BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA — PT Bank DBS Indonesia mencatat pertumbuhan signifikan pada bisnis pengelolaan kekayaan melalui layanan DBS Treasures. Hingga Mei 2026, laba bersih atau net profit after tax (NPAT) segmen tersebut melonjak 289% secara tahunan (year on year/YoY), melampaui target anggaran sebesar 157%.
Kinerja tersebut ditopang oleh peningkatan jumlah nasabah baru sebesar 73% secara tahunan serta pertumbuhan jumlah nasabah dengan portofolio di atas Rp1 miliar yang naik 8%. Sementara itu, pendapatan per nasabah meningkat 15% dengan tingkat kepuasan nasabah mencapai 4,5 dari skala 5.
Consumer Banking Director PT Bank DBS Indonesia Melfrida Gultom mengatakan perubahan perilaku nasabah affluent di tengah ketidakpastian geopolitik dan volatilitas pasar global mendorong perseroan mengedepankan pendekatan wealth management berbasis advisory.
“Strategi kami berfokus pada insight yang objektif, komprehensif, berorientasi pada peluang, dan relevan dengan kebutuhan masing-masing nasabah melalui pendekatan yang personal,” ujar Melfrida dalam keterangan resmi, Kamis (18/6/2026).
Sepanjang tahun berjalan hingga Mei 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat terkoreksi hampir 30%, diiringi arus keluar modal asing sekitar Rp41,16 triliun. Kondisi tersebut dipengaruhi ketidakpastian global, dinamika suku bunga, serta persaingan industri perbankan yang semakin ketat.
Meski demikian, Bank DBS Indonesia tetap mencatat pertumbuhan positif yang ditopang oleh rekomendasi investasi berbasis analisis Chief Investment Office (CIO) DBS dan teknologi kecerdasan artifisial (AI) serta machine learning untuk menghadirkan strategi investasi yang lebih personal.
Atas kinerja tersebut, Bank DBS Indonesia meraih penghargaan Best Private Bank 2026 dari FinanceAsia. Sementara Chief Investment Office DBS juga dinobatkan sebagai Best CIO in Asia oleh The Asset Triple A.
Head of Investment & Insurance Product PT Bank DBS Indonesia Djoko Soelistyo mengatakan volatilitas pasar diperkirakan masih tinggi pada paruh kedua 2026. Namun, peluang investasi jangka panjang tetap terbuka melalui strategi diversifikasi portofolio.
“CIO Office DBS mengedepankan pendekatan conviction-led dengan fokus pada strategi investasi yang jelas dan dapat ditindaklanjuti,” katanya.
Salah satu rekomendasi utama yang dipertahankan ialah posisi overweight pada emas sebagai instrumen defensif. Langkah tersebut didukung peningkatan permintaan investasi emas global yang melonjak 74% secara tahunan pada kuartal I/2026. Di Indonesia, permintaan emas batangan juga meningkat 47%.
Untuk mendukung kebutuhan investasi nasabah, Bank DBS Indonesia menghadirkan akses ke pasar emas global melalui Kontrak Pengelolaan Dana (KPD) dengan nilai investasi minimum Rp5 miliar. Perseroan juga meluncurkan 16 produk investasi baru guna memperkuat diversifikasi portofolio.
Di sisi layanan, Bank DBS Indonesia mengintegrasikan analisis investasi regional dengan teknologi AI dan machine learning untuk memberikan rekomendasi yang dipersonalisasi. Informasi investasi disampaikan melalui WhatsApp dan surat elektronik, kemudian dibahas bersama Relationship Manager sebelum dieksekusi melalui aplikasi digibank by DBS.
Head of Consumer Banking Segment & Liabilities Product PT Bank DBS Indonesia Natalina Syabana mengatakan pendekatan tersebut diwujudkan melalui kampanye “Mitra Tepercaya untuk Setiap Tujuan Anda” yang mengedepankan layanan wealth management berbasis insight dan konsultasi yang sangat personal.
Selain itu, program DBS Expert Connection dan DBS NextGen Excursion turut disiapkan untuk mendukung pengembangan bisnis dan regenerasi kekayaan keluarga, termasuk melalui pembahasan mengenai kecerdasan artifisial, aset digital, hingga praktik bisnis berkelanjutan.
Ke depan, Bank DBS Indonesia menargetkan pertumbuhan aset jangka panjang dengan mengedepankan strategi investasi yang dipersonalisasi dan solusi yang relevan untuk membantu nasabah menghadapi dinamika ekonomi global.











