Scroll untuk baca artikel
Finansial

Bank DBS Indonesia Dukung Akselerasi Pertumbuhan Sektor Otomotif di Indonesia

13
×

Bank DBS Indonesia Dukung Akselerasi Pertumbuhan Sektor Otomotif di Indonesia

Sebarkan artikel ini
Bank DBS bersama lima bank lainnya menandatangani perjanjian fasilitas pinjaman sindikasi (Syndicated Loan Agreement) senilai USD300 juta atau sekitar Rp4,7 triliun untuk PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance).

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2023, tercatat penjualan kendaraan mobil nasional sebanyak 998.059 unit. Menariknya, proyeksi pendapatan di pasar mobil penumpang Indonesia untuk tahun 2024, seperti yang dilaporkan oleh Statista, diperkirakan akan mencapai US$16,8 miliar. Pendapatan ini diproyeksikan akan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan (CAGR 2024-2028) sebesar 1,28%, memunculkan volume pasar diperkirakan mencapai US$17,7 miliar pada tahun 2028.

Di sisi lain, transisi menuju kendaraan listrik (EV) yang lebih ramah lingkungan menunjukkan potensi yang menjanjikan. Pemerintah telah menetapkan target memiliki setidaknya 2,2 juta mobil listrik dan 13 juta motor listrik pada tahun 2030, dengan rencana untuk menjual kendaraan listrik secara eksklusif pada tahun 2050. Untuk mencapai tujuan ini, pemerintah memberikan insentif dan mengatur instalasi stasiun pengisian daya. Seiring dengan hal ini, laporan dari DBS CIO Insights pada kuartal pertama 2024 memperkirakan akan terjadi lonjakan permintaan akan infrastruktur produsen baterai kendaraan dan SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) karena peningkatan penggunaan EV. Tak hanya itu, sejumlah bisnis swasta, termasuk operator jaringan pengisian daya, perusahaan utilitas, dan produsen mobil, juga mulai memperluas infrastruktur ini.

“Bank DBS Indonesia terus mengukuhkan komitmennya dalam mendukung sektor otomotif di Indonesia melalui kolaborasi strategis. Sejalan dengan panduan dekarbonisasi Bank DBS yang berjudul Our Path to Net Zero—Supporting Asia’s Transition to a Low-Carbon Economy, sektor otomotif adalah salah satu dari sembilan sektor industri yang memiliki potensi besar untuk bertransisi. Ini mendorong semangat kami untuk menjalin kerja sama strategis dan memberikan pembiayaan kepada perusahaan otomotif guna mempercepat pembangunan ekosistem kendaraan listrik untuk transisi energi berkelanjutan di Indonesia,” kata Kunardy Lie, Head of Institute Banking Group, PT Bank DBS Indonesia.

Baca Juga :   CGS International Umumkan Pemenang Kompetisi Investasi Regional yang Diikuti Mahasiswa

Baru-baru ini, Bank DBS bersama lima bank lainnya menandatangani perjanjian fasilitas pinjaman sindikasi (Syndicated Loan Agreement) senilai USD300 juta atau sekitar Rp4,7 triliun untuk PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance). Dalam pembiayaan dengan jangka waktu tiga tahun ini, Bank DBS berperan sebagai Mandated Lead Arrangers Bookrunners (MLAB).

Niko Kurniawan, Direktur Penjualan, Pelayanan, dan Distribusi Adira Finance, menjelaskan, “Pendanaan ini bertujuan untuk mendukung pertumbuhan aset perusahaan, mengembangkan digitalisasi di dalam perusahaan, serta memperluas ekosistem digital kami. Dengan dukungan dari Bank DBS dan mitra sindikasi lainnya, Adira Finance berkomitmen untuk terus memimpin industri pembiayaan dengan meningkatkan layanan dan tetap menjadi mitra yang dapat diandalkan bagi masyarakat.”

Sebelumnya, Bank DBS Indonesia juga telah menyuntikkan pendanaan ke beberapa pelaku industri otomotif, termasuk untuk PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (Indomobil) sebesar USD16 juta atau sekitar Rp244 miliar pada tahun 2023. Pendanaan ini digunakan untuk pembelian unit dan komponen kendaraan listrik (BEV) guna mendukung peralihan bisnis ke praktik yang lebih ramah lingkungan, sesuai dengan target emisi nol bersih pada tahun 2050.

Baca Juga :   Rencana Rilis PlayStation 6 Berpotensi Terungkap, Berkat Microsoft

Semua upaya ini dilakukan dalam rangka mendukung visi keberlanjutan DBS Group untuk mencapai emisi nol bersih pada tahun 2050. Pada tahun 2022, DBS Group menerbitkan panduan terkait sembilan sektor industri utama, termasuk sektor aviasi, properti, kimia, pangan dan pertanian, minyak dan gas, energi, baja, pelayaran, dan otomotif. Kesembilan sektor ini dipilih karena mewakili 31% dari total portofolio kredit yang menyumbang lebih dari 90% emisi karbon. Melalui fokus pada kesembilan sektor ini, DBS Group berkomitmen untuk menjadi penasihat bagi nasabah korporat dalam proses transisi menuju energi terbarukan.(saf)