjadi musik.
“Aku buat tema itu everyday life. Lihat love story teman-teman, mungkin love story aku sendiri, keluarga, kerabat, dan cerita-cerita di sekitar kita,” ungkap Sere.
Selain aktif merilis karya, Sere juga terlibat sebagai pengisi vokal untuk soundtrack film Malam 3 Yasinan. Menurutnya, pengalaman tersebut memberikan kesempatan untuk memahami proses kerja di industri musik profesional.
“Terlibat dalam soundtrack film membuat saya melihat dunia musik dari perspektif yang berbeda. Saya merasakan langsung bagaimana sebuah karya lahir dalam lingkungan profesional dengan ekspektasi dan tanggung jawab yang nyata,” katanya.
Meski sejumlah lagunya terdengar romantis, Sere menegaskan bahwa tema cinta yang ia angkat tidak selalu berkaitan dengan hubungan asmara. Baginya, cinta juga bisa hadir dalam bentuk persahabatan, keluarga, hingga proses melepaskan sesuatu yang pernah sangat berarti dalam hidup.
Resital “To Love, To Lose, To Learn” menjadi medium bagi Sere untuk dapat menceritakan perjalanan emosional tersebut. Pada resital itu pun dibagi dalam lima babak, yakni Naive, Heartbreak, Reblooming, Becoming, dan Resilient, yang menggambarkan fase kehidupan manusia dari kepolosan hingga menjadi pribadi yang lebih kuat.
Dari seluruh rangkaian pertunjukan,gadis berdarah Batak ini mengaku babak Reblooming menjadi tantangan terbesar. Pada fase ini, ia harus menunjukkan proses penyembuhan dan penerimaan setelah melalui berbagai luka dan kehilangan.
“Di situ aku harus menunjukkan bahwa aku belajar. Aku menerima kesalahanku dan menerima kesalahan orang lain. Secara mental sulit, dan secara teknik vokal juga sangat menantang,” katanya.
Selain aktif berkarya lewat lagu-lagu seperti “Like I Always Do”, “Stupid For Loving U”, “8 8 18th”, “Buatku Berarti”, dan “Mungkin Tak Harus Terjawab”, Sere juga merasakan langsung atmosfer industri profesional saat dipercaya mengisi soundtrack film.
Menurutnya, pengalaman ini memberinya perspektif baru mengenai proses kreatif dan tanggung jawab dalam dunia musik profesional.
Menurut Irfas, pendekatan tersebut diterapkan melalui kurikulum Pearson BTEC yang coba menggabungkan pembelajaran akademik dengan pengalaman praktik industri. “Melalui model pembelajaran tersebut, mahasiswa didorong menghasilkan karya sekaligus memahami standar kerja profesional sejak dini,”ucapnya.
Director of Marketing and Student Experience USG Education, Niluh Komang Aimee Sukesna, menilai perjalanan Sere menunjukkan semakin banyak mahasiswa yang mulai membangun karier profesional selama kuliah.
Menurutnya, pendidikan tinggi saat ini tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pengembangan pengalaman dan kesiapan kerja di industri.
Alhasil perjalanan karir Sere yang dituangkan dalam resital ini menjadi gambaran bagaimana mahasiswa kini tak lagi harus menunggu kelulusan untuk membangun karier.Dengan dukungan pendidikan yang dekat dengan kebutuhan industri, karya dan pengalaman profesional bisa dibangun sejak masih duduk di bangku kuliah.











