BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Kaspersky mengungkap peningkatan signifikan dalam kompleksitas dan volume ancaman siber di Indonesia, seiring dengan pertumbuhan bisnis perusahaan yang tetap positif secara global dan regional.
Berdasarkan data terbaru, sebanyak 14,9 juta serangan berbasis web dan 39,7 juta ancaman pada perangkat berhasil dideteksi dan diblokir di Indonesia sepanjang tahun lalu. Selain itu, sekitar 20% perusahaan di Indonesia dilaporkan mengalami serangan rantai pasokan.
Pertumbuhan Bisnis Global dan Regional
Kaspersky mencatat pertumbuhan penjualan global sebesar 4% year-on-year (YoY) dengan nilai mendekati USD 836 juta pada 2025. Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh peningkatan 16% YoY di segmen B2B.
Di kawasan Asia Pasifik, kinerja perusahaan juga sejalan dengan pertumbuhan global, dengan kenaikan 4% YoY. Segmen B2B tumbuh 12% YoY, sementara segmen enterprise mencatat peningkatan 22% YoY.
Managing Director Asia Pasifik Kaspersky, Adrian Hia, menilai kawasan ini menjadi kunci dalam ekspansi perusahaan.
“Asia Pasifik memimpin dalam transformasi digital, penggunaan AI, dan adopsi cloud. Hal ini menempatkan Kaspersky pada posisi strategis untuk mengamankan ekspansi digital di kawasan,” ujarnya.
Kinerja Positif di Indonesia
Indonesia sebagai salah satu pasar prioritas juga mencatat pertumbuhan penjualan sebesar 3% YoY. Segmen B2C menunjukkan performa kuat dengan kenaikan 48% YoY.
Kaspersky juga memperkuat kehadirannya dengan menunjuk Defi Nofitra sebagai Country Manager pertama di Indonesia.
“Tahun 2025 menjadi awal yang baik bagi tim kami di Indonesia. Dengan meningkatnya kesadaran keamanan siber, kami optimistis terhadap pertumbuhan ke depan,” kata Defi.
SOC Jadi Strategi Utama
Meningkatnya ancaman siber—termasuk Advanced Persistent Threats (APT), serangan berbasis AI, dan eksploitasi perangkat seluler—mendorong organisasi beralih dari pendekatan reaktif ke strategi proaktif melalui Security Operations Center (SOC).
SOC merupakan unit khusus yang bertugas memantau, mendeteksi, menganalisis, dan merespons ancaman siber secara berkelanjutan.
Riset Kaspersky menunjukkan:
- 58% pemimpin TI di Indonesia percaya SOC meningkatkan keamanan
- 65% perusahaan berencana mengintegrasikan AI dalam SOC
- 53% menyebut peningkatan deteksi ancaman sebagai alasan utama
Namun, implementasi SOC masih menghadapi tantangan:
- 47% kekurangan data pelatihan berkualitas
- 37% kekurangan tenaga ahli AI
- 29% keterbatasan solusi di pasar
Menurut Defi, SOC terintegrasi menjadi kebutuhan mendesak.
“Organisasi tidak bisa lagi mengandalkan sistem keamanan terfragmentasi. SOC terintegrasi dengan SIEM dan intelijen ancaman real-time sangat penting untuk deteksi dini dan respons cepat,” ujarnya.
Dorong SOC Berbasis AI
Sebagai respons, Kaspersky menghadirkan SOC generasi terbaru yang terintegrasi dengan kecerdasan buatan (AI), serta didukung sistem Security Information and Event Management (SIEM) dan intelijen ancaman real-time.
Solusi ini memungkinkan:
- Deteksi ancaman lebih cepat
- Respons insiden lebih efisien
- Peningkatan visibilitas sistem TI
- Penurunan waktu deteksi (MTTD) dan respons (MTTR)
Rekomendasi untuk Perusahaan
Kaspersky memberikan sejumlah rekomendasi bagi organisasi yang ingin membangun SOC:
- Melakukan pelatihan rutin keamanan siber, termasuk sistem industri (ICS/SCADA)
- Menjalankan audit keamanan secara berkala
- Memanfaatkan layanan konsultasi SOC
- Mengadopsi solusi SIEM berbasis AI
- Menggunakan perlindungan endpoint dan XDR secara terintegrasi











