BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA — Ketidakpastian geopolitik, fragmentasi perdagangan global, dan pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menjadi faktor yang semakin menentukan arah ekonomi dan investasi. Di tengah perubahan tersebut, Indonesia dituntut memperkuat ketahanan ekonomi, menjaga kredibilitas di mata investor global, serta memanfaatkan peluang dari pergeseran rantai pasok dan perkembangan teknologi.
Sejumlah faktor tersebut menjadi sorotan dalam kelas Navigating Indonesia’s Next Chapter pada rangkaian Wealth Wisdom 2026 yang diselenggarakan Permata Bank di Jakarta, 22 Oktober 2026.
Memasuki tahun ke-12, Wealth Wisdom mengusung tema Finding Balance, Building Resilience dengan semangat Growing Together Through Changes. Forum ini menghadirkan perspektif mengenai geopolitik, prospek ekonomi domestik, dan dinamika pasar Asia sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan finansial dan investasi jangka panjang.
Kredibilitas Diplomasi Jadi Modal Indonesia
Founder & Chairman Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal menilai perubahan tatanan global membuka peluang bagi Indonesia untuk memperluas hubungan diplomatik dan kerja sama internasional. Namun, peluang tersebut perlu diimbangi dengan konsistensi kebijakan luar negeri dan kemampuan menjaga kepercayaan mitra strategis.
Menurut Dino, ASEAN tetap menjadi pijakan penting bagi Indonesia untuk mempertahankan relevansi di tengah persaingan kekuatan global. Kerja sama regional dapat memperkuat posisi tawar Indonesia sekaligus membantu negara-negara di kawasan menjaga kepentingan bersama.
“Bagi Indonesia, ASEAN adalah pijakan yang tidak bisa ditawar. Ketika kita membawa nama Indonesia sekaligus ASEAN, kredibilitas dan relevansi kita menjadi semakin kuat. Di tengah dinamika global yang tidak selalu dapat kita kendalikan, hubungan erat dengan negara-negara ASEAN menjadi kekuatan penting untuk saling mendukung dan menjaga kepentingan bersama,” ujar Dino.
Kredibilitas diplomasi dan konsistensi hubungan internasional juga berkaitan dengan prospek ekonomi. Kepercayaan terhadap arah kebijakan dan stabilitas hubungan antarnegara menjadi bagian dari pertimbangan dalam membangun kerja sama ekonomi serta menarik investasi jangka panjang.
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diproyeksi 5,2%–5,3%
Dari sisi ekonomi, Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menyoroti sejumlah risiko eksternal yang perlu dicermati, mulai dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah, perlambatan ekonomi China, fragmentasi perdagangan global, hingga persaingan teknologi Amerika Serikat dan China.
Dinamika tersebut dapat memengaruhi Indonesia melalui perubahan harga energi, pergerakan pasar keuangan, suku bunga global, serta arus perdagangan internasional. Kondisi ini membuat efektivitas kebijakan fiskal dan moneter, optimalisasi belanja pemerintah, serta peningkatan produktivitas menjadi faktor penting dalam menjaga momentum pertumbuhan.
Meski menghadapi tekanan eksternal, Josua memproyeksikan ekonomi Indonesia tetap tumbuh relatif resilien pada 2026–2027, yakni di kisaran 5,2%–5,3%.
“Kami memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026–2027 tetap relatif resilien, di kisaran 5,2%–5,3%. Ini menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki potensi pertumbuhan yang cukup kuat meskipun kondisi global belum sepenuhnya kondusif,” ujarnya.
Menurut Josua, prospek pertumbuhan tersebut perlu ditopang oleh peningkatan investasi produktif, implementasi kebijakan yang efektif, dan reformasi struktural. Penguatan faktor-faktor tersebut diperlukan agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya bertahan menghadapi tekanan global, tetapi juga mampu menciptakan sumber pertumbuhan yang berkelanjutan.
Bagi pelaku usaha dan investor, kondisi ini menuntut perencanaan yang lebih terukur, disiplin dalam mengelola risiko, serta pemilihan peluang berdasarkan fundamental dan prospek jangka panjang.
“Peluang tetap terbuka bagi pelaku usaha dan investor yang memiliki perencanaan matang, menerapkan pengelolaan risiko secara disiplin, dan berorientasi jangka panjang. Penguatan fondasi ekonomi dan kualitas investasi menjadi penting agar Indonesia dapat memanfaatkan peluang pertumbuhan yang tersedia,” tambah Josua.
AI dan Pusat Data Jadi Perhatian Investor
Sementara itu, Head of Investments Eastspring Al-Wara’ Investments Lai Eu-Roy menyoroti perubahan pasar modal Asia seiring perkembangan teknologi dan pergeseran rantai pasok global.
Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah konsultasi MSCI mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar Indonesia. Perkembangan tersebut kembali menempatkan transparansi, tata kelola, dan kepercayaan investor sebagai aspek penting dalam meningkatkan daya saing pasar modal domestik.
Di sisi lain, pertumbuhan industri AI membuka peluang investasi baru, terutama pada sektor manufaktur teknologi, infrastruktur digital, dan pusat data. Perkembangan tersebut juga berpotensi mengubah pola perdagangan dan distribusi investasi di kawasan Asia.
Lai menilai keterkaitan suatu negara dengan rantai pasok teknologi global dapat memengaruhi prospek investasinya. Korea Selatan dan Thailand, misalnya, memiliki hubungan dengan rantai pasok AI melalui sektor manufaktur, sedangkan pengembangan pusat data di Indonesia menjadi salah satu area yang perlu dicermati investor.
“Perkembangan perdagangan global di sektor AI akan menjadi salah satu faktor penting bagi pasar Asia. Negara seperti Korea Selatan dan Thailand memiliki keterkaitan yang kuat dengan rantai pasok AI melalui sektor manufakturnya. Sementara itu, pengembangan pusat data di Indonesia juga menjadi salah satu area yang perlu dicermati dalam melihat bagaimana perkembangan teknologi membentuk lanskap ekonomi global,” ujar Lai.
Menurutnya, keputusan investasi perlu mempertimbangkan lebih dari sekadar kondisi ekonomi domestik. Investor juga perlu memahami posisi suatu negara dalam rantai pasok global, arah perkembangan industri, serta risiko pasar yang dapat memengaruhi kinerja aset.
Dengan demikian, AI tidak hanya menjadi isu teknologi, tetapi juga faktor yang berpotensi memengaruhi alokasi modal, kebutuhan infrastruktur, dan daya saing ekonomi negara-negara di kawasan.
Strategi Investasi Perlu Memperhitungkan Risiko Global
Diskusi dalam Wealth Wisdom 2026 menegaskan bahwa perubahan geopolitik, prospek ekonomi, dan perkembangan teknologi saling berkaitan dalam membentuk lanskap investasi. Ketahanan ekonomi membutuhkan kebijakan yang efektif, sedangkan daya saing Indonesia juga dipengaruhi oleh kredibilitas diplomasi, kualitas investasi, dan kemampuan memanfaatkan perubahan rantai pasok global.
Melalui Wealth Wisdom 2026, Permata Bank menghadirkan ruang edukasi dan pertukaran perspektif bagi nasabah untuk memahami perkembangan ekonomi serta investasi secara lebih menyeluruh.
Sejalan dengan tema Finding Balance, Building Resilience, forum ini menekankan pentingnya menyeimbangkan peluang pertumbuhan kekayaan dengan kesiapan menghadapi risiko. Dalam lingkungan ekonomi yang terus berubah, pemahaman terhadap fundamental, diversifikasi, dan horizon investasi menjadi bagian dari pertimbangan dalam menyusun strategi keuangan jangka panjang.











