BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) menegaskan posisinya sebagai katalisator pertumbuhan ekonomi nasional. Sepanjang 2025, BSI menyalurkan pembiayaan Rp318,84 triliun, meningkat 14,49% dibanding tahun sebelumnya, dengan fokus utama pada sektor pro-rakyat: UMKM, mikro, konsumer, pendidikan, kesehatan, ASN, dan BUMN. Segmen ini menyerap 90% dari total outstanding pembiayaan atau Rp285,70 triliun.
Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, menekankan bahwa pertumbuhan pembiayaan bukan sekadar angka, melainkan bagian dari strategi inklusi keuangan yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
“Penyaluran ke segmen ritel, UMKM, BUMN, ASN, serta komersial di bidang pendidikan dan kesehatan adalah wujud nyata kontribusi BSI terhadap akselerasi ekonomi nasional,” ujarnya dalam pemaparan kinerja di kantor pusat BSI.
Kualitas pembiayaan juga tetap terjaga. Rasio NPF gross tercatat 1,81% dan NPF nett 0,47%, menandakan manajemen risiko yang disiplin dan selektif sesuai profil nasabah dan segmen bisnis.
Dana Pihak Ketiga Tumbuh Signifikan, Aset Meningkat
Pertumbuhan tidak hanya pada sisi pembiayaan. Dana Pihak Ketiga (DPK) naik 16,20% YoY menjadi Rp380 triliun, dengan 61,62% berupa dana murah (CASA) atau Rp234 triliun.
Tabungan, sebagai mesin pertumbuhan utama, tumbuh 15,72% menjadi Rp162,63 triliun. Kenaikan DPK mendorong total aset BSI melesat 11,64% menjadi Rp456 triliun.
Direktur Finance & Strategy, Ade Cahyo Nugroho, menyoroti peran dual license BSI—sebagai bank syariah dan bullion bank—yang memperluas ekosistem layanan.
“Sosialisasi Tabungan Haji dan produk emas kami berhasil meningkatkan jumlah nasabah serta DPK secara signifikan. Jumlah rekening Tabungan Haji kini sudah lebih dari 6 juta, dan nasabah prioritas naik 17,30%,” jelas Ade.
Bullion Bank Dorong Ekspansi Nasabah
Sejak mendapatkan izin sebagai bullion bank, BSI berhasil menjaring sekitar 1 juta nasabah ekosistem emas, mencakup layanan Bullion Bank, Cicil Emas, dan Gadai Emas. Dampak ini terasa langsung pada perluasan customer base dan diversifikasi produk.
Dukungan Nyata Program Pemerintah
Selain inovasi produk, BSI mendukung program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), penyaluran KUR Rp12,2 triliun kepada 90 ribu nasabah, dan Program 3 Juta Rumah FLPP dengan Rp3,5 triliun untuk 23 ribu unit rumah.
Perseroan juga menyalurkan dana SAL sebesar Rp10 triliun sepenuhnya ke pembiayaan produktif.
Direktur Distribution & Sales, Anton Sukarna, menekankan pentingnya memperluas akses layanan. BSI kini melayani 23,1 juta nasabah, naik 2,03 juta dibanding tahun sebelumnya. “Perluasan akses melalui cabang baru, BSI Agen, dan digitalisasi transaksi memungkinkan kami menjangkau masyarakat hingga pelosok negeri,” jelas Anton.
Transformasi Digital dan Layanan Inklusif
BSI memiliki 1.049 kantor cabang, 6 ribu unit ATM/CRM, 126 ribu layanan BSI Agen, 21 ribu merchant EDC, dan 563 ribu merchant QRIS. Pengguna mobile banking BYOND mencapai 5,9 juta, sementara aplikasi BEWIZE digunakan oleh 43 ribu nasabah.
Kegiatan sosial juga menjadi prioritas. Sepanjang 2025, BSI menyalurkan zakat dan beasiswa bagi lebih dari 10 ribu siswa berprestasi, membina 4.900 UMKM, mengelola 77 Desa BSI, serta memberikan bantuan bencana khusus Aceh, termasuk huntara, logistik lebih dari 200 ton, posko kesehatan, dan dukungan restrukturisasi pembiayaan bagi nasabah terdampak.
Dengan kinerja solid dan strategi inklusi menyeluruh, BSI bukan hanya mencatat pertumbuhan angka, tetapi juga menata ulang peta perbankan Indonesia menuju ekosistem yang lebih inklusif dan berkelanjutan.











