Scroll untuk baca artikel
Teknologi

Menilik Web3 Sebagai Transformasi Industri Gaming Terbaru

14
×

Menilik Web3 Sebagai Transformasi Industri Gaming Terbaru

Sebarkan artikel ini
Webinar web3

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Membuka Mei, UniPin Community (UNITY) kembali menyelenggarakan webinar bulanan yang baru dan segar, dengan topik yang mencakup proyeksi dan tren web3 gaming terbaru. Webinar ini Webinar kali ini bertajuk “Blockchain & Ekosistem Game: Memahami Transformasi Industri Gaming Terbaru” dan dilakukan secara daring melalui telekonferensi ZOOM serta disiarkan langsung di kanal YouTube UniPin Gaming pada Jumat (3/5) lalu.

Dalam beberapa tahun terakhir, ekosistem gaming telah mengalami transformasi besar dengan munculnya teknologi blockchain. Sadar akan hal ini, UniPin selaku penyedia layanan digital terkemuka ingin memperluas komunitas ke web3 gaming serta menempatkan posisi di garis terdepan industri. Untuk tujuan ini pula, UniPin telah ber-partner dengan komunitas dan berbagai stakeholder web3 gaming, di antaranya W3GG dan Sekuya.

Gelaran webinar ini sekaligus menjadi wadah edukasi bagi para pelaku untuk melihat peluang pertumbuhan baru demi memastikan diri tetap relevan dan siap menghadapi masa depan; sebagai sebuah komitmen lainnya dari UniPin untuk mengedukasi komunitas dan memajukan industri. Membahas topik ini, hadir sebagai pembicara adalah Irene Umar selaku CEO & Co-founder W3GG dan Joshua Budiman selaku CEO & Co-founder Sekuya.

Baca Juga :   'Coyote', Kaspersky Perkenalkan Trojan Perbankan yang Targetkan lebih dari 60 Institusi

Sebagai gambaran, W3GG sendiri adalah sebuah guild gaming di Asia Tenggara yang aktif dalam membangun komunitas gim. W3GG berfokus pada kegiatan mereka menghubungkan dan mendukung para gamer serta mempromosikan budaya gaming di regional ini. Sementara itu, Sekuya adalah gim berbasis web3 dan blockchain asli Indonesia yang menitikberatkan pada kekuatan story dan komunitas. Kehadiran kedua narasumber dipandu oleh Debora Imanuella selaku SVP Esports & Community Global UniPin.

Membuka diskusi, Irene menjabarkan bahwa tiap pelaku yang berkecimpung punya preferensi masing-masing dalam banyak hal, salah satunya dalam pemilihan koin, sehingga disarankan untuk DYOR atau “do your own research”.

Baca Juga :   Studi Terbaru Kaspersky: Eksperimen Kejahatan Dunia Maya AI di Dark Web

“Di dalam kripto kita selalu bilang untuk DYOR, lakukan riset masing-masing. Jangan ikut-ikutan, karena FOMO itu sangat menyeramkan,” pungkas Irene.

Joshua selaku pemilik Sekuya, sebuah gim blockchain yang masih dalam tahap pengembangan, mengaku masih sering bermain gim web2 dan menjelaskan bahwa pada prinsipnya, permainan dan kesenangan adalah hal yang utama.

“Salah satu game yang masih sangat dimainkan adalah seperti Mobile Legends, itu kenapa kita buat game yang konsepnya battle arena. Aku juga masih main gim web2, sering main Scrabble sama keluarga. Pada dasarnya, aku dan tim tidak membedakan mana gim yang mau dimainkan, apakah web2 atau web3, sesederhana apakah gimnya seru untuk dimainkan,” ujar Joshua.

Selain insight terkait web3, Irene menambahkan pula bahwa di berbagai industri dan pasar, ada baiknya untuk mengetahui saat-saat harus menabung dan waktu-waktu terbaik untuk belanja.

Baca Juga :   Galaxy S23 Ultra 5G Hadirkan Gaming Package Buat Main Game Saat Ngabuburit

“Dari awal web3 booming, saya sudah bilang sama tim bahwa ini adalah bull market, jadi setelah dapat payout jangan lupa untuk ditabung. Namun, financial planning 101 memang tidak dilakukan oleh semua orang, jadi banyak yang saat mendapatkan income tambahan bukannya diinvestasikan tapi malah dibelanjakan,” ujar Irene.

Menutup diskusi, Debora menyimpulkan bahwa saat bermain gim, khususnya untuk web3 saat ini, selain memperhatikan keuntungan yang bisa diraih di dalamnya, adalah penting untuk pertama-tama mencintai gim itu terlebih dahulu.

“Kalau misalnya emang mau coba main, you’ve got to love the game first. Jangan lihat web3-nya, tetapi lihat dan cintai gimnya. Sama seperti bermain gim pada umumnya, jangan lihat koinnya, tokennya, tapi harus cintai dulu gimnya, filosofinya, jalan ceritanya, karakternya, dan keseluruhannya,” tutup Debora. (saf)