Scroll untuk baca artikel
Finansial

Transaksi Agen BRILink Tembus Rp1.400 Triliun

32
×

Transaksi Agen BRILink Tembus Rp1.400 Triliun

Sebarkan artikel ini
Agen BRILink. (Foto: BRI)

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., yang dikenal sebagai BRI, mencatat prestasi gemilang dengan nilai transaksi agen BRILink yang mencapai Rp1.400 triliun setiap tahunnya.

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Sunarso, mengungkapkan hal ini dalam acara BRI Microfinance Outlook 2024 yang diadakan di Jakarta pada Kamis (7/3/2024).

Sunarso menjelaskan bahwa agen BRILink dibentuk sebagai bagian dari program Laku Pandai yang diinisiasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Baca Juga :   Catatkan Kinerja Positif, Pegadaian Cetak Laba Rp4,38 Triliun selama 2023

Sejak tahun 2019, ketika BRI mulai merumuskan konsep Laku Pandai yang paling efektif, jumlah penyelenggara BRILink terus meningkat hingga mencapai 741.000 agen, mengalami peningkatan lebih dari 100.000 agen baru dalam setahun terakhir.

“Dari nilai transaksi sebesar Rp1.400 triliun, setidaknya BRI memperoleh komisi sebesar Rp1,3 triliun, dan komisi yang diterima oleh agen BRILink setidaknya dua kali lipat dari komisi yang diterima oleh BRI,” ujar Sunarso.

Baca Juga :   Bank DBS Indonesia Raih Penghargaan Berskala Internasional untuk Pembiayaan Berkelanjutan

Ia menjelaskan bahwa agen BRILink diciptakan karena ada sebagian masyarakat dari kalangan bawah yang enggan untuk datang langsung ke kantor cabang.

“Ada masyarakat dari kalangan bawah yang enggan datang ke cabang, mereka lebih memilih untuk datang ke tetangga, misalnya warung. Warung tersebut menjadi semacam ‘cabang’ mereka, yaitu agen BRILink,” ungkap Sunarso.

Perlu diketahui, agen BRILink menerapkan konsep hybrid banking, di mana proses layanan perbankan secara internal telah didigitalisasi sementara interaksi dengan nasabah masih dilakukan secara personal melalui agen.

Baca Juga :   BCA Sekuritas: Saham Sektor Perbankan Menjanjikan pada 2024

Hal ini disebabkan oleh karakteristik masyarakat tertentu, di mana mereka sudah terbiasa menggunakan teknologi namun belum begitu familiar dengan produk perbankan. Selain itu, mereka juga menyadari pentingnya mengelola arus kas dengan lebih efisien.

Sunarso menambahkan bahwa hal ini mengakibatkan masyarakat, terutama pelaku usaha mikro, lebih memilih untuk melakukan transaksi perbankan dengan institusi keuangan yang ‘tertanam’ di lingkungan lokal mereka. (saf/infopublik.id)